Sesuai permintaan Tamara, mereka berjalan-jalan di area pekarangan rumah yang luas. Tidak, lebih tepatnya Noah yang berjalan.Sebab, sejak mereka keluar Tamara tak turun dari pangkuan suaminya. Dia menempel layaknya anak koala yang tidak ingin ditinggalkan induknya.Membelai garis wajah tegas suaminya, sesekali dia mencium bibir suaminya. " Sayang, kenapa tidak setiap hari seperti ini? " tanya Noah.Dia tidak keberatan sama sekali, justru ingin Tamara selalu seperti ini. " Malas, wajahmu kadang menjengkelkan. " ucap jujur Tamara.Noah mengerucutkan bibirnya tidak terima, bisa-bisanya istrinya ini menyebutnya menjengkelkan. Ekspresi Noah seketika mengundang tawa Tamara, wajah suaminya terlihat begitu menggemaskan." Sayang, lepas bajumu. " Jari-jari lentik Tamara mulai menarik kaos polos yang dikenakan Noah, kening pria itu mengeryit dengan permintaan aneh istrinya. Dia senang istrinya memanggil dengan panggilan sayang, tapi saat panggilan itu dilontarkan permintaan aneh juga keluar.
続きを読む