LOGIN“ Kau lihat dia. Apakah kau ingin bernasib sama sepertinya? “ Tamara Monroe, gadis berusia 22 tahun itu tidak menyangka akan menyaksikan penyiksaan yang begitu kejam dan brutal. Bertahun-tahun Tamara mengagumi Noah, namun genangan darah dan rintihan sakit malam itu menghancurkan fantasi Tamara dalam sekejap. Dihadapannya, Noah dengan tenang menyesap wiski setelah melakukan penyiksaan. Akan tetapi, alih-alih membunuhnya Noah memberikan tawaran yang lebih mengerikan daripada kematian. Terperangkap dalam pernikahan dengan seorang sosiopat yang dicintai publik. Bagaimana hidup Tamara selanjutnya? Apakah dia akan menjadi satu-satunya yang dicintai Noah, atau berakhir sama seperti wanita lainnya! Yuk, ikuti ceritanya. IG Author : Sunny_Dhemiree
View More“ Dimana aku? Astaga, apakah aku tersesat? “
Tamara Monroe, seorang mahasiswi kedokteran semester akhir. Gadis berusia 22 tahun itu sedang berada di sebuah mansion mewah yang mengadakan pesta privat. Dia bekerja paruh waktu sebagai pelayan untuk menambah biaya pendidikannya. Sial, malam ini Tamara tersesat di mansion yang penuh dengan lorong gelap. Lampu temaran, dan hiasan yang sama membuat Tamara bingung kemana dirinya harus melangkah. Cetassss! “ Suara apa itu? “ Jantung Tamara berdegup dua kali lebih cepat, membuat langkahnya melambat. Suara nyaring terdengar jelas di tengah keheningan malam. Tanpa sengaja, pandangan Tamara tertuju pada sebuah pintu besar yang setengah terbuka. Dia melihat dengan jelas seseorang yang tengah memegang cambuk berlumuran darah, sementara satu orang lainnya meringkuk tak berdaya. Pyarrr! Tamara mundur ketakutan, membuat nampan perak dalam genggamannya terjatuh begitu saja. Deting logam itu membuat kehadirannya di ketahui. Mereka menyadari keberadaan Tamara, dan tentu takkan melepaskan gadis itu. “ Kejar dia! “ pekik seseorang tersebut. Beberapa pria berpakaian hitam keluar dari ruangan tersebut. Tak tinggal diam, Tamara segera berlari sekuat tenaga. “ Tuhan, tolong aku! “ gumam Tamara yang ketakutan. Napasnya tersengal-sengal, berpacu dengan detak jantung yang tak menentu. Langkah semakin dipercepat, tapi kaki Tamara tak kuat lagi untuk melangkah. Brukh! Tamara terjatuh, dia merintih kesakitan. Kakinya terkilir, membuatnya tidak dapat berdiri. Sementara orang-orang yang mengejarnya terdengar semakin dekat, keringat dingin mengucur dari pelipisnya. “ Kumohon, jangan temukan aku. “ Tamara meringkuk di sudut lorong, di belakang guci besar. Dia berharap orang-orang itu segera pergi. Perlahan, suara langkah kaki yang terdengar ramai mulai menghilang. Tamara mengira mereka semua sudah berhenti mengejarnya. Dia mendongak, untuk memastikan. “ Huhhhhhhh! Menungguku? “ Kepulan asap diikuti senyum mengerikan dengan wajah penuh darah itu sukses membuat Tamara semakin terpojok. “ Aku tidak melihat apapun! Kumohon, lepaskan aku. “ pinta Tamara dengan wajah tertunduk. Bibir nya bergetar, bahkan sekujur tubuhnya ikut bergetar ketakutan. Tangan besar dan dingin itu meraba ke arah leher Tamara, perlahan mencengkram nya dengan erat. “ Aku akan melakukan apapun, asal kau melepaskan ku. Kumohon! “ rintih Tamara. Pasokan oksigen yang masuk ke paru-parunya semakin menipis, rasa sakit di lehernya semakin kuat. Semakin Tamara memohon, semakin kuat pula cekalan di lehernya. “ Melakukan apapun? “ Mendengar ucapan Tamara, perlahan pria itu melonggarkan cekalan di lehernya. “ Biarkan aku pergi, kumohon. “ batin Tamara yang ketakutan. Pria tersebut bangun dari posisinya, di bawah lampu yang temaran Tamara bisa merasakan aura membunuh yang begitu kuat. “ Bawa dia! “ Perintahnya yang terdengar mutlak langsung diikuti oleh orang-orang berpakaian hitam yang bersamanya. “ Baik, Tuan. “ Tubuh Tamara di angkat oleh dua orang bertubuh besar dan kekar, mereka bahkan menyeretnya dengan kejam. Membawa gadis malang itu ke ruangan sebelumnya, ruangan dimana penyiksaan mengerikan terjadi. Bau amis darah, lantai yang licin juga ruangan yang pengap membuat sekujur tubuh Tamara merinding ketakutan. Rintihan kesakitan masih terdengar. Lampu di nyalakan, Tamara bisa melihat jelas keadaan sekelilingnya. Dia sudah terbiasa dengan darah, namun tidak dengan penyiksaan. Rantai, cambuk, pisau semua benda tersebut berlumuran darah. Bahkan, sofa yang dia duduki penuh dengan bercak darah. “ Tamara Monroe, siapa sangka kita akan bertemu dalam keadaan seperti ini. “ suara bariton pria tadi benar-benar membuat Tamara tak dapat berkutik. Tamara menundukkan kepalanya, tak berani untuk mengangkat wajahnya sedikitpun. “ Aku akan melepaskanmu. Tapi, dengan satu syarat. “ sudut bibirnya terangkat, menampilkan senyum licik yang mematikan. “ Apapun itu akan kulakukan, asal kau melepaskan ku!” gugup Tamara. Gadis itu masih menundukkan pandangannya. “ Menikahlah denganku! “ Kalimat itu terasa menggema memenuhi isi kepala Tamara, seketika dia mendongak menatap ke arah pria yang tengah duduk di hadapannya. Pandangan penuh mengintimidasi dengan aura membunuh yang kuat akhirnya bertemu dengan pandangan yang penuh ketakutan. “ Menikah? “ ulang Tamara. Tamara semakin dibuat terkejut menyadari siapa pria di hadapannya. “ Noah? “ gumam pelan Tamara. Dia begitu tak menyangka sampai tak bisa mengucapkan sepatah kata apapun, dunianya terasa semakin hancur saat tahu siapa pria dihadapannya. Penyesalan terbesar bagi Tamara, mengapa mereka harus bertemu di saat seperti ini? “ Sepertinya kau mengenalku? " Tatapan Tamara mulai sayu, pelupuk matanya terasa berembun dan perlahan air mata itu menetes dengan sendirinya. Rasa sesak di dadanya, mengalahkan rasa takut yang sebelumnya mendera. Bertahun-tahun Tamara mengagumi Noah sebagai sosok yang sempurna, namun kejadian malam ini seketika mengubah segalanya. Tamara bergumam lirih. “ Kenapa harus kau? “Bugh! Bugh! Bugh!Suara pukulan yang dilayangkan terdengar menggema, Noah sendirian melawan lima orang dihadapannya.Awalnya Noah memang tidak peduli, namun melihat siapa yang berada di dalam sana langsung membuat amarahnya meledak seketika. “ Siapa yang berani menyentuh milikku, hagh! “ pekik Noah penuh amarah.Dalam sekejap mata orang-orang itu di buat terkapar tak berdaya. Kaki panjang Noah menginjak leher salah satu dari mereka.“ Tuan, tuan Delamo takkan melepaskan mu! “ serunya dengan suara terbata-bata.Noah tertawa meremehkan, dia kira siapa yang dengan berani menyentuh miliknya. Bahkan itu satu malam sebelum gadis itu menjadi istrinya.“ Katakan pada tuan mu, jangan pernah mengusik milikku! “ tegas Noah.Mereka segera lari ketakutan, untuk menyampaikan pesan Noah pada Delamo.Noah mengusap rambutnya kebelakang dengan kasar, napas pria itu masih terengah-engah tak beraturan. Dia melihat keadaan Tamara yang begitu berantakan.Sudut bibir berdarah, wajah memerah dengan kedua lu
“ Terima kasih atas kerjasamanya, Tuan. “Di bar yang sama dengan ruangan berbeda tepatnya area VIP, Noah baru saja menyelesaikan urusan bisnisnya dengan salah satu rekan.Setelah selesai, pria itu keluar berganti dengan Mack yang masuk untuk menghampiri tuannya. “ Tuan, Nona Evelyn berada di sekitar sini. “ ucap Mack melaporkan.Noah mematikan puntung rokok di tangannya, dia berdecak sebal seraya bangun dari duduknya. “ Merepotkan! “Dia mengulurkan tangannya, meminta kunci mobil yang di pegang Mack. “ Aku akan mengemudi sendiri. Kau, kembali lah lebih dulu. “ Mack mengangguk paham, memberikan kunci mobil yang dipegangnya. “ Baik, Tuan. “Keluar ruangan, Noah tak langsung pergi. Menyalakan kembali rokok lain, menyesapnya merasakan ketenangan ditengah kebisingan bar. Asap mengepul di sekitar Noah, seolah menjadi tanda bebannya yang ikut mengudara.Tangan besarnya dengan lihai mengotak-atik ponsel, menekan tombol panggilan untuk menelpon Evelyn yang tak lain adiknya sendiri.Sementar
“ Tamara, perkenalkan ini Tuan Delamo. “ seru Edrick yang memperkenalkan putrinya.Di depan mereka duduk seorang pria yang kiranya seusia dengan Edrick. Dia adalah Delamo, seorang pebisnis kotor yang selalu menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.Pria tua licik dengan tampang yang cukup menyeramkan bagi Tamara. Kepala plontos dengan kumis tebal, juga aksesoris yang melekat di tubuhnya.Delamo mengusap tangan Tamara, merasakan betapa lembutnya tangan gadis dihadapannya. Segera Tamara menarik kembali tangannya.“ Dia putriku tuan. “ sambung Edrick.Delamo nampak mengangguk-anggukkan kepalanya, tersenyum puas dengan tatapan penuh nafsu. “ Ayah, sepertinya aku harus ke toilet dulu. “ bisik Tamara.Tamara bangun dari duduknya, hendak pergi meninggalkan tempat itu. Dia mulai merasa tidak aman berada di sana.Tanpa aba-aba, tiba-tiba saja Delamo menarik tangan Tamara dan membuat gadis itu jatuh ke pangkuannya.Plak!Tamparan itu langsung mendarat di wajah mengkilap Delamo, Tamara
“ Siapa tadi, kau mengenalnya? “ tanya Luci penasaran saat Tamara kembali masuk.Tamara menghela napas panjang, yang sebenarnya dia pikirkan bagaimana Sebastian nanti jika tak ada dirinya di rumah.Remaja itu terlalu lemah jika harus terus berdebat dengan Nella dan Olivia terus. Satu-satunya cara yaitu dengan kembali ke keluarga Blunt. Tidak mungkin dia harus membawa Sebastian ke keluarga Petherson.“ Dia bibiku. “ jawab Tamara.Luci terlihat mengangguk-anggukkan kepalanya. “ Luci, jika aku menitipkan Sebastian di rumah mu apa kau keberatan? “ tanya Tamara tiba-tiba.Kening Luci berkerut dengan alis saling bertaut. “ Kenapa dengan adikmu? “ tanya balik Luci yang heran.“ Memangnya kau mau kemana sampai harus menitipkan Sebastian? “ cecar Luci yang mulai curiga dengan Tamara.Tamara hanya diam menunduk, dirinya benar-benar bingung harus berbuat apa. Beruntung kedai cukup sepi, membuat mereka dapat mengobrol dengan bebas.“ Tamara dengarkan aku. Sebastian sudah dewasa, kau jangan terla
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.