LOGINAku memulai kehidupan baru setelah ayah menikah lagi dengan ibu tiri bak bidadari. Namun,kesempurnaan itu ternyata hanya ilusi karena aku kemudian bertemu dengan Sebastian Daneswara Van Rijn, kakak tiriku yang dingin, penuh rahasia, dan menyimpan sisi gelap yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun. Dan rupanya pria itu ... menginginkanku.
View MoreNapasku tercekat saat menyadari diriku ada dalam pelukan sepasang lengan kekar begitu aku membuka mata.
“Siapa–” Aku menoleh dan langsung terbelalak. “K-Kakak!?”
Kenapa kakak tiriku ada di sini?
***
Dua minggu sebelumnya….
“Kosong sekali,” gumamku. Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar. Semua perabotan sudah dijual, sementara barang-barangku sudah kukemas dalam beberapa kardus besar.
Rasanya agak sesak.
Lusa kemarin, Papa akhirnya menikah lagi dan hari ini kami akan secara resmi pindah ke rumah istri barunya.
Ah, tidak. Aku tidak benci ibu baruku.
Wanita itu sangat cantik, anggun, dan yang terpenting, tulus menyayangi Papa.
Setelah bertahun-tahun melihat raut kesepian di wajah beliau, aku tidak punya alasan dan tidak sampai hati untuk menentang pernikahan itu.
Namun, ternyata memang berat meninggalkan rumah ini.
Tempat yang menyimpan terlalu banyak kenangan manis sebelum Mama berselingkuh dan menghancurkan segalanya.
“Rania, sudah siap, Nak? Papa tunggu di bawah, ya?” Suara berat Papa berujar dari ambang pintu.
Aku menoleh, memaksakan seulas senyum. “Iya, Pa.”
Menepis sisa-sisa luka itu, aku mengangkat kardusnya dan bergegas turun. Setelah memastikan semuanya sudah masuk ke dalam bak mobil pindahan, aku naik mobil yang lain dengan Papa.
Dua jam perjalanan pun berlalu dalam keheningan.
Dari balik jendela mobil, aku melihat jalanan yang perlahan berganti menjadi kawasan perumahan elit yang asri. Ibu baruku memang orang berada dan ekonominya lebih baik dari Papa.
Namun, beliau sama sekali tidak pernah merendahkan Papa ataupun membedakan perlakuannya terhadapku.
Akhirnya, mobil kami melewati gerbang besi hitam yang menjulang tinggi, lalu berhenti sempurna di sebuah pelataran luas.
Udara sejuk seketika menyapa wajahku saat aku melangkah keluar, membuatku menarik napas dalam-dalam sembari mengedarkan pandangan pada bangunan megah bergaya arsitektur modern di hadapan.
Rumah ini lebih pantas disebut mansion, ukurannya berkali-kali lipat lebih besar dari rumah lamaku.
“Kamu masuk duluan saja, Rania. Biar Papa yang urus ini,” ucap Papa dengan napas sedikit terengah saat menurunkan barang.
“Aku bisa bantu bawa yang kecil-kecil, Pa. Rania bukan anak SD lagi,” protesku seraya meraih salah satu kotak kardus.
Namun, belum sempat aku membalikkan badan, sebuah tangan kokoh tiba-tiba mengambil alih kardus tersebut dari pelukanku.
“Biar Mas saja,” ucap seorang laki-laki jangkung dengan senyum cerah. “Kamu istirahat saja di dalam, biar Mas yang angkut semuanya ke atas.”
“Eh, nggak usah, Mas Noah. Aku bisa bawa sendiri, kok.”
“Sst, jangan nolak. Angkat-angkat barang begini itu tugas laki-laki,” balas Mas Noah santai sambil menumpuk satu kotak lagi.
Tanpa menunggu jawabanku, Mas Noah melangkah masuk ke dalam rumah dengan langkah ringan.
Pria itu adalah kakak tiri baruku. Sebelum orang tua kami mendaftarkan pernikahan, aku sudah cukup sering bertemu dengannya. Orangnya hangat dan kami sepemikiran tentang kebahagiaan orang tua kami.
“Rania~”
Panggilan itu menyadarkanku dari lamunan singkat. Seorang wanita paruh baya yang masih memancarkan keanggunan berjalan keluar dari pintu utama. Wajahnya yang cantik tampak berbinar saat menghampiriku.
“Halo, Sayang. Capek ya di jalan?” Wanita itu mendekat, merangkulku hangat dan mengecup kedua pipiku. “Selamat datang di rumah. Bunda senang banget akhirnya kita bisa kumpul bareng.”
Aku tersenyum. “Aku juga senang, Bunda.”
“Ayo, Bunda tunjukkan kamarmu,” ucap Bunda dengan senyum antusias. Beliau menggandengku menaiki tangga spiral megah menuju area privat di lantai dua.
Kami berhenti di depan sebuah pintu ganda berwarna putih bersih.
Bunyi klik pelan terdengar seiring pintu yang terbuka, memperlihatkan ruangan yang membuatku tanpa sadar menggumamkan kata, “Wah.”
Kamar ini luar biasa indah! Dengan dominasi warna biru pastel yang menenangkan dengan dinding bermural sulur bunga putih yang elegan.
Persis seperti kamar impianku.
“Gadis secantik kamu harus punya kamar yang cantik juga,” balas Bunda dengan senyum keibuan.
"Rania," panggil sebuah suara dari arah pintu.
Mas Noah berdiri di ambang pintu, kemejanya sudah digulung sebatas siku dengan peluh tipis di pelipisnya.
“Barangmu sudah masuk semua. Mau Mas bantu beresin?”
Aku terkekeh pelan. “Makasih, Mas Noah. Cukup sampai sini aja. Sisanya biar aku yang tata sendiri.”
“Nggak papa lho kalau perlu bantuan.”
“Aman aja, Mas,” balasku dengan pipi agak bersemu kemerahan. “Soalnya ada beberapa barang yang ... yah, agak privasi.”
Tampaknya kakak tiri baruku itu baru menyadari maksud penolakanku. Kulihat Mas Noah langsung menggaruk tengkuknya salah tingkah.
“Oh! Sorry, sorry. Ya sudah, Mas turun dulu kalau gitu, ya.” Mas Noah berucap buru-buru. “Tapi kalau butuh bantuan atau apa, panggil Mas. Oke?”
Aku tertawa kecil, lalu mengangguk.
Tak berapa lama, Bunda menyusul keluar kamar karena mau memasak khusus untuk menyambut dua anggota keluarga barunya.
Kesempatan itu langsung kumanfaatkan untuk melihat-lihat. Kudekati pintu kaca besar yang ditutupi tirai.
Saat ia menyibakkannya, napasku terkesiap.
Rupanya kamar ini memiliki balkon yang langsung menghadap ke hamparan kebun mawar yang terawat rapi.
Seulas senyum terbit di bibirku. Rasa sesak yang tadi sempat kuraasakan perlahan hilang.
Mungkin, lembaran baru ini tidak akan seburuk yang aku bayangkan.
Kuputuskan untuk mulai membongkar kardus berisi barang-barangku setelahnya, hingga tanpa kusadari, hari sudah berubah jadi malam.
Aroma sedap masakan langsung menyambutku saat aku menuruni tangga. Rupanya, di ruang makan, semua orang sudah hadir dan mereka kini tengah menatapku.
“Halo, Cantik,” sapa Mas Noah sembari menarik kursi di sebelahnya. “Duduk sini.”
“Aku telat ya?” ucapku sembari duduk di sebelah Mas Noah. “Maaf….”
“Nggak papa. Baru saja mau kupanggil,” balas Mas Noah. “Lagipula Mas Tian juga belum datang.”
“Ah, ya.”
Mas Tian adalah putra pertama Bunda, yang berarti merupakan kakak tiri pertamaku. Selama Papa dan Bunda menjalin hubungan, kami belum pernah bertemu. Kata Bunda, kakak tiriku yang satu itu sibuk mengurus perusahaan, jadi jarang ada waktu untuk keluarga.
Dan itu memang langsung kubuktikan malam ini, karena ia tidak pulang-pulang sampai kami harus mulai makan malam terlebih dahulu.
Meski begitu, obrolan kami tetap mengalir hangat, saling bertukar cerita tentangku yang baru diterima di institut kesenian lewat jalur prestasi.
Sampai kemudian, derit suara pintu ganda ruang keluarga yang terbuka membuat fokus kami teralihkan.
Seorang laki-laki berbalut setelan jas formal melangkah masuk.
Posturnya tegap, rahangnya tegas, namun ada aura dingin dan arogan yang menguar pekat dari sorot matanya.
Aku tertegun.
Inikah... kakak tertuaku?
“Mas Tian,” sapa Mas Noah dengan senyum. “Adik kita sudah datang, Mas.”
Mas Tian memusatkan pandangannya pada Mas Noah sejenak, sebelum kemudian matanya yang tajam tertuju padaku.
Entah kenapa, ada sensasi asing yang menjalari punggungku saat mata kami bertemu.
“Rania?” panggil laki-laki itu. Suaranya datar, tanpa emosi.
“Eh.” Tersentak dari lamunan, aku buru-buru memaksakan senyum canggung. “M-.Mas Tian? Selamat datang. Dan salam kenal, Mas.”
“Ya. Selamat datang di rumah,” balasnya singkat. Ia lalu memalingkan wajah.
“Aku naik ke atas dulu.”
Tanpa menunggu balasan, pria itu berbalik dan melangkah menaiki tangga spiral menuju lantai dua.
"Dia emang kelihatan dingin. Dulu, waktu remajanya agak berantakan dan hobi berantem.” Bunda berkata padaku. “Tapi sekarang dia udah jadi pria dewasa yang bertanggung jawab. Gengsinya aja yang segunung.”
Aku hanya merespons dengan senyum tipis.
Secara refleks, kepalaku mendongak ke arah balkon lantai dua.
Napasku seketika tercekat.
Di atas sana, Mas Tian tengah berdiri bersandar pada pembatas tangga.
Laki-laki itu belum masuk ke kamarnya.
Ia menunduk, menatap lurus tepat ke arahku dengan sorot mata yang sulit diartikan. Tampak dingin, tajam, dan tak tertembus, layaknya seekor predator puncak yang sedang diam-diam mengobservasi mangsanya.
Aku menelan ludah dengan susah payah, lekas memutus kontak mata itu terlebih dahulu.
Kenapa … kakak baruku menatapku seperti itu?
Tepuk tangan masih bergemuruh memenuhi seluruh ballroom.Namun, duniaku seolah berhenti berputar saat melihat rahang Mas Tian mengeras.Sorot mata elangnya yang biasanya sedingin es kini berubah.Ada kilatan kekecewaan... sekaligus kemarahan yang begitu pekat di sana.Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.Aku hanya berdiri diam, mencoba memahami perubahan sikapnya yang tiba-tiba.Belum sempat aku mencerna semuanya, seorang wanita bergaun sutra berwarna zamrud melangkah anggun menghampiri kami.Parasnya cantik.Pembawaannya tenang.Dan dari setiap gerakannya, terlihat jelas bahwa ia adalah seseorang yang terbiasa berada di lingkungan penuh kemewahan.Wanita itu menyentuh lengan Mas Tian dengan lembut.Bukan sentuhan posesif.Melainkan sentuhan seseorang yang sudah sangat mengenal dirinya."Tian? Ternyata kamu di sini."Suaranya lembut, diiringi senyum tipis yang elegan.Mas Tian menarik napas panjang sebelum perlahan menepis tangan wanita itu.Wajahnya kembali datar.Seolah emosi
Aku langsung menoleh, tapi tidak mengatakan apa pun meskipun mereka masih saja terang-terangan bergosip.Pernikahan Papa dan Bunda memang tidak dirayakan. Keduanya hanya mendaftarkan pernikahan saja. Apalagi Papa memang bukan orang terkenal. Beliau pria sederhana yang kebetulan kemudian menikah dengan janda kaya spek ibu peri seperti Bunda.Ah, tapi ya sudahlah. Sekalipun mereka tahu aku adik tiri Sebastian, itu tidak akan mengubah pendapat mereka mengenaiku.Dua jam kemudian, jantungku berdegup kencang saat aku berdiri di ujung atas tangga, menatap lantai dasar mansion keluarga Van Rijn yang malam ini telah disulap menjadi ballroom mewah.Alunan musik klasik berpadu harmonis dengan denting gelas kristal dan obrolan para elit.Setelah tiba dari butik tadi, Sebastian langsung meninggalkanku begitu saja menuju kamarnya.Pria itu sama sekali tidak sudi menungguku bersiap, apalagi mengantarku turun ke pesta.Alhasil, aku harus menuruni anak tangga melingkar ini sendirian, berusaha menyeim
Tanganku sedikit bergetar saat menarik tuas pintu mobil itu.Begitu aku masuk dan mendaratkan tubuhku di atas jok kulit yang mahal, aroma cologne maskulin yang sangat khas langsung menyergap penciumanku.Suara pintu tertutup yang berdebum halus seolah menjadi garis batas mutlak yang memenjarakanku bersama pria ini.“Kita mau ke mana, Mas?” tanyaku dengan suara nyaris berbisik, memberanikan diri memecah keheningan.“Ke butik.”“Butik?” Keningku berkerut bingung. “Tapi... lemariku sudah penuh dengan gaun pemberian Bunda.”Terdengar dengusan halus dari bibirnya, sebuah reaksi meremehkan yang sangat kentara.“Bunda yang suruh,” ucapnya singkat. “Buat acara malam ini.”Aku makin bingung. Memang acara apa yang dimaksud? Tapi aku tidak berani bertanya. Dari nada bicaranya, pria ini pastilah sebenarnya tidak sudi menjemput dan mengantarku membeli pakaian. Terpaksa saja, aku yakin.Lagian kenapa bukan Mas Noah saja sih? Siapa suruh dia menjawalkan rapat dadakan begitu? Kalau dengan Mas Noah,
“... Nia? Rania!”“Eh, ya!?” Perhatianku langsung teralih ke Mas Noah. “Kenapa Mas?”“Kenapa melamun?” tanya kakak tiriku itu. “Oh, capek ya? Mau langsung istirahat?”’Aku tersenyum kecil, lalu menggeleng. Batinku tanpa bisa ditahan bertanya, kenapa kakak beradik dari ibu baruku ini tampak begitu berbeda, ya?“Sebastian dan Noah itu memang saudara kandung, tapi beda ayah,” ujar Bunda saat kami sedang mengobrol di ruang keluarga malam itu. Beliau sedang menunjukkan album foto lama padaku sambil bercerita. “Pernikahan pertama Bunda hancur. Waktu Sebastian umur satu tahun. Cerai.”“Lalu Bunda ketemu papanya Noah,” lanjut Bunda. “Syukurlah keluarga kami bahagia, sampai akhirnya papanya Noah meninggal karena sakit."Jari lentik Bunda mengusap foto keluarga di pangkuannya. “Dan dua belas tahun berlalu, Bunda kembali menemukan teman hidup. Papamu.”Aku mengangguk-angguk. Itukah sebab kedua kakak tiriku itu begitu berbeda?Tiba-tiba tatap tajam Mas Tian terlintas di kepalaku, membuatku bergid












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.