Tamara bangun lebih awal, suara hujan diluar sudah mereda. Semilir angin pagi yang sejuk masuk melalui celah-celah kecil, dia mendongak dan baru menyadari tertidur dibalik selimut yang sama dengan Noah.Langit memang masih menunjukkan warna biru keunguan, tapi Tamara segera bangun. Tanpa dia ketahui, Noah sudah bangun lebih awal.Senyum mengembang diwajah pria manis itu, tapi tak berlangsung lama dia merasakan rasa mual yang kembali mendera. " Hoekkk! Hoekkk! "Dia berlari keluar dan muntah, padahal tidak ada yang dimuntahkannya. Tamara yang ada di dapur mendengar suara Noah, dia berlari menghampiri dan mendapati pria itu sudah terkulai lemas. " Kau kenapa? "Hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, Noah kembali duduk di atas karpet tipis dan menyandarkan punggungnya pada kaki meja. " Kau demam? " tanya Tamara, tangannya meraba kening Noah. Tapi, suhu tubuhnya normal.Grep!Dalam satu tarikan, Noah menarik tubuh Tamara ke pelukannya. Posisi ini terlalu sensitif, dimana Noah duduk
Read more