Short
Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti

Saat Janji Manismu Tak Lagi Berarti

By:  LalalaCompleted
Language: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
23Chapters
2views
Read
Add to library

Share:  

Report
Overview
Catalog
SCAN CODE TO READ ON APP

Aku baru berusia tujuh tahun ketika Bima Ammar memungutku dari jalanan. Sejak saat itu, aku resmi menjadi belati yang dia sembunyikan di balik bayang-bayang. Di usia delapan tahun, aku mulai menggenggam pisau. Di usia 15, aku menghancurkan musuh-musuhnya hingga tak bersisa. Bahkan di hari ujian kelulusan sekolah, aku masuk ke sarang penculik seorang diri demi menyelamatkannya, pulang dengan tubuh yang terkoyak 17 luka tusukan. Sejak saat itu, dia memanjakanku habis-habisan. Begitu aku mencapai usia legal, dia langsung menarikku untuk mendaftarkan pernikahan. Dia berjanji dengan penuh penekanan, berbisik di telingaku, "Rhea, aku akan mencintaimu selamanya." Tubuhku penuh dengan bekas luka yang mengerikan, tetapi setiap malam, dia selalu mendekapku erat dalam pelukannya. Bibirnya yang hangat akan menyapu setiap inci luka itu, lalu berbisik di tengah keintiman kami yang menyesakkan, "Rhea, kamulah yang paling suci. Jangan pernah tinggalkan aku." Aku sempat memercayai kata-kata itu dengan segenap jiwaku. Sampai akhirnya, aku memergoki sosok wanita idaman yang selama ini dia simpan di luar sana. Dia pikir rahasianya tertutup rapat. Dia tidak tahu bahwa di belakangnya, aku diam-diam telah lolos seleksi masuk universitas. Dan gadis yang dia puja-puji dengan sepenuh hati itu, ternyata adalah teman baikku sendiri di kampus.

View More

Chapter 1

Bab 1

Hari ketika aku kembali ke kampus dengan kaki yang masih cedera, aku justru disambut oleh adegan sebuah lamaran yang sangat megah.

Jalanan dari gerbang sekolah menuju asrama telah ditaburi kelopak mawar putih. Di tengahnya, karpet biru laut membentang luas, memantulkan kemilau cahaya yang seolah-olah dipetik langsung dari riak danau yang jernih.

Di ujung karpet itu, berdiri Sherly Kaelan dalam balutan gaun putih yang menawan. Dia tampak begitu anggun, sosok wanita sempurna yang memancarkan kemurnian.

Lalu, pria yang sedang berlutut di hadapannya, pria yang mengaku sedang melakukan perjalanan bisnis ke luar negeri, tak lain adalah Bima.

Aku berdiri di antara kerumunan orang, menyembunyikan wajah di balik masker, menyaksikan mereka berpelukan dan berciuman mesra. Rasanya seperti ada sebongkah es yang dipaksa masuk ke dalam dadaku, dinginnya merasuk hingga ke tulang.

Padahal baru tadi malam dia berbisik mesra di telingaku, mengatakan dia rela mati di pelukanku. Namun, detik ini, dengan ekspresi penuh ketulusan, dia justru memohon wanita lain untuk menjadi miliknya.

Saat itulah aku tersadar, Bima memang tidak pernah berniat memperkenalkanku pada dunia.

Kencan kami selalu dilakukan di tengah malam dan hubungan kami tidak pernah sekali pun diakui di depan publik.

Tiga tahun lalu, aku pernah mencoba pergi. Orang-orang di sekitar kami, termasuk keluarga besar Bima, selalu mencibir bahwa aku, si yatim piatu yang tidak berpendidikan, tidak akan pernah pantas bersanding dengan pewaris keluarga terpandang di kota ini.

Akan tetapi, saat itu, Bima menggunakan seluruh kekuasaannya, mencariku tanpa henti selama tujuh hari tujuh malam, hingga akhirnya dia berhasil membawaku kembali.

Aku masih ingat jelas raut wajahnya saat itu. Sebuah kesunyian yang mencekam, tetapi diselimuti penderitaan. "Rhea, kamu mau kabur ke mana sambil membawa nyawaku?"

Dia bahkan membiarkan anak buahnya menghujamkan 99 cambukan ke punggungnya sendiri. Dengan mata yang berkaca-kaca, dia menatapku dan berkata, "Rhea, membuatmu merasa nggak aman adalah kesalahanku. Aku pantas dihukum."

Melihat punggungnya yang terluka dan bersimbah darah, hatiku terasa perih hingga air mataku jatuh tak terkendali.

Saat itulah, Bima memberiku kartu izin tinggal permanen di Negara Atharwa dan sebuah dokumen akses untuk rute penerbangan pribadi.

"Rhea, aku sudah dilarang masuk ke Negara Atharwa selamanya. Jadi, kalau sampai aku berkhianat, hukumannya jelas, aku nggak akan pernah bisa menemuimu lagi seumur hidupku."

Saat aku menerima dokumen itu, dia menarikku dengan kasar ke dalam pelukannya, seolah-olah ingin menyatukan tubuhku ke dalam tulang dan darahnya.

"Rhea, sampai kapan pun, aku nggak akan kasih kamu kesempatan buat pakai dokumen-dokumen ini."

Akan tetapi, kini, pengkhianatan itu terpampang nyata di depan mataku.

Ternyata, selama ini akulah yang cukup bodoh untuk memercayainya.

Aku berjalan dengan pikiran kosong menuju vila kantor Bima. Belum sempat aku melontarkan pertanyaan, aku sudah lebih dulu mendengar suara riuh teman-temannya di dalam yang sedang memberi ucapan selamat. "Selamat ya, Kak Bima! Akhirnya berhasil juga dapetin si cantik, Sherly."

Bima yang tampaknya mulai mabuk, mendadak menajamkan tatapannya.

"Nggak ada yang boleh bahas masalah ini sedikit pun. Kalau sampai Rhea tahu ...."

Suara denting gelas yang dihantamkan ke atas meja membuat seisi ruangan mendadak hening. Namun, salah satu temannya masih berani bertanya dengan hati-hati, "Kak Bima, si Tua itu 'kan sudah ngebet banget minta kamu nikah. Apa nggak sebaiknya kamu bikin akta nikah yang asli sama Rhea?"

Darahku rasanya berhenti mengalir seketika. Tanpa sadar, aku menahan napas.

Aku melihat Bima menyeringai tipis, lalu melempar sebuah akta nikah ke atas meja. "Kakek sangat puas dengan Sherly. Bahkan pusaka warisan keluarga pun sudah diserahkan padanya."

Aku mematung di tempat. Telingaku berdenging hebat.

Bima dan Sherly sudah resmi menikah?

Lalu, akta nikah yang ada di tanganku selama ini ... apa artinya?

Temannya ikut tertegun, lalu mengambil akta nikah berwarna merah itu dan melihatnya. "Terus, gimana sama Rhea?"

Bima pun memasukkan akta nikah itu ke dalam brankas dan menguncinya. Dia menggoyangkan gelas anggurnya sejenak sebelum akhirnya membuka suara.

"Waktu aku bawa Rhea buat daftar nikah dulu, Kakek sudah lebih dulu menyabotase dokumen pribadiku. Jadi, nggak akan pernah bisa terbit akta nikah yang asli."

Dia mengatakannya dengan nada yang sangat santai, seolah itu bukan masalah besar. "Aku terpaksa buat yang palsu cuma buat membujuk dia supaya dia mau menyerahkan seluruh hatinya buat aku. Rhea itu wataknya terlalu keras, dia nggak cocok jadi nyonya besar di keluargaku. Cukup aku manjakan dia diam-diam saja, itu sudah lebih dari cukup buat dia."

Sorot mata temannya berubah menjadi rumit.

"Kak Bima, Kak Rhea itu punya banyak cara. Kalau sampai dia tahu, terus dia pergi lagi, gimana?"

Tatapan Bima seketika berubah tajam dan dingin. "Makanya, jangan sampai dia tahu. Kasih tahu Dipta, jangan biarkan Rhea lepas dari pantauannya sedikit pun."

Aku tertawa tanpa suara. Tenggorokanku terasa begitu pahit.

Jadi, selama ini setiap kali aku diprovokasi oleh Dipta hingga terluka, itu semua adalah perintah Bima. Pantas saja tadi dalam perjalanan ke kampus, Dipta seperti orang gila yang terus-menerus menghadangku. Demi bisa lolos darinya, luka di kakiku sampai bertambah parah.

Ternyata, dia melakukan itu semua hanya karena takut aku kembali ke kampus dan memergoki acara lamarannya.

Belum sempat aku pulih dari kenyataan yang mengoyak hati itu, aku mendengar temannya melontarkan pertanyaan yang juga ingin kuketahui jawabannya. "Kak Bima, jujur saja, sebenarnya siapa yang kamu cintai?"

Bima seolah teringat sesuatu, sorot matanya mendadak melunak penuh kasih. "Tentu saja Rhea. Tapi, untuk tiga tahun ke depan, aku juga akan mencurahkan seluruh hatiku untuk Sherly."

Ujung jarinya mengusap tepian gelas anggur itu perlahan. "Sherly itu terlalu suci. Dia persis seperti Rhea saat masih berusia 18 tahun. Kalau saja bukan karena misi nekat menerobos Keluarga Nawasena demi aku waktu itu, Rhea seharusnya juga tetap seperti itu."

"Aku nggak bisa mengulang waktu untuk menjaga Rhea dari awal lagi, jadi biarlah aku menjaganya melalui Sherly. Dengan begitu, aku nggak punya penyesalan lagi terhadap Rhea."

Temannya terdiam sambil menenggak minumannya, lalu bertanya lagi, "Kak Bima, jujur saja, apa kamu sebenarnya masih merasa terganggu dengan kejadian tiga hari tiga malam saat Rhea menerobos Keluarga Nawasena demi menyelamatkanmu?"

Hatiku makin tenggelam ke dasar yang paling dalam.

Tiga hari tiga malam di kediaman Keluarga Nawasena itu memang sebuah mimpi buruk yang nyata.

Tidak ada satu pun orang yang percaya bahwa aku keluar dari sana dalam keadaan tetap "bersih". Hanya Bima satu-satunya yang saat itu mengatakan bahwa dia memercayaiku.

Bahkan di malam-malam setelahnya, dia sering mengecup air mataku dan berbisik, "Rhea ku adalah yang paling suci."

Kali ini, Bima tidak menjawab. Dia hanya meneguk habis seluruh isi gelasnya dalam satu tegukan.

Diamnya Bima adalah bentuk pembenaran yang paling kejam.

Aku memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan air mata jatuh membasahi wajahku.

Ternyata, dia sama sekali tidak pernah memercayaiku. Dia bahkan merasa jijik padaku.

Suara berat Bima kembali terdengar dari dalam ruangan. "Pernikahan tujuh hari lagi harus dirahasiakan dari Rhea. Cara terbaik adalah buat dia mengalami kecelakaan kecil sampai terluka, biar dia mendekam di rumah sakit untuk sementara waktu."

Detik itu juga, sisa-sisa harapanku hancur berkeping-keping.

Ucapan Bima barusan seperti belati yang menghujam tepat ke jantungku. Ternyata rasa sakitku, di matanya, hanyalah sebuah alat yang bisa dia manipulasi, sebuah cara untuk mengendalikan gerak-gerikku.

Drrt.

Ponselku bergetar, tiga pesan masuk sekaligus.

Satu pesan berasal dari Sherly, berisi foto akta nikah dan emoji ceria.

[Rhea, aku dan cowok idamanku akhirnya resmi menikah! Lihat, deh, akta merah ini, serasi banget 'kan sama kita berdua?]

Satu pesan dari Bima: [Rhea, aku kangen. Setelah urusan di sini selesai, aku langsung pulang buat nemuin kamu.]

Satu pesan dari dosen pembimbingku: [Rhea, kamu beneran mau ngelepasin tawaran dari Akademi Musik Negara Atharwa? Bakatmu terlalu berharga buat disia-siakan. Aku harap kamu mau pikirkan sekali lagi.]

Aku menatap foto akta nikah itu, lalu beralih ke pesan Bima yang bilang "aku kangen". Rasanya seperti sebuah tamparan keras yang mendarat tepat di wajahku, menertawakan semua kebodohanku selama ini.

Jantungku terasa nyeri, rasa sakitnya menjalar hingga membuat ujung jariku gemetar.

Perlahan, aku membuka kolom percakapan dan mulai mengetik balasan ....
Expand
Next Chapter
Download

Latest chapter

More Chapters

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

No Comments
23 Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status