Share

13. PERINGATAN

Author: QUILLDREN
last update publish date: 2026-07-17 17:00:09

"Kau menyukai Noah?"

Jantungku langsung berdebar.

Aku menoleh cepat.

"Hah?"

Mas Sebastian sama sekali tidak menoleh.

"Kau dengar pertanyaanku."

Aku menggenggam tali tasku erat-erat.

"Kenapa Mas bertanya begitu?"

"Itu bukan jawaban."

Aku mengembuskan napas pelan.

"Nggak."

"Yakin?"

"Iya."

"Alasannya?"

Aku berkedip beberapa kali.

"Mas Noah memang baik."

"Hm."

"Dia perhatian."

"Hm."

"Dia selalu memperlakukanku dengan baik."

"Hm."

"Dan dia bikin aku nyaman sebagai kakak."

"Hm."

Aku mulai mengerucutk
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   70. NAMA YANG DIBERSIHKAN

    "Keluarga Wijaya, Nyonya.""Tuan dan Nyonya Wijaya datang bersama Nona Mira."Kalimat pelayan itu membuat suasana ruang keluarga yang sebelumnya mulai tenang kembali berubah.Aku refleks menoleh kepada Mas Noah.Wajah Mas Noah terlihat sedikit terkejut, meskipun hanya sesaat.Aku bisa memahami alasannya.Setelah semua yang terjadi, kedatangan keluarga Wijaya tentu bukan tanpa alasan.Bukan hanya nama keluarga Van Rijn yang terseret dalam skandal tersebut.Nama keluarga Wijaya juga ikut menjadi sorotan karena hubungan Mas Noah dan Kak Mira berada di tengah pemberitaan.Beberapa saat kemudian, Tuan dan Nyonya Wijaya muncul bersama Kak Mira.Mas Noah langsung berdiri."Om, Tante."Tuan Wijaya tersenyum tipis dan menepuk bahu Mas Noah."Bagaimana kabarmu, Noah?""Baik, Om."Nyonya Wijaya kemudian menghampiri Bunda."Maaf kami datang mendadak.""Tidak apa-apa," jawab Bunda ramah. "Silakan duduk."Kami semua mengambil tempat di ruang keluarga.Kak Mira duduk di samping Mas Noah.Aku memperh

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   69. KELUARGA YANG PULANG

    Mas Tian menatapku beberapa saat.Kemudian, tangannya perlahan menggenggam tanganku."Tidak perlu takut.""Tapi Papa dan Bunda pasti akan bertanya tentang semuanya.""Bagaimana kalau mereka marah?"Mas Tian menggeleng pelan."Tidak akan."Aku menatapnya cukup lama sebelum akhirnya mengangguk kecil.Aku ingin percaya pada ucapannya.Namun malam itu, aku hampir tidak bisa tidur.Perasaan cemas terus berputar di kepalaku, menenggelamkan rasa kantuk.Setiap kali memejamkan mata, bayangan Papa dan Bunda yang menanyakan skandal keluarga kami kembali muncul.Pagi harinya, suasana mansion terasa sangat berbeda.Ada ketegangan yang mengambang di udara.Mas Tian dan Mas Noah sudah berada di ruang keluarga sejak sarapan selesai.Aku duduk di sofa tunggal dengan kedua tangan bertaut dingin.Menunggu.Tepat pukul sepuluh pagi, suara mobil terdengar dari pelataran mansion.Jantungku langsung berdegup kencang.Mereka tiba.Pintu utama terbuka.Papa dan Bunda melangkah masuk.Wajah keduanya terlihat

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   68. KEMBALI KE MANSION

    Suasana di mansion terasa jauh lebih tenang hari ini. Badai besar yang sempat menghantam perlahan mulai mereda, meninggalkan kelegaan yang begitu terasa di dalam dada. Terutama setelah melihat Mas Noah dan Kak Mira mulai memperbaiki hubungan mereka yang sempat berada di ambang kehancuran. Siang menjelang sore, aku memutuskan pergi ke ruang baca keluarga. Aku membutuhkan tempat yang tenang untuk menjernihkan pikiran sekaligus mencari beberapa buku referensi yang sedang kubutuhkan. Aku berjalan menyusuri deretan rak hingga menemukan buku yang kucari. Namun, ada satu masalah. Buku itu berada di rak paling atas. Aku mendongakkan kepala. "Kenapa harus yang paling atas?" Aku menghela napas pelan. Setelah memastikan tidak ada siapa pun di sekitar, aku berjinjit dan mengangkat kedua tangan setinggi mungkin. Sedikit lagi. Ujung jariku hampir menyentuh punggung buku tersebut ketika aku mencoba menariknya. Namun, bukannya berhasil, buku itu justru bergeser semakin jauh ke belakang

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   67. PILIHAN MAS NOAH

    Kak Mira keluar dari ruang keluarga.Aku masih berdiri di tempatku, memandangi pintu yang perlahan tertutup.Kalimat terakhirnya terus terngiang di kepalaku.Aku akan bicara dengan Noah.Seharusnya aku kembali ke kamar.Namun entah kenapa, rasa penasaran justru membuat kakiku melangkah menuju lorong yang mengarah ke taman belakang.Aku hanya ingin memastikan mereka baik-baik saja.Hanya itu.Setidaknya, itulah alasan yang berusaha kuberikan kepada diriku sendiri.Begitu sampai di dekat pintu kaca, aku melihat Mas Noah sudah berdiri di taman.Kak Mira berada beberapa langkah di hadapannya.Aku berhenti.Pintu kaca itu sedikit terbuka.Aku tahu aku seharusnya pergi.Namun ketika suara Kak Mira terdengar, kakiku justru tidak bergerak.“Aku sudah bicara dengan Rania.”Kak Mira menarik napas panjang.“Dia tidak membantah apa yang terjadi malam itu.”Mas Noah terdiam.“Dia juga mengatakan bahwa dia tidak pernah membalas perasaanmu.”“Aku tahu.”Aku menundukkan kepala.Aku sudah mengatakan h

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   66. LUKA YANG BELUM SELESAI

    Sejak membuka mata pagi itu, perasaanku sudah tidak tenang.Hari ini aku akan bertemu Kak Mira.Aku tahu aku tidak bisa mengubah apa yang sudah terjadi.Tidak ada yang bisa kusangkal.Mas Noah memang menjilat sisa makanan di sudut bibirku malam itu. Kamera memang menangkap momen tersebut dengan jelas.Yang salah adalah cara seseorang menggunakan foto itu untuk menghancurkan banyak hal.Namun, bagi Kak Mira, melihat foto tersebut tetaplah menyakitkan.Dan aku memahami itu.Saat turun ke ruang makan, Mas Tian sudah berada di sana.Mas Tian menatapku beberapa saat.“Kalau kamu merasa tidak sanggup, kamu tidak perlu memaksakan diri.”Aku tersenyum tipis.“Aku harus bicara dengan Kak Mira.”Aku tidak ingin terus menghindar.Beberapa menit kemudian, Mas Noah datang.Handphone masih berada di tangannya.“Mira sudah datang.”Jantungku langsung berdegup lebih cepat.Mas Tian menatapku.“Rania.”Aku mengangkat wajah.“Dia masih terluka.”Aku mengangguk.“Aku tahu, Mas.”“Jangan memaksanya untuk

  • DEKAP HANGAT KAKAK TIRIKU   65. JEJAK YANG TERTINGGAL

    Aku masih berdiri di balik pintu pemisah antara dapur dan ruang keluarga ketika melihat Mas Raka menunjukkan sesuatu pada Mas Tian.Beberapa dokumen berpindah tangan. Layar tablet dibuka, kemudian berganti dengan beberapa lembar laporan. Wajah Mas Tian yang biasanya tenang tampak semakin serius.Aku tidak bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas.Namun, dari ekspresi keduanya, aku tahu mereka baru saja menemukan sesuatu yang penting.Aku memilih kembali ke dapur.Sudah lima hari sejak skandal itu meledak.Selama itu pula aku tidak menginjakkan kaki di kampus. Mas Tian memintaku tetap berada di mansion sampai keadaan benar-benar terkendali. Mas Noah dan Mas Tian bahkan menunda rutinitas pekerjaan mereka demi menyelesaikan masalah ini.Pagi itu, akhirnya aku mengetahui apa yang ditemukan Mas Raka.Saat memasuki ruang makan, aku melihat Mas Tian, Mas Noah, dan Mas Raka sudah berkumpul di sana. Sebuah laptop terbuka di atas meja, dikelilingi dokumen dan beberapa laporan.Aku duduk ta

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status