Share

Bab 4

Author: Teh Santai
Setelah dengan susah payah membalut luka-lukaku sendiri, suara decitan rem yang memekakkan telinga memecah keheningan.

Fian menerjang masuk dengan wajah penuh kemarahan. Sebelum aku sempat berbicara, tangannya yang besar sudah mencekik leherku dengan kuat.

"Apa yang kamu campurkan ke dalam makanan itu?" Mata Fian memerah karena murka. "Kenapa Lavina kehilangan suaranya setelah memakan masakanmu?"

Aku langsung merasa tidak bisa bernapas. Aku menggelengkan kepala sekuat tenaga sambil memukuli lengan Fian.

"Nggak mau ngaku?" Nada bicara Fian terdengar kejam. "Ikut aku ke rumah sakit sekarang juga. Berlutut di depan Lavina dan katakan sendiri yang sebenarnya!"

...

Fian pun mengempaskanku dengan kasar ke lantai rumah sakit yang dingin, lalu berbalik untuk memeluk sosok yang tengah gemetar itu.

Lavina dengan mata berkaca-kaca mengangkat ponselnya ke arahku: [Suaraku adalah nyawaku. Kenapa … kamu tega mencelakaiku seperti ini?]

Aku berusaha sekuat tenaga untuk bangkit dan menatap mereka lekat-lekat. "Bukan aku. Makan malam itu pesan antar dari hotel."

Raut wajah Fian sedikit berubah. Sementara itu, tubuh Lavina gemetar hebat. Lavina pun membenamkan dirinya dalam pelukan Fian dan menangis tanpa suara.

"Masih mau mengelak?" Fian mendekap Lavina lebih erat. Tatapan mata Fian padaku kini hanya menyisakan rasa muak.

"Kalau kamu nggak mau jujur, pergilah ke ruang kedap suara untuk menenangkan diri. Kita lihat, sampai kapan kamu bisa tetap keras kepala." Fian memerintahkan asistennya untuk menyeretku pergi.

"Nggak … jangan." Aku menatap Fian dengan putus asa dan menggelengkan kepala sekuat tenaga.

Fian tahu betul bahwa setelah ibu meninggal, aku menderita klaustrofobia.

"Bawa dia pergi."

Begitu pintu ruang kedap suara itu tertutup, sekelilingku langsung menjadi gelap dan sunyi senyap.

Aku memeluk diriku erat-erat. Tanpa sadar, aku menggigit kuku hingga kesepuluh jariku luka dan berdarah. Akan tetapi, aku tidak berani berhenti. Seakan rasa sakit dari penyiksaan diri ini mampu melawan rasa takut ditelan kegelapan.

Akhirnya, luka yang meradang memicu demam tinggi di tubuhku. Kesadaran yang kupaksakan juga runtuh, hingga aku jatuh pingsan.

Ketika aku kembali membuka mata, Fian sedang duduk di depan jendela. Dia sedikit mengerutkan kening, seakan sedang memikirkan sesuatu.

Menyadari aku sudah siuman, Fian pun langsung menghampiriku. Suaranya terdengar agak serak. "Alisha, pita suara Lavina … kayaknya, dia nggak akan pernah bisa menyanyi lagi."

Fian menarik napas dalam-dalam, lalu melanjutkan, "Aku berutang padanya. Sekarang, aku perlu memberinya status agar dia merasa tenang."

"Setelah emosinya stabil …."

"Aku setuju untuk bercerai." Aku menyela perkataan Fian. Suaraku lemah, tetapi tegas.

...

Sehari sebelum keberangkatanku ke luar negeri, bertepatan dengan hari peringatan kematian ibuku.

Setelah berpamitan dengan Ibu di makam, aku langsung ke rumah Keluarga Prasada untuk mengambil barang-barangku.

Saat membuka pintu, aku malah melihat Lavina tengah mengoyak sebuah kaset dengan membabi buta. Kaset itu adalah peninggalan terakhir mendiang ibuku.

Amarahku langsung meluap. Aku bergegas maju untuk merebut sisa-sisa kaset dari tangan Lavina. Dengan suara gedebuk, aku jatuh berlutut di lantai. Tanganku gemetar, berusaha mengumpulkan potongan pita kaset yang koyak itu satu per satu.

Lavina sempat terhuyung karena senggolan itu. Fian pun langsung menendangku hingga terpental, lalu menopang Lavina. "Apa yang kamu lakukan?"

"Ini satu-satunya peninggalan ibuku yang tersisa!" Aku berteriak marah pada Fian dengan wajah penuh air mata.

Mendengar hal itu, ekspresi Fian langsung membeku.

Tahun itu, salah satu komposisi piano asli milik Fian dicuri, sehingga membuat Fian terjerat dalam skandal plagiarisme. Ibuku-lah yang berhasil menemukan draf aslinya. Namun, dalam perjalanan untuk mengantarkannya pada Fian, Ibu mengalami kecelakaan mobil.

Di saat-saat terakhirnya, Ibu memaksakan diri untuk merekam kaset berisi doa dan harapannya untukku sebagai kenang-kenangan.

Lavina buru-buru mengeluarkan ponselnya dan mengetikkan beberapa kata: [Maafkan aku. Aku cuma kehilangan kendali waktu melihat kaset itu ….]

Fian menepuk-nepuk pundak Lavina untuk menenangkannya, lalu berkata dengan nada yang dingin, "Cuma barang lawas. Apa itu lebih penting dibanding orang yang masih hidup?"

Pada saat inilah aku baru menyadari sepenuhnya bahwa pria ini sudah benar-benar busuk luar dan dalam.

Pagi-pagi buta, aku meninggalkan kaset yang tidak sempat kuberikan saat aku masih kecil dahulu, memutuskan segala ikatan dengan masa lalu, lalu pergi ke bandara.

Fian menemukan kaset itu di kamar tidurku. Seolah digerakkan oleh sesuatu yang tak kasat mata, Fian memasukkan kaset tersebut ke pemutar musik yang biasa kugunakan.

Begitu mendengar suara familier yang keluar dari sana, mata Fian pun langsung terbelalak.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Tanpa Gema   Bab 9

    "Kamu … mabuk." Tanpa sadar aku menarik tanganku, tetapi Mario justru mencengkeramnya dengan erat."Aku sadar sepenuhnya." Suara Mario terdengar agak mendesak. "Hal yang paling kusesali dalam hidupku adalah nggak bisa menahanmu saat kelulusan dulu.""Waktu aku melihat berita itu, aku merasa marah, sekaligus senang." Mario terdiam sejenak, nadanya penuh kepahitan."Aku marah karena dia bisa mendapatkanmu dengan begitu mudah, tetapi malah menghinamu seperti itu.""Tapi, di sisi lain, aku merasakan sedikit kebahagiaan yang hina. Mungkin … ini kesempatan bagiku untuk membuatmu kembali padaku.""Alisha." Suara Mario terdengar agak tercekat. "Aku nggak memintamu untuk menjawabnya sekarang. Tapi, saat tiba hari kamu ingin memulai lembaran baru, tolong pertimbangkan aku sebagai orang pertama, ya?"Di tengah remang cahaya lilin yang bergoyang, terlintas di benakku segala bentuk pengorbanan yang sudah dilakukan Mario untukku. Sosoknya yang tampak begitu berhati-hati saat ini sangat mirip dengan

  • Cinta Tanpa Gema   Bab 8

    Larut malam, sebuah video pengaduan dengan pengakuan langsung dari pelapor mengguncang seluruh dunia maya.Dalam video tersebut, Fian tampak lesu dan kuyu, tetapi tatapan matanya begitu tegas.Dengan nada bicara tenang dan penjelasan yang teratur, Fian membongkar kepalsuan Lavina dalam perjalanan karier musik orisinalnya.Fian mengungkapkan bahwa seluruh karya musik orisinal milik Lavina, sebenarnya adalah hasil tulisan tangannya sendiri. Sementara, klip-klip musik yang viral di internet merupakan hasil meniru suara orang lain yang dilakukan secara sengaja oleh Lavina.Suara yang paling sering ditiru oleh Lavina tidak lain adalah suara Alisha, mantan istri Fian, sosok yang selama ini diabaikan Fian, disakiti Fian dan pada akhirnya pergi meninggalkan Fian."Akulah yang sudah membantu kelancaran penipuan ini, menodai kemurnian musik dan menyakiti banyak orang. Untuk itu, aku menyampaikan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya."Di akhir video, Fian pun mengumumkan sebuah fakta dengan nada

  • Cinta Tanpa Gema   Bab 7

    "Kak Fian, Kak Lavina menderita kehilangan suara. Tapi, dokter bilang itu bisa disembuhkan." Manajer menarik Fian keluar dari ruang kerja. Suaranya tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.Lavina berdiri di samping. Matanya berkaca-kaca karena merasa lega.Akan tetapi, Fian tetap bergeming dan tidak menunjukkan reaksi apa pun."Kak Fian, lagu baru yang Kakak kerjakan bersama Kak Lavina bisa menjadi karya kembalinya dia ke dunia musik. Waktunya sangat tepat."Lavina mengangguk-angguk, menatap Fian dengan penuh harap.Fian hanya menepis tangan manajernya, lalu berkata dengan suara serak, "Aku nggak bisa nulis lagi.""Apa?" Lavina dan manajer itu tersentak secara bersamaan. Mereka pun saling berpandangan dengan bingung.Tatapan mata Fian tampak kosong saat menatap mereka. Dia pun berkata pelan dengan penuh penekanan, "Aku bilang, aku nggak bisa nulis lagu lagi.""Bagaimana mungkin?" Manajer itu terlihat cemas."Setelah Alisha pergi, di dalam benakku cuma tersisa suaranya. Aku nggak bisa

  • Cinta Tanpa Gema   Bab 6

    "Bu, pesawat sudah mendarat." Panggilan lembut dari pramugari menarikku keluar dari mimpiku yang kacau balau.Aku mengerjapkan mata, menatap ke luar jendela, ke arah tanah yang asing, tetapi akrab dan merasa agak linglung.Mario Naraya berdiri sambil memeluk seikat bunga matahari dan melambaikan tangan ke arahku di pintu kedatangan.Aku dan Mario adalah alumni kampus yang sama. Sebagai sesama orang yang berasal dari negara yang sama, yang tumbuh besar di Negara Malori, hubungan kami lebih dekat dibanding dengan teman-teman sekelas lainnya.Setelah lulus, aku ingin mencari kembali Fian. Jadi, dengan tekad yang bulat, aku memutuskan untuk pulang ke tanah air bersama orang tuaku. Sementara itu, Mario tetap tinggal di Negara Malori untuk meneruskan bisnis stasiun radio keluarganya.Saat berpisah, Mario dengan penuh kesabaran berjanji kepadaku bahwa jika suatu hari nanti aku tidak bisa menemukan kembali masa laluku, dia akan selamanya menungguku di Negara Malori."Pemilik rumah lamamu nggak

  • Cinta Tanpa Gema   Bab 5

    Dengan tangan gemetar, Fian berkali-kali menghubungi nomor telepon Alisha. Namun, yang terdengar dari telepon hanyalah suara dingin mesin operator. "Nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan."Akhirnya, Fian menghubungi nomor asistennya dan memerintahkannya untuk mencari keberadaan Alisha.Lavina terbangun karena suara-suara itu. Dia pun mengangkat ponselnya dan bertanya kepada Fian mengenai apa yang sedang terjadi.Fian menatap Lavina dengan tajam. "Apa kamu benar-benar gadis kecil yang dulu menyanyi untukku di depan pintuku waktu aku masih kecil?"[Tentu saja itu aku, Fian. Kenapa kamu bertanya seperti itu?] Mata Lavina berkilat untuk sesaat. Wajahnya langsung terlihat terkejut dan tersakiti."Lalu, kenapa Alisha punya kaset yang berisi rekaman lagu yang kamu ciptakan dan kamu nyanyikan sendiri waktu masih kecil?" Fian mengangkat kaset itu tinggi-tinggi. Matanya penuh dengan kecurigaan.Wajah Lavina langsung pucat pasi. Sebelum dia sempat memikirkan jawaban, ponsel Fian be

  • Cinta Tanpa Gema   Bab 4

    Setelah dengan susah payah membalut luka-lukaku sendiri, suara decitan rem yang memekakkan telinga memecah keheningan.Fian menerjang masuk dengan wajah penuh kemarahan. Sebelum aku sempat berbicara, tangannya yang besar sudah mencekik leherku dengan kuat."Apa yang kamu campurkan ke dalam makanan itu?" Mata Fian memerah karena murka. "Kenapa Lavina kehilangan suaranya setelah memakan masakanmu?"Aku langsung merasa tidak bisa bernapas. Aku menggelengkan kepala sekuat tenaga sambil memukuli lengan Fian."Nggak mau ngaku?" Nada bicara Fian terdengar kejam. "Ikut aku ke rumah sakit sekarang juga. Berlutut di depan Lavina dan katakan sendiri yang sebenarnya!"...Fian pun mengempaskanku dengan kasar ke lantai rumah sakit yang dingin, lalu berbalik untuk memeluk sosok yang tengah gemetar itu.Lavina dengan mata berkaca-kaca mengangkat ponselnya ke arahku: [Suaraku adalah nyawaku. Kenapa … kamu tega mencelakaiku seperti ini?]Aku berusaha sekuat tenaga untuk bangkit dan menatap mereka lekat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status