“Sekarang, semuanya ibu serahkan sama kamu. Tolong jangan berbuat hal nekat lagi, Bara! Setidaknya kasihani Rima. Hidupnya sudah sangat menderita,” ujar Bu Tika sebelum pergi.“Aku ingin menikahi Rima, Bu,” ungkap Bara.“Menikah?” Bu Tika tercengang. Ia menatap lekat mata Bara.“Kau yakin, Nak?” tanya Bu Tika lirih.“Aku sangat yakin, Bu. Satu-satunya wanita yang ku cintai hanya Rima. Tolong siapkan semuanya, Bu,” pinta Bara.“Tapi tidak sekarang, Bara. Rima baru saja melahirkan dan ia juga baru saja ditalak. Ada masa tunggunya. Saran ibu, sebaiknya kamu fokus pada kepulihan Rima, Nak,” ujar Bu Tika sebelum pergi.Bara masuk ke dalam kamar Rima. Di atas ranjang, Rima masih memejamkan matanya.“Bagaimana kondisinya, Suster?” tanya Bara dengan wajah sendu.“Belum ada perubahan, Pak. Kondisi pasien masih lemah. Dokter memberinya vitamin melalui infus. Semoga, kondisinya jauh lebih baik,” jawab suster yang merawat Rima.Bara membuka ponselnya. “Bara, dimana Rima? Dia bersamamu ‘kan?” tany
Baca selengkapnya