Share

14. DIJEMPUT

Author: QUILLDREN
last update publish date: 2026-07-18 01:57:31

Aku sama sekali tidak bisa berkonsentrasi.

Padahal dosen sudah menjelaskan materi sejak lima belas menit yang lalu. Namun, pikiranku terus kembali pada percakapan di dalam mobil tadi pagi.

"Kalau Noah melakukan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman... tolak."

Kenapa Mas Sebastian mengatakan itu?

Kenapa ia terus memperingatkanku tentang Mas Noah?

Aku mengembuskan napas pelan.

Tidak.

Aku harus berhenti memikirkannya.

"Rania."

Aku langsung tersentak.

"Iya, Pak."

Dosen menatapku dari depan kelas.

"Ka
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   78. PESTA MALAM INI

    Pagi itu, aku terbangun dengan sensasi berat yang menghantam kepalaku. Perlahan, aku membuka mata, membiarkan cahaya matahari pagi menembus celah tirai kamar. Sambil memegangi pelipis yang berdenyut, aku mengerang pelan. "Aduh..." Aku mencoba merangkai kepingan ingatan semalam. Yang tersisa di kepalaku hanya bayangan saat aku duduk di balkon bersama Mas Tian, rasa penasaran pada minumannya, lalu keputusan nekatku untuk ikut mencicipinya. Setelah itu... Gelap total. Aku bahkan tidak ingat kapan atau bagaimana bisa sampai kembali ke kamar tidurku. Aku menghela napas panjang. Aku memang belum pernah minum alkohol sebelumnya. Mungkin itu alasan kepalaku terasa seberat ini. Setelah rasa pusing sedikit mereda, aku melangkah turun ke lantai bawah. Suasana mansion terasa cukup tenang. Papa dan Bunda sedang duduk santai, sementara Mas Tian tampaknya sudah berangkat lebih awal ke kantor. Entah kenapa, ada sedikit rasa aneh karena pagi ini mansion terasa lebih sepi. Namun aku seg

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   77. MINUM TERLALU BANYAK

    Aku masih memperhatikan gelas di tangan Mas Tian. Cairan berwarna kecokelatan itu membuatku penasaran. "Mas." "Hm?" "Itu rasanya seperti apa?" Mas Tian menoleh kepadaku. "Kamu belum pernah minum?" Aku menggeleng. "Belum." Ia kemudian mengambil gelas lain dan menuangkan sedikit minuman ke dalamnya. "Kalau mau coba, sedikit saja." Aku menerima gelas itu. Aku menatap isinya beberapa detik sebelum perlahan mengangkatnya ke bibir. Seteguk kecil masuk ke mulutku. Aku langsung mengernyit. "Pahit." Mas Tian tertawa kecil. Aku menatap gelas di tanganku. Rasanya memang pahit. Namun ada rasa hangat yang tertinggal di tenggorokan. Aku kembali mencicipinya. Kali ini sedikit lebih banyak. Mas Tian hanya menggeleng kecil. "Pelan-pelan." Aku mengangguk. Aku kembali menatap langit malam. Mansion yang beberapa jam lalu begitu ramai kini mulai terasa sunyi. Lampu-lampu di taman masih menyala, membuat suasana di balkon terasa tenang. Hari ini benar-b

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   76. MALAM DI BALKON

    Tatapan Mas Tian masih tertuju kepadaku. Aku tidak tahu berapa lama kami saling memandang seperti itu. Suara pembawa acara, suara tamu, bahkan tepuk tangan yang terdengar di sekeliling kami seolah menjadi samar. Yang bisa kurasakan hanya tatapan Mas Tian. Tatapan yang membuatku kembali teringat pada kejadian tiga hari lalu. Aku akhirnya berkedip dan buru-buru mengalihkan pandangan. Tidak. Aku tidak boleh seperti ini. Hari ini adalah hari pernikahan Mas Noah dan Kak Mira. Aku tidak seharusnya memikirkan hal lain. Aku menarik napas pelan dan kembali menatap ke depan. Mas Noah dan Kak Mira akhirnya mengucapkan janji mereka. Janji untuk saling menjaga. Janji untuk tetap bersama dalam keadaan apa pun. Dan ketika akhirnya mereka dinyatakan resmi menjadi suami istri, tepuk tangan langsung memenuhi seluruh ruangan. Kak Mira tersenyum bahagia. Mas Noah bahkan terlihat seperti orang yang baru saja mendapatkan seluruh dunia. Aku ikut tersenyum. "Selamat, Mas Noah. Kak Mira." A

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   75. HARI PERNIKAHAN

    Tiga hari berlalu sejak kejadian itu. Namun sampai pagi ini, aku masih belum benar-benar bisa menghilangkan semuanya dari pikiranku. Terutama kejadian di ruang tengah malam itu. Setiap kali mengingatnya, jantungku kembali berdetak lebih cepat. Untungnya, kesibukan menjelang pernikahan Mas Noah dan Kak Mira membuat mansion dipenuhi berbagai persiapan. Aku bisa menyibukkan diri. Bisa mengalihkan perhatian. Setidaknya untuk sementara. Pagi ini, mansion terlihat jauh lebih ramai daripada biasanya. Para pelayan hilir mudik membawa berbagai perlengkapan. Bunga-bunga memenuhi beberapa sudut ruangan. Suara langkah kaki terdengar hampir di setiap penjuru mansion. Hari ini... Mas Noah dan Kak Mira akan menikah. Aku berdiri di depan pintu kamar rias yang disiapkan untuk Kak Mira sambil mengetuk pelan. "Masuk." Aku membuka pintu. Begitu masuk, aku langsung melihat Kak Mira yang sedang duduk di depan meja rias. Rambutnya sudah ditata dengan indah. Gaun pengant

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   74. JARAK YANG TERLALU DEKAT

    Keesokan paginya, suasana mansion terasa sedikit berbeda. Lebih sepi dari biasanya. Aku baru saja turun ke ruang makan ketika melihat Bunda sudah duduk sendirian di meja panjang, menyesap teh hangatnya. "Rania, sini, Sayang," panggil Bunda begitu menyadari kehadiranku. Aku menghampiri Bunda lalu menarik kursi dan duduk di sampingnya. "Kok sepi banget, Bun?." tanyaku sambil meraih selembar roti. "Noah sama Papa sudah berangkat ke luar kota tadi pagi-pagi sekali," jawab Bunda santai. "Ada rapat mendadak. Mereka baru pulang besok." Aku mengangguk pelan. Bunda lalu menatapku. "Oh iya, tadi pagi Mira telepon." Aku langsung menoleh. "Kak Mira?" "Iya. Katanya gaun bridesmaid kamu nanti sore sudah bisa diambil." Bunda meletakkan cangkirnya. "Bunda hari ini mau datang ke acara teman Bunda di luar. Mungkin pulangnya agak malam." "Tian juga tadi sudah berangkat ke kantor." "Jadi, pagi ini kamu ke kampus diantar Pak Sopir saja, ya." "Iya, Bun. Nanti sore Rania ambil gaunnya sep

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   73. SEBELUM HARI BAHAGIA

    Aku tidak tahu berapa lama kami saling menatap seperti itu.Tatapan Mas Tian terasa berbeda.Lebih dalam dari biasanya.Aku bahkan bisa mendengar detak jantungku sendiri yang semakin tidak beraturan.Namun akhirnya, aku tersadar.Aku buru-buru menarik tanganku dan kembali menyandarkan tubuh ke kursi."Maaf..." gumamku pelan.Mas Tian tidak langsung menjawab.Ia hanya mengalihkan pandangannya kembali ke jalan dan melanjutkan perjalanan.Aku pun memilih diam.Tetapi sejak saat itu, pikiranku tidak lagi benar-benar tenang.Kalimatnya tadi terus terngiang di kepalaku.Aku tidak mau melihatmu menangis lagi.Entah kenapa, semakin kupikirkan, semakin sulit bagiku menganggap kalimat itu sebagai sesuatu yang biasa.-Sesampainya di mansion, suasana sudah jauh lebih ramai dibandingkan beberapa hari terakhir.Beberapa pelayan terlihat hilir mudik membawa berbagai keperluan.Rangkaian bunga mulai menghiasi beberapa sudut mansion.Beberapa dekorasi juga sudah dipersiapkan.Pernikahan Mas Noah dan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status