"Ahh... Ahh... Ahh..." Tangan Roni terhenti di udara saat ia hendak mengetuk pintu apartemen kekasihnya. Di tangan satunya, tergenggam sebuah amplop berisi uang pesangon, jumlah yang tak sebanding dengan kehancuran karinya setelah dipecat dari restoran hari ini. Suara desahan itu cukup menusuk telinganya. Ia datang ke sini untuk mencari sandaran, tapi yang ditemukan justru suara kenikmatan yang membuat dadanya sesak. "Uhh..." Terdengar erangan berat seorang pria menyusul. "Shinta...?" gumam Roni, suaranya hampir hilang. Darahnya mendidih. Tanpa pikir panjang, ia mengepalkan tangan dan menggedor pintu apartemen dengan keras. Brak! Brak! Brak! Di dalam terdengar suara panik—langkah kaki tergesa, barang berjatuhan, bisik buru-buru. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Klek! Shinta berdiri di ambang pintu, hanya membalut tubuhnya dengan selimut yang nyaris tak menutupi apa pun. Rambutnya acak-acakan, wajahnya pucat. "R-Roni...?" suaranya bergetar. Dari balik bahunya, Roni m
Last Updated : 2026-04-15 Read more