Share

Bab 2

Author: Teh Santai
Perekam suara ini berisi janjinya padaku di samping ranjangku di rumah sakit dahulu. Fian tidak pernah membiarkannya lepas dari sisinya.

Aku menekan tombolnya pelan dan suara Fian pun perlahan mulai terdengar.

"Lavina, aku sudah menemukan sampel suara yang paling cocok untuk kamu tiru. Aku harap, kamu bisa mencapai puncak kesuksesan di dunia musik."

Setelah itu, potongan demi potongan suaraku mulai diputar secara berurutan.

Suara tangisan, tawa, manja, senandung tak sadar, bahkan hingga bisikan-bisikan saat gairah sedang memuncak ….

Di setiap akhir potongan suara, selalu ada potongan suara Fian yang dingin, sebagai penanda.

"Sampel-101-Isak Tangis. Ketegangan dalam isakan ini sangat kuat, bisa digunakan sebagai akor untuk bagian reff."

"Sampel-622-Hubungan Intim. Getaran halus pada bagian ini bisa ditiru untuk menambah daya tarik emosional."

Rasa malu yang luar biasa, bagaikan sebuah tangan tak terlihat, mengaduk-aduk isi perutku. Rasa mual naik dari perut sampai tenggorokan. Aku tertelungkup di sofa sambil terus-menerus mual ingin muntah. Sementara itu, air mata membanjiri wajahku.

Aku berusaha sekuat tenaga untuk mematikan alat perekam itu, tetapi tanganku gemetar hebat hingga tidak bisa dikendalikan.

Ternyata, alasan Fian tidak bisa mengenali suaraku adalah karena suaraku ini sudah lama dianggapnya sebagai salah satu "alat bantu pengajaran".

Setelah semalaman tidak tidur, aku bersiap lebih awal untuk menghadapi "konferensi pers klarifikasi" hari ini.

Begitu konferensi pers dimulai, aku segera menekan mikrofon terlebih dahulu.

"Hari ini, aku ingin menjelaskan dua hal pada kalian semua."

"Pertama, aku sudah membohongi kalian semua. Fian suamiku, memang nggak mengenali suaraku."

"Kedua, aku putuskan untuk bercerai dengan Pak Fian dan memberikan posisi ini kepada 'belahan jiwanya'."

Setelah berkata seperti itu, tanpa menghiraukan kegemparan yang terjadi di lokasi, aku berbalik dan meninggalkan ruangan.

Setelah tersadar dari rasa terkejutnya, Fian menerobos kerumunan orang, lalu menyeretku ke ruang rapat sebelah, di ujung koridor.

Fian memijat pangkal hidungnya, menahan amarah sambil menginterogasiku, "Alisha, apa kamu sadar dengan apa yang kamu lakukan?"

"Aku cuma mewujudkan keinginan kalian."

"Kamu ini bicara apa sih? Aku nggak akan mungkin menceraikanmu."

Pintu ruang rapat tiba-tiba terbuka. Lavina berdiri di depan pintu dengan wajah pucat pasi.

"Kak Alisha, maafkan aku." Lavina bergegas menghampiriku. Ekspresi bersalah di wajahnya tampak dibuat-buat. "Aku dan Fian benar-benar nggak ada apa-apa."

"Kami … cuma sama-sama mencintai musik. Tolong jangan salah paham."

"Aaakh!" Saat mendekatiku, Lavina tiba-tiba menjerit kesakitan. Sebuah teko air panas yang sudah kosong terguling di lantai.

Lengan dan pahaku langsung terasa panas membakar.

Fian sontak mendorongku menjauh. Dengan cepat, dia membuka botol air, lalu membungkuk untuk membasuh punggung tangan Lavina yang memerah terkena percikan air.

"Dia ini figur publik. Nggak boleh terluka, apalagi sampai meninggalkan bekas luka." Tatapan Fian yang dingin menyapu diriku. "Yang ada di hati Lavina cuma masa depan kariernya di bidang seni. Jangan pakai cara-cara kotor karena cemburu untuk menghancurkannya."

"Aku bawa dia ke rumah sakit dulu. Semua ini kita bicarakan nanti." Setelah berkata seperti itu, Fian membopong Lavina dan bergegas pergi.

Rasa sakit yang membakar membuatku tidak mampu mengeluarkan kata-kata untuk membantah. Menatap deretan lepuhan yang mulai membengkak di lenganku, entah mengapa, aku merasa semua ini sangatlah ironis.

Fian mungkin sudah lupa bahwa sebelum mengenalnya, aku adalah seorang penyiar radio malam yang cukup terkenal, yang menyembuhkan banyak jiwa yang kesepian melalui suaraku.

Tak lama setelah menikah, Fian jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit karena penyakit lambung yang parah. Demi menyembuhkan penyakitnya, aku terpaksa melepaskan pekerjaanku di radio dan menemaninya berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain, hanya agar Fian bisa menyantap makanan lezat yang baik bagi lambungnya setiap kali dia selesai bekerja.

Semua pengorbanan yang kulakukan untuknya, kini justru dia jadikan senjata untuk menghakimiku.

Ponselku tiba-tiba berdering. Sambil menahan rasa sakit yang menyengat, aku menekan tombol jawab.

"Alisha, aku … sudah melihat beritanya."

"Kalau … kamu nggak bahagia di sana, janjiku yang dulu tetap berlaku selamanya. Selalu ada tempat untukmu di stasiun radio Negara Malori."

Suara di ujung telepon itu terasa seperti aliran hangat yang mengalir masuk ke dalam tubuhku yang terasa hampa.

Mataku langsung berkaca-kaca. "Baik, sampai jumpa sepuluh hari lagi."
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Tanpa Gema   Bab 9

    "Kamu … mabuk." Tanpa sadar aku menarik tanganku, tetapi Mario justru mencengkeramnya dengan erat."Aku sadar sepenuhnya." Suara Mario terdengar agak mendesak. "Hal yang paling kusesali dalam hidupku adalah nggak bisa menahanmu saat kelulusan dulu.""Waktu aku melihat berita itu, aku merasa marah, sekaligus senang." Mario terdiam sejenak, nadanya penuh kepahitan."Aku marah karena dia bisa mendapatkanmu dengan begitu mudah, tetapi malah menghinamu seperti itu.""Tapi, di sisi lain, aku merasakan sedikit kebahagiaan yang hina. Mungkin … ini kesempatan bagiku untuk membuatmu kembali padaku.""Alisha." Suara Mario terdengar agak tercekat. "Aku nggak memintamu untuk menjawabnya sekarang. Tapi, saat tiba hari kamu ingin memulai lembaran baru, tolong pertimbangkan aku sebagai orang pertama, ya?"Di tengah remang cahaya lilin yang bergoyang, terlintas di benakku segala bentuk pengorbanan yang sudah dilakukan Mario untukku. Sosoknya yang tampak begitu berhati-hati saat ini sangat mirip dengan

  • Cinta Tanpa Gema   Bab 8

    Larut malam, sebuah video pengaduan dengan pengakuan langsung dari pelapor mengguncang seluruh dunia maya.Dalam video tersebut, Fian tampak lesu dan kuyu, tetapi tatapan matanya begitu tegas.Dengan nada bicara tenang dan penjelasan yang teratur, Fian membongkar kepalsuan Lavina dalam perjalanan karier musik orisinalnya.Fian mengungkapkan bahwa seluruh karya musik orisinal milik Lavina, sebenarnya adalah hasil tulisan tangannya sendiri. Sementara, klip-klip musik yang viral di internet merupakan hasil meniru suara orang lain yang dilakukan secara sengaja oleh Lavina.Suara yang paling sering ditiru oleh Lavina tidak lain adalah suara Alisha, mantan istri Fian, sosok yang selama ini diabaikan Fian, disakiti Fian dan pada akhirnya pergi meninggalkan Fian."Akulah yang sudah membantu kelancaran penipuan ini, menodai kemurnian musik dan menyakiti banyak orang. Untuk itu, aku menyampaikan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya."Di akhir video, Fian pun mengumumkan sebuah fakta dengan nada

  • Cinta Tanpa Gema   Bab 7

    "Kak Fian, Kak Lavina menderita kehilangan suara. Tapi, dokter bilang itu bisa disembuhkan." Manajer menarik Fian keluar dari ruang kerja. Suaranya tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.Lavina berdiri di samping. Matanya berkaca-kaca karena merasa lega.Akan tetapi, Fian tetap bergeming dan tidak menunjukkan reaksi apa pun."Kak Fian, lagu baru yang Kakak kerjakan bersama Kak Lavina bisa menjadi karya kembalinya dia ke dunia musik. Waktunya sangat tepat."Lavina mengangguk-angguk, menatap Fian dengan penuh harap.Fian hanya menepis tangan manajernya, lalu berkata dengan suara serak, "Aku nggak bisa nulis lagi.""Apa?" Lavina dan manajer itu tersentak secara bersamaan. Mereka pun saling berpandangan dengan bingung.Tatapan mata Fian tampak kosong saat menatap mereka. Dia pun berkata pelan dengan penuh penekanan, "Aku bilang, aku nggak bisa nulis lagu lagi.""Bagaimana mungkin?" Manajer itu terlihat cemas."Setelah Alisha pergi, di dalam benakku cuma tersisa suaranya. Aku nggak bisa

  • Cinta Tanpa Gema   Bab 6

    "Bu, pesawat sudah mendarat." Panggilan lembut dari pramugari menarikku keluar dari mimpiku yang kacau balau.Aku mengerjapkan mata, menatap ke luar jendela, ke arah tanah yang asing, tetapi akrab dan merasa agak linglung.Mario Naraya berdiri sambil memeluk seikat bunga matahari dan melambaikan tangan ke arahku di pintu kedatangan.Aku dan Mario adalah alumni kampus yang sama. Sebagai sesama orang yang berasal dari negara yang sama, yang tumbuh besar di Negara Malori, hubungan kami lebih dekat dibanding dengan teman-teman sekelas lainnya.Setelah lulus, aku ingin mencari kembali Fian. Jadi, dengan tekad yang bulat, aku memutuskan untuk pulang ke tanah air bersama orang tuaku. Sementara itu, Mario tetap tinggal di Negara Malori untuk meneruskan bisnis stasiun radio keluarganya.Saat berpisah, Mario dengan penuh kesabaran berjanji kepadaku bahwa jika suatu hari nanti aku tidak bisa menemukan kembali masa laluku, dia akan selamanya menungguku di Negara Malori."Pemilik rumah lamamu nggak

  • Cinta Tanpa Gema   Bab 5

    Dengan tangan gemetar, Fian berkali-kali menghubungi nomor telepon Alisha. Namun, yang terdengar dari telepon hanyalah suara dingin mesin operator. "Nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan."Akhirnya, Fian menghubungi nomor asistennya dan memerintahkannya untuk mencari keberadaan Alisha.Lavina terbangun karena suara-suara itu. Dia pun mengangkat ponselnya dan bertanya kepada Fian mengenai apa yang sedang terjadi.Fian menatap Lavina dengan tajam. "Apa kamu benar-benar gadis kecil yang dulu menyanyi untukku di depan pintuku waktu aku masih kecil?"[Tentu saja itu aku, Fian. Kenapa kamu bertanya seperti itu?] Mata Lavina berkilat untuk sesaat. Wajahnya langsung terlihat terkejut dan tersakiti."Lalu, kenapa Alisha punya kaset yang berisi rekaman lagu yang kamu ciptakan dan kamu nyanyikan sendiri waktu masih kecil?" Fian mengangkat kaset itu tinggi-tinggi. Matanya penuh dengan kecurigaan.Wajah Lavina langsung pucat pasi. Sebelum dia sempat memikirkan jawaban, ponsel Fian be

  • Cinta Tanpa Gema   Bab 4

    Setelah dengan susah payah membalut luka-lukaku sendiri, suara decitan rem yang memekakkan telinga memecah keheningan.Fian menerjang masuk dengan wajah penuh kemarahan. Sebelum aku sempat berbicara, tangannya yang besar sudah mencekik leherku dengan kuat."Apa yang kamu campurkan ke dalam makanan itu?" Mata Fian memerah karena murka. "Kenapa Lavina kehilangan suaranya setelah memakan masakanmu?"Aku langsung merasa tidak bisa bernapas. Aku menggelengkan kepala sekuat tenaga sambil memukuli lengan Fian."Nggak mau ngaku?" Nada bicara Fian terdengar kejam. "Ikut aku ke rumah sakit sekarang juga. Berlutut di depan Lavina dan katakan sendiri yang sebenarnya!"...Fian pun mengempaskanku dengan kasar ke lantai rumah sakit yang dingin, lalu berbalik untuk memeluk sosok yang tengah gemetar itu.Lavina dengan mata berkaca-kaca mengangkat ponselnya ke arahku: [Suaraku adalah nyawaku. Kenapa … kamu tega mencelakaiku seperti ini?]Aku berusaha sekuat tenaga untuk bangkit dan menatap mereka lekat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status