Share

Bab 3

Author: Teh Santai
Selama tiga jam aku berada di rumah sakit untuk membersihkan luka, Fian tidak meneleponku barang sekali saja.

Saat aku menyeret tubuhku yang kelelahan dan mendorong pintu rumah, aku melihat Fian tengah memegang segelas air dan dengan penuh hati-hati, menyuapkannya pada Lavina.

Bekas kemerahan di punggung tangan Lavina sudah sangat pudar, bahkan hampir tidak terlihat lagi.

Melihat lenganku yang terbalut perban, tampak rasa iba melintas di mata Fian.

Melihat hal itu, Lavina menarik ujung lengan baju Fian dengan lembut.

Fian pun akhirnya angkat bicara, "Alisha, dokter bilang tangan Lavina nggak boleh kena air untuk sementara waktu."

"Dia terluka karena kamu. Jadi, secara etika maupun logika, sudah seharusnya kita lebih perhatian kepadanya."

Setelah itu, Fian menyelipkan secarik kertas berisi daftar pantangan makanan ke tanganku. "Aku akan bawa Lavina ke ruang kerja untuk mempelajari lagu baru."

Saat lewat di sampingku, wajah Lavina tampak merasa bersalah, tetapi sorot matanya tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya. "Kak Alisha, aku akan merepotkanmu untuk beberapa waktu ke depan."

"Aku dan Fian harus menyempurnakan lagu baru kami. Kami paling takut terganggu kalau inspirasi datang. Jadi, tolong jangan sekali-kali masuk untuk mengganggu kami."

Pintu ruang kerja tertutup dengan suara berdebam di belakang mereka, meninggalkanku sendirian di luar yang dingin.

Aku mendengus sinis, membuang kertas itu ke tempat sampah, lalu berbalik dan naik ke lantai atas.

Aku pun duduk di dalam kamar sambil memikirkan bagaimana caranya agar Fian setuju untuk bercerai.

Tiba-tiba, suara Fian mendekat dari arah belakang.

"Alisha." Fian mengusap pelan perban di lenganku. Suaranya terdengar pelan. "Sakit banget ya …. Maafin aku."

Tubuhku tanpa sadar menolak sentuhannya.

Fian seakan tidak menyadarinya dan terus bicara sendiri, "Aku berutang budi pada Lavina. Waktu masih kecil, Lavina-lah yang menyelamatkanku dari depresi."

"Awalnya … aku berjanji akan menikahinya." Fian terdiam sejenak. "Tapi, aku ketemu kamu."

"Untuk membalas utang budi ini, aku berjanji padanya bahwa aku sendiri yang akan mengantarkannya ke puncak tertinggi dunia musik."

"Kamu pasti bisa memahamiku, 'kan?"

Nada bicara Fian begitu lembut bagaikan air. Namun, aku justru merasakan sensasi dingin yang membuat merinding.

Cerita balas budinya itu dibayar dengan pengorbananku.

Aku beralasan perlu mengganti perban dan memintanya pergi. Namun, Fian justru berinisiatif membantuku membuka balutan perban di lenganku.

Tepat di saat perban itu terbuka sepenuhnya, terdengar suara dentuman keras dari arah ruang kerja.

Fian tersentak berdiri dan langsung bergegas keluar dari kamar.

Gerakan Fian terlalu terburu-buru, hingga sikunya menyenggol larutan saline di pinggir meja.

Cairan dingin itu tumpah seluruhnya ke lukaku yang terbuka.

Rasa perih yang tajam dan panas menjalar ke seluruh tubuh, membuat pandanganku menjadi gelap.

Dalam keadaan setengah sadar, samar-samar aku mendengar deru mesin mobil dari lantai bawah, lalu akhirnya kembali sunyi.

Pada saat inilah, kenangan masa lalu mulai terlintas kembali di benakku.

Sebenarnya, aku dan Fian juga sudah saling mengenal sejak kecil. Namun, Fian tidak ingat.

Waktu berusia 6 tahun, aku pindah ke sebelah rumahnya bersama orang tuaku. Orang tua Fian sedang mengalami konflik perceraian yang sangat sengit. Pertengkaran dan suara barang pecah yang tak henti-hentinya di rumah itu, membuat Fian kecil hampir depresi, hingga dia mengurung diri di dalam kamar.

Aku yang masih kecil merasa penasaran dengan rahasia yang tersembunyi di balik jendela yang tidak pernah terbuka itu. Jadi, aku menyelinap masuk untuk mencari tahu. Dari balik kaca, aku melihat sosok Fian yang kurus.

Setelah itu, aku sering menyelinap ke luar jendelanya, mencoba membukakan dunianya yang tertutup rapat dengan lagu-lagu yang kubuat sendiri.

Setengah tahun kemudian, Fian akhirnya bersedia keluar dan menemuiku. Dengan penuh sukacita, aku merekam lagu-lagu yang biasa kunyanyikan ke dalam kaset. Aku bermaksud memberikannya keesokan harinya pada Fian sebagai hadiah.

Tak disangka, keesokan harinya, aku justru dibawa pergi dengan terburu-buru oleh orang tuaku ke luar negeri, sehingga membuatku mengingkari janji bertemu dengan Fian selamanya.

Saat bertemu kembali setelah dewasa, aku sempat mengira Fian yang memiliki kemampuan untuk mengenali nada tanpa bantuan apa pun, akan mengenalku melalui suaraku.

Namun, kenyataan pahitnya adalah, Fian bahkan tidak bisa mengingat suaraku.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Tanpa Gema   Bab 9

    "Kamu … mabuk." Tanpa sadar aku menarik tanganku, tetapi Mario justru mencengkeramnya dengan erat."Aku sadar sepenuhnya." Suara Mario terdengar agak mendesak. "Hal yang paling kusesali dalam hidupku adalah nggak bisa menahanmu saat kelulusan dulu.""Waktu aku melihat berita itu, aku merasa marah, sekaligus senang." Mario terdiam sejenak, nadanya penuh kepahitan."Aku marah karena dia bisa mendapatkanmu dengan begitu mudah, tetapi malah menghinamu seperti itu.""Tapi, di sisi lain, aku merasakan sedikit kebahagiaan yang hina. Mungkin … ini kesempatan bagiku untuk membuatmu kembali padaku.""Alisha." Suara Mario terdengar agak tercekat. "Aku nggak memintamu untuk menjawabnya sekarang. Tapi, saat tiba hari kamu ingin memulai lembaran baru, tolong pertimbangkan aku sebagai orang pertama, ya?"Di tengah remang cahaya lilin yang bergoyang, terlintas di benakku segala bentuk pengorbanan yang sudah dilakukan Mario untukku. Sosoknya yang tampak begitu berhati-hati saat ini sangat mirip dengan

  • Cinta Tanpa Gema   Bab 8

    Larut malam, sebuah video pengaduan dengan pengakuan langsung dari pelapor mengguncang seluruh dunia maya.Dalam video tersebut, Fian tampak lesu dan kuyu, tetapi tatapan matanya begitu tegas.Dengan nada bicara tenang dan penjelasan yang teratur, Fian membongkar kepalsuan Lavina dalam perjalanan karier musik orisinalnya.Fian mengungkapkan bahwa seluruh karya musik orisinal milik Lavina, sebenarnya adalah hasil tulisan tangannya sendiri. Sementara, klip-klip musik yang viral di internet merupakan hasil meniru suara orang lain yang dilakukan secara sengaja oleh Lavina.Suara yang paling sering ditiru oleh Lavina tidak lain adalah suara Alisha, mantan istri Fian, sosok yang selama ini diabaikan Fian, disakiti Fian dan pada akhirnya pergi meninggalkan Fian."Akulah yang sudah membantu kelancaran penipuan ini, menodai kemurnian musik dan menyakiti banyak orang. Untuk itu, aku menyampaikan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya."Di akhir video, Fian pun mengumumkan sebuah fakta dengan nada

  • Cinta Tanpa Gema   Bab 7

    "Kak Fian, Kak Lavina menderita kehilangan suara. Tapi, dokter bilang itu bisa disembuhkan." Manajer menarik Fian keluar dari ruang kerja. Suaranya tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.Lavina berdiri di samping. Matanya berkaca-kaca karena merasa lega.Akan tetapi, Fian tetap bergeming dan tidak menunjukkan reaksi apa pun."Kak Fian, lagu baru yang Kakak kerjakan bersama Kak Lavina bisa menjadi karya kembalinya dia ke dunia musik. Waktunya sangat tepat."Lavina mengangguk-angguk, menatap Fian dengan penuh harap.Fian hanya menepis tangan manajernya, lalu berkata dengan suara serak, "Aku nggak bisa nulis lagi.""Apa?" Lavina dan manajer itu tersentak secara bersamaan. Mereka pun saling berpandangan dengan bingung.Tatapan mata Fian tampak kosong saat menatap mereka. Dia pun berkata pelan dengan penuh penekanan, "Aku bilang, aku nggak bisa nulis lagu lagi.""Bagaimana mungkin?" Manajer itu terlihat cemas."Setelah Alisha pergi, di dalam benakku cuma tersisa suaranya. Aku nggak bisa

  • Cinta Tanpa Gema   Bab 6

    "Bu, pesawat sudah mendarat." Panggilan lembut dari pramugari menarikku keluar dari mimpiku yang kacau balau.Aku mengerjapkan mata, menatap ke luar jendela, ke arah tanah yang asing, tetapi akrab dan merasa agak linglung.Mario Naraya berdiri sambil memeluk seikat bunga matahari dan melambaikan tangan ke arahku di pintu kedatangan.Aku dan Mario adalah alumni kampus yang sama. Sebagai sesama orang yang berasal dari negara yang sama, yang tumbuh besar di Negara Malori, hubungan kami lebih dekat dibanding dengan teman-teman sekelas lainnya.Setelah lulus, aku ingin mencari kembali Fian. Jadi, dengan tekad yang bulat, aku memutuskan untuk pulang ke tanah air bersama orang tuaku. Sementara itu, Mario tetap tinggal di Negara Malori untuk meneruskan bisnis stasiun radio keluarganya.Saat berpisah, Mario dengan penuh kesabaran berjanji kepadaku bahwa jika suatu hari nanti aku tidak bisa menemukan kembali masa laluku, dia akan selamanya menungguku di Negara Malori."Pemilik rumah lamamu nggak

  • Cinta Tanpa Gema   Bab 5

    Dengan tangan gemetar, Fian berkali-kali menghubungi nomor telepon Alisha. Namun, yang terdengar dari telepon hanyalah suara dingin mesin operator. "Nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan."Akhirnya, Fian menghubungi nomor asistennya dan memerintahkannya untuk mencari keberadaan Alisha.Lavina terbangun karena suara-suara itu. Dia pun mengangkat ponselnya dan bertanya kepada Fian mengenai apa yang sedang terjadi.Fian menatap Lavina dengan tajam. "Apa kamu benar-benar gadis kecil yang dulu menyanyi untukku di depan pintuku waktu aku masih kecil?"[Tentu saja itu aku, Fian. Kenapa kamu bertanya seperti itu?] Mata Lavina berkilat untuk sesaat. Wajahnya langsung terlihat terkejut dan tersakiti."Lalu, kenapa Alisha punya kaset yang berisi rekaman lagu yang kamu ciptakan dan kamu nyanyikan sendiri waktu masih kecil?" Fian mengangkat kaset itu tinggi-tinggi. Matanya penuh dengan kecurigaan.Wajah Lavina langsung pucat pasi. Sebelum dia sempat memikirkan jawaban, ponsel Fian be

  • Cinta Tanpa Gema   Bab 4

    Setelah dengan susah payah membalut luka-lukaku sendiri, suara decitan rem yang memekakkan telinga memecah keheningan.Fian menerjang masuk dengan wajah penuh kemarahan. Sebelum aku sempat berbicara, tangannya yang besar sudah mencekik leherku dengan kuat."Apa yang kamu campurkan ke dalam makanan itu?" Mata Fian memerah karena murka. "Kenapa Lavina kehilangan suaranya setelah memakan masakanmu?"Aku langsung merasa tidak bisa bernapas. Aku menggelengkan kepala sekuat tenaga sambil memukuli lengan Fian."Nggak mau ngaku?" Nada bicara Fian terdengar kejam. "Ikut aku ke rumah sakit sekarang juga. Berlutut di depan Lavina dan katakan sendiri yang sebenarnya!"...Fian pun mengempaskanku dengan kasar ke lantai rumah sakit yang dingin, lalu berbalik untuk memeluk sosok yang tengah gemetar itu.Lavina dengan mata berkaca-kaca mengangkat ponselnya ke arahku: [Suaraku adalah nyawaku. Kenapa … kamu tega mencelakaiku seperti ini?]Aku berusaha sekuat tenaga untuk bangkit dan menatap mereka lekat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status