Share

Cinta Tanpa Gema
Cinta Tanpa Gema
Author: Teh Santai

Bab 1

Author: Teh Santai
Setelah pembawa acara mengumumkan jawabannya, suasana di bawah panggung langsung heboh.

Mata si sutradara berkilat. Dia langsung mengambil keputusan dan memberikan instruksi kepada pembawa acara melalui earpiece, "Cepat, hubungkan secara langsung. Hubungkan kedua belah pihak."

Detik berikutnya, ponselku berdering.

"Bu Alisha." Pembawa acara langsung bertanya, "Menurut Anda, apa Pak Fian bisa mengenali suara Anda?"

Aku berusaha keras untuk tersenyum, lalu berkata, "Nggak."

"Kenapa begitu?"

"Hari itu aku flu berat. Suaraku berubah. Fian sedang tur di luar kota …. Dia belum pernah mendengarnya." Rasa malu membuat suaraku sedikit bergetar. "Wajar saja … kalau dia nggak mengenalinya."

Setelah sambunganku diputus, layar besar menampilkan panggilan video dengan Lavina Gamali.

"Halo, Lavina." Nada bicara pembawa acara menyiratkan sedikit rasa ingin tahu. "Fian berhasil mengenali suaramu dengan tepat di antara 20 suara yang mirip. Ada yang mau kamu sampaikan?"

Lavina tersenyum tenang ke arah kamera. "Aku dan Fian terikat oleh musik sejak kecil. Kami adalah belahan jiwa di perjalanan musik masing-masing."

"Kami bisa mengenali suara satu sama lain dengan mudah, persis seperti garpu tala yang bergetar pada frekuensi khususnya sendiri. Ini adalah reaksi naluriah."

Kamera sutradara beralih ke Fian. Fian menatap layar besar lekat-lekat dengan tatapan penuh pujian. Fian pun tersenyum, mengangguk pelan sebagai tanda setuju.

Kata-kata pembelaan yang kuucapkan sebelumnya, kini terasa seperti tamparan dingin yang menghantam keras wajahku sendiri.

Ternyata, yang mempermalukan diri sendiri di sini hanyalah aku.

Setelah acara tersebut ditayangkan, tagar-tagar terkait seperti: [Citra Fian Dengan Kemampuan Mengenali Nada Hancur], [Pasangan Fian dan Lavina Susah Move On], [Lavina Si Belahan Jiwa] begitu viral, sampai hampir menguasai topik yang sedang trending.

Fian memutus komunikasi denganku. Dia tetap di kantor, sibuk menghapus topik yang sedang trending tersebut dan tidak pulang selama beberapa hari.

Ponselku juga dibanjiri telepon dari penggemar fanatik pasangan itu. Cacian kasar mereka membuatku tidak berdaya.

Tiba-tiba, muncul sebuah pertanyaan yang mengguncang opini publik: [Lavina tahu betul Fian sudah nikah. Tapi, dia tetap menyebut dirinya sebagai "belahan jiwa". Kelakuan macam apa itu?]

Tak lama kemudian, Fian bersama manajernya muncul di rumah setelah sekian lama.

"Kak Alisha." Manajer itu pun berkata dengan nada sedikit menyalahkan. "Kak Fian sudah beberapa hari nggak tidur demi menangani kekacauan ini."

Aku diam dan tidak menanggapi. Biasanya, aku pasti akan mendekat dan bertanya dengan penuh perhatian.

Fian pun mengerutkan kening dan memecah keheningan. "Alisha, masalah ini bermula dari kita, tapi Bu Lavina yang nggak bersalah ikut terseret. Bahkan, memengaruhi kariernya."

"Kita akan adakan konferensi pers untuk meminta maaf secara langsung kepadanya." Fian menghindari tatapanku, tetapi nada bicaranya tidak menerima bantahan.

"Aku … minta maaf padanya?" Aku mengulang kalimat itu berkali-kali dan hanya rasa pahit yang memenuhi mulutku.

"Suaraku dan suaranya sangat mirip. Kamu bisa mengenali suaranya dengan tepat, tapi malah nggak bisa mengingat suaraku. Bukankah harusnya kamu kasih aku penjelasan?"

"Kami cuma selaras dalam musik, itu saja." Nada bicara Fian terdengar tidak sabar. "Turuti saja kata-kataku. Bersiap-siaplah. Besok aku akan menjemputmu."

Setelah berkata seperti itu, Fian berbalik pergi bersama manajernya.

Aku jatuh terduduk dengan lesu di sofa. Namun, ujung jariku menyentuh logam yang dingin. Itu adalah alat perekam suara milik Fian yang tertinggal.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Cinta Tanpa Gema   Bab 9

    "Kamu … mabuk." Tanpa sadar aku menarik tanganku, tetapi Mario justru mencengkeramnya dengan erat."Aku sadar sepenuhnya." Suara Mario terdengar agak mendesak. "Hal yang paling kusesali dalam hidupku adalah nggak bisa menahanmu saat kelulusan dulu.""Waktu aku melihat berita itu, aku merasa marah, sekaligus senang." Mario terdiam sejenak, nadanya penuh kepahitan."Aku marah karena dia bisa mendapatkanmu dengan begitu mudah, tetapi malah menghinamu seperti itu.""Tapi, di sisi lain, aku merasakan sedikit kebahagiaan yang hina. Mungkin … ini kesempatan bagiku untuk membuatmu kembali padaku.""Alisha." Suara Mario terdengar agak tercekat. "Aku nggak memintamu untuk menjawabnya sekarang. Tapi, saat tiba hari kamu ingin memulai lembaran baru, tolong pertimbangkan aku sebagai orang pertama, ya?"Di tengah remang cahaya lilin yang bergoyang, terlintas di benakku segala bentuk pengorbanan yang sudah dilakukan Mario untukku. Sosoknya yang tampak begitu berhati-hati saat ini sangat mirip dengan

  • Cinta Tanpa Gema   Bab 8

    Larut malam, sebuah video pengaduan dengan pengakuan langsung dari pelapor mengguncang seluruh dunia maya.Dalam video tersebut, Fian tampak lesu dan kuyu, tetapi tatapan matanya begitu tegas.Dengan nada bicara tenang dan penjelasan yang teratur, Fian membongkar kepalsuan Lavina dalam perjalanan karier musik orisinalnya.Fian mengungkapkan bahwa seluruh karya musik orisinal milik Lavina, sebenarnya adalah hasil tulisan tangannya sendiri. Sementara, klip-klip musik yang viral di internet merupakan hasil meniru suara orang lain yang dilakukan secara sengaja oleh Lavina.Suara yang paling sering ditiru oleh Lavina tidak lain adalah suara Alisha, mantan istri Fian, sosok yang selama ini diabaikan Fian, disakiti Fian dan pada akhirnya pergi meninggalkan Fian."Akulah yang sudah membantu kelancaran penipuan ini, menodai kemurnian musik dan menyakiti banyak orang. Untuk itu, aku menyampaikan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya."Di akhir video, Fian pun mengumumkan sebuah fakta dengan nada

  • Cinta Tanpa Gema   Bab 7

    "Kak Fian, Kak Lavina menderita kehilangan suara. Tapi, dokter bilang itu bisa disembuhkan." Manajer menarik Fian keluar dari ruang kerja. Suaranya tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya.Lavina berdiri di samping. Matanya berkaca-kaca karena merasa lega.Akan tetapi, Fian tetap bergeming dan tidak menunjukkan reaksi apa pun."Kak Fian, lagu baru yang Kakak kerjakan bersama Kak Lavina bisa menjadi karya kembalinya dia ke dunia musik. Waktunya sangat tepat."Lavina mengangguk-angguk, menatap Fian dengan penuh harap.Fian hanya menepis tangan manajernya, lalu berkata dengan suara serak, "Aku nggak bisa nulis lagi.""Apa?" Lavina dan manajer itu tersentak secara bersamaan. Mereka pun saling berpandangan dengan bingung.Tatapan mata Fian tampak kosong saat menatap mereka. Dia pun berkata pelan dengan penuh penekanan, "Aku bilang, aku nggak bisa nulis lagu lagi.""Bagaimana mungkin?" Manajer itu terlihat cemas."Setelah Alisha pergi, di dalam benakku cuma tersisa suaranya. Aku nggak bisa

  • Cinta Tanpa Gema   Bab 6

    "Bu, pesawat sudah mendarat." Panggilan lembut dari pramugari menarikku keluar dari mimpiku yang kacau balau.Aku mengerjapkan mata, menatap ke luar jendela, ke arah tanah yang asing, tetapi akrab dan merasa agak linglung.Mario Naraya berdiri sambil memeluk seikat bunga matahari dan melambaikan tangan ke arahku di pintu kedatangan.Aku dan Mario adalah alumni kampus yang sama. Sebagai sesama orang yang berasal dari negara yang sama, yang tumbuh besar di Negara Malori, hubungan kami lebih dekat dibanding dengan teman-teman sekelas lainnya.Setelah lulus, aku ingin mencari kembali Fian. Jadi, dengan tekad yang bulat, aku memutuskan untuk pulang ke tanah air bersama orang tuaku. Sementara itu, Mario tetap tinggal di Negara Malori untuk meneruskan bisnis stasiun radio keluarganya.Saat berpisah, Mario dengan penuh kesabaran berjanji kepadaku bahwa jika suatu hari nanti aku tidak bisa menemukan kembali masa laluku, dia akan selamanya menungguku di Negara Malori."Pemilik rumah lamamu nggak

  • Cinta Tanpa Gema   Bab 5

    Dengan tangan gemetar, Fian berkali-kali menghubungi nomor telepon Alisha. Namun, yang terdengar dari telepon hanyalah suara dingin mesin operator. "Nomor yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan."Akhirnya, Fian menghubungi nomor asistennya dan memerintahkannya untuk mencari keberadaan Alisha.Lavina terbangun karena suara-suara itu. Dia pun mengangkat ponselnya dan bertanya kepada Fian mengenai apa yang sedang terjadi.Fian menatap Lavina dengan tajam. "Apa kamu benar-benar gadis kecil yang dulu menyanyi untukku di depan pintuku waktu aku masih kecil?"[Tentu saja itu aku, Fian. Kenapa kamu bertanya seperti itu?] Mata Lavina berkilat untuk sesaat. Wajahnya langsung terlihat terkejut dan tersakiti."Lalu, kenapa Alisha punya kaset yang berisi rekaman lagu yang kamu ciptakan dan kamu nyanyikan sendiri waktu masih kecil?" Fian mengangkat kaset itu tinggi-tinggi. Matanya penuh dengan kecurigaan.Wajah Lavina langsung pucat pasi. Sebelum dia sempat memikirkan jawaban, ponsel Fian be

  • Cinta Tanpa Gema   Bab 4

    Setelah dengan susah payah membalut luka-lukaku sendiri, suara decitan rem yang memekakkan telinga memecah keheningan.Fian menerjang masuk dengan wajah penuh kemarahan. Sebelum aku sempat berbicara, tangannya yang besar sudah mencekik leherku dengan kuat."Apa yang kamu campurkan ke dalam makanan itu?" Mata Fian memerah karena murka. "Kenapa Lavina kehilangan suaranya setelah memakan masakanmu?"Aku langsung merasa tidak bisa bernapas. Aku menggelengkan kepala sekuat tenaga sambil memukuli lengan Fian."Nggak mau ngaku?" Nada bicara Fian terdengar kejam. "Ikut aku ke rumah sakit sekarang juga. Berlutut di depan Lavina dan katakan sendiri yang sebenarnya!"...Fian pun mengempaskanku dengan kasar ke lantai rumah sakit yang dingin, lalu berbalik untuk memeluk sosok yang tengah gemetar itu.Lavina dengan mata berkaca-kaca mengangkat ponselnya ke arahku: [Suaraku adalah nyawaku. Kenapa … kamu tega mencelakaiku seperti ini?]Aku berusaha sekuat tenaga untuk bangkit dan menatap mereka lekat

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status