Kabut di Lembah Bayangan terasa seperti dinding hidup, tebal dan dingin, menelan suara langkah mereka. Roni memimpin dengan hati-hati, liontin di lehernya berdenyut pelan sebagai satu-satunya cahaya samar.Lukanya di lengan masih perih, mengingatkannya bahwa kekuatan Mother Earth bukan jaminan kemenangan. Di belakangnya, Dewi, Shinta, Kirana, Safitri, Gita, dan Lira bergerak tanpa suara, tapi ketegangan terasa di setiap napas."Kita tidak langsung serbu," bisik Roni sambil berhenti di balik batu besar. Altar pusat sudah terlihat samar—sebuah panggung batu kuno dengan rantai besi. Sosok kecil di tengahnya, Laila, kepalanya tertunduk lemah. "Varian pasti pasang jebakan. Kirana, Gita—kalian dari atas. Safitri dan Shinta, samping kiri. Dewi dan Lira, cover aku dari belakang."Dewi menyentuh lengannya. "Tuan, kamu yakin? Kamu sudah terluka dua kali. Biar kami yang ambil resiko dulu.""Aku harus," jawab Roni pelan, matanya penuh tekad. "Dia adikku. Kalau sinyal darurat, kalian mundur dan su
Baca selengkapnya