Jauh di Negara Atharwa, aku tengah termenung menatap tumpukan hadiah yang menggunung di hadapanku.Setelah dibawa pulang oleh Rafael Mahardika, aku menjalani observasi di rumah sakit selama tiga hari, hingga akhirnya aku bisa bertemu dengan anggota keluargaku yang sebenarnya.Kakak laki-lakiku, Arka Abian.Arka duduk di kursi roda. Dokter memberitahuku, "Kelumpuhan pada kaki Pak Arka disebabkan oleh gangguan psikologis. Kalau suatu saat nanti dia memiliki keinginan kuat untuk berdiri, dia akan sembuh."Aku mengangguk pelan.Terhadap kakak yang terasa asing ini, aku merasa agak kaku. Dengan suara lembut, aku memberanikan diri bertanya, "Apa kita nggak perlu melakukan tes DNA?"Arka tersenyum, matanya yang tajam dan sedikit melengkung ke atas di bagian ujungnya, persis seperti mataku, tampak menyipit. "Rhea, ikut aku."Aku segera mengikuti Arka yang sedang mengendalikan kursi rodanya.Dia berhenti di depan sebuah pintu kayu berukir, tangannya yang memegang kunci tampak sedikit gemetar.D
Ler mais