"Dasar anak nakal," bisiknya. Aku mematung. Wajah Mas Sebastian masih terlalu dekat, menyisakan napas hangat yang berhembus di permukaan kulitku. Jemarinya masih betah menahan daguku, mengunci pandanganku. Jantungku berpacu hebat. Dengan sisa kewarasan, aku mendorong dadanya. Begitu ia melonggarkan cengkeraman, aku tidak membuang waktu aku segera meraih gagang pintu dan melesat keluar, tidak berani menoleh sedikit pun. Langkahku terburu-buru, nyaris berlari menyusuri lorong yang senyap. Sesampainya di kamar, aku membanting pintu dan menguncinya. Ceklek. Aku menyandarkan punggung pada pintu, berusaha menetralkan napas yang tersengal. Kakiku terasa lemas hingga perlahan tubuhku merosot ke lantai. Tanganku gemetar saat menyentuh bibir bawah yang masih menyisakan sensasi perih akibat Mas Sebastian. Ia benar-benar menciumku. Tanpa peringatan. Aku bangkit dan berjalan menuju cermin. Bibirku tampak merah nyata sebuah jejak yang memalukan sekaligus men
Terakhir Diperbarui : 2026-07-16 Baca selengkapnya