Selama tiga jam aku berada di rumah sakit untuk membersihkan luka, Fian tidak meneleponku barang sekali saja.Saat aku menyeret tubuhku yang kelelahan dan mendorong pintu rumah, aku melihat Fian tengah memegang segelas air dan dengan penuh hati-hati, menyuapkannya pada Lavina.Bekas kemerahan di punggung tangan Lavina sudah sangat pudar, bahkan hampir tidak terlihat lagi.Melihat lenganku yang terbalut perban, tampak rasa iba melintas di mata Fian.Melihat hal itu, Lavina menarik ujung lengan baju Fian dengan lembut.Fian pun akhirnya angkat bicara, "Alisha, dokter bilang tangan Lavina nggak boleh kena air untuk sementara waktu.""Dia terluka karena kamu. Jadi, secara etika maupun logika, sudah seharusnya kita lebih perhatian kepadanya."Setelah itu, Fian menyelipkan secarik kertas berisi daftar pantangan makanan ke tanganku. "Aku akan bawa Lavina ke ruang kerja untuk mempelajari lagu baru."Saat lewat di sampingku, wajah Lavina tampak merasa bersalah, tetapi sorot matanya tidak bisa m
Magbasa pa