Fandi tak henti-hentinya berdoa sambil menggenggam tangan Rima. Ia berharap, istrinya bisa segera pulih.“Aku mohon, Rima. Pulihlah demi aku,” Fandi mengusap air matanya.Tangan Rima bergerak, matanya mulai terbuka perlahan.“Anakku! Dimana anakku?” tanya Rima dengan wajah gelisah.“Sayang, tenanglah! Ada aku di sini,” Fandi memeluk Rima.“Mas, anak kita di mana?” tanya Rima.“Aku harus jawab apa? Rima belum bisa menerima kepergian anak kami.”“Anak kita masih di ruang perawatan intensive, sayang. Kondisinya belum stabil,” Fandi mengusap lembut pelupuk kepala Rima.“Anak kita masih hidup ‘kan, Mas? Aku bermimpi dia meninggal setelah dilahirkan,” ucap Rima mulai tenang.“Jadi, kondisi psikis Rima semakin buruk? Ia berhalusinasi soal anaknya?” Alda terpaku di depan pintu dengan senyum sinis.“Mas, sebaiknya kamu juga dirawat. Pak Jono bilang lukamu harus segera diberi pengobatan. Biar aku dan suster yang membantu Rima,” Alda menepuk lengan suaminya.“Mas, kamu sakit? Kaki kamu kenapa?”
Baca selengkapnya