تسجيل الدخول(21+) Tiga ekor merpati yang kuselamatkan semalam berubah menjadi wanita-wanita cantik yang kini hadir di hadapanku. Mereka menuntut janji balas budi dan memintaku untuk memberikan mereka keturunan. Aku ingin sekali membantu mereka, namun apa yang harus aku perbuat?
عرض المزيد"Ahh... Ahh... Ahh..."
Tangan Roni terhenti di udara saat ia hendak mengetuk pintu apartemen kekasihnya. Di tangan satunya, tergenggam sebuah amplop berisi uang pesangon, jumlah yang tak sebanding dengan kehancuran karinya setelah dipecat dari restoran hari ini. Suara desahan itu cukup menusuk telinganya. Ia datang ke sini untuk mencari sandaran, tapi yang ditemukan justru suara kenikmatan yang membuat dadanya sesak. "Uhh..." Terdengar erangan berat seorang pria menyusul. "Shinta...?" gumam Roni, suaranya hampir hilang. Darahnya mendidih. Tanpa pikir panjang, ia mengepalkan tangan dan menggedor pintu apartemen dengan keras. Brak! Brak! Brak! Di dalam terdengar suara panik—langkah kaki tergesa, barang berjatuhan, bisik buru-buru. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Klek! Shinta berdiri di ambang pintu, hanya membalut tubuhnya dengan selimut yang nyaris tak menutupi apa pun. Rambutnya acak-acakan, wajahnya pucat. "R-Roni...?" suaranya bergetar. Dari balik bahunya, Roni melihat seorang pria bertelanjang dada duduk di sofa, buru-buru memasang resleting celananya sambil menatap panik. Sesaat suasana membeku. "Kamu... selingkuh?" tanya Roni, suaranya rendah tapi bergetar penuh amarah. Shinta mundur selangkah. "Ron, dengar dulu—" Roni mendorong tubuh Shinta ke samping dengan pelan, lalu melangkah masuk. Matanya terkunci pada pria di sofa. "Kamu berani sentuh pacarku, bangsat!" Ia menerjang maju, tapi pria itu lebih sigap. Satu pukulan keras mendarat di pipi Roni, membuatnya terhuyung. Pukulan kedua tepat di perut, membuatnya terjatuh berlutut. "Ron! Stop!" teriak Shinta sambil berusaha menarik lengan pria itu. Tapi pria itu sudah naik emosi. Ia menghajar Roni lagi, hingga bibir Roni pecah dan berdarah. Rasa asin tembaga memenuhi mulutnya. "Cukup!" Shinta akhirnya berhasil melerai, berdiri di antara mereka dengan selimut yang hampir melorot. Roni bangkit pelan, napasnya tersengal. Ia menyeka darah di bibir dengan punggung tangan sambil menatap Shinta dengan mata berkaca-kaca. "Jadi benar... kamu selingkuh sama dia?" Shinta diam sejenak. Lalu bahunya turun, ekspresinya berubah dingin. "Iya," jawabnya datar. "Memangnya kenapa?" Roni merasa kepalanya berputar. "Tega kamu, Shin... dua tahun kita bersama—" "Tega?" Shinta memotong dengan suara meninggi. "Kamu yang tega, Ron! Aku capek! Dua tahun aku nunggu kamu bisa kasih masa depan yang jelas. Tapi apa yang kamu kasih? Selalu miskin, selalu janji doang! Aku mau nikah, Ron. Aku mau hidup layak!" Pria di sofa sudah berdiri, memakai kaosnya dengan cepat. Ia melirik Shinta, lalu Roni, seolah ingin berkata sesuatu tapi akhirnya memilih diam. Roni hanya bisa tertawa pahit, suaranya bergetar. "Jadi ini alasanmu? Karena aku miskin?" "Bukan cuma itu," balas Shinta, suaranya mulai pecah. "Kamu nggak pernah berubah, Ron. Aku capek jadi orang yang selalu nunggu. Dia..." ia melirik pria itu sekilas, "dia bisa kasih yang aku butuhin sekarang." Roni menatap Shinta lama, seperti mencari sisa cinta di matanya. Yang ia temukan hanya kelelahan dan keputusasaan. Tanpa berkata lagi, ia berbalik menuju pintu. Langkahnya gontai, bahunya lunglai. Di ambang pintu, ia berhenti sebentar. "Semoga kamu bahagia, Shin," katanya pelan, tanpa menoleh. Pintu apartemen tertutup di belakangnya dengan pelan. Siang terasa cukup menyengat saat Roni berjalan pulang, amplop uang di tangannya sudah tak berarti apa-apa lagi. Hanya ada rasa hampa yang menggerogoti dada, semakin dalam dengan setiap langkah. Ting! Sebuah pesan masuk ke ponselnya. Mas, bagaimana kabarnya? Laila bisa minta uang buat bayar SPP? Terus obat ibu juga belum ditebus… Maaf ya Mas. Laila janji setelah lulus akan bantu Mas Roni buat biaya obat-obatan Ibu… “Maafkan Mas ya, Dek, Buk…” Roni meremas handphonenya, dadanya seketika terenyuh. Anak pertama, laki-laki. Tapi, ia selalu merasa tak berguna… Namun, saat jari-jarinya hendak mengetik di handphone seraya berjalan, tiba-tiba… “Le! Awas pohon tumbang!” Roni tak sadar jika ia tengah melewati sebuah pohon tua yang hampir roboh. Krekk! Pohon itu batangnya retak dan condong ke arah trotoar. Para pejalan kaki berteriak panik, mundur dengan cepat. Termasuk Roni. Namun, ekor matanya tiba-tiba melihat sebuah sarang burung dengan tiga ekor merpati yang bertengger di dalamnya. Pohon itu mau tumbang, tapi kenapa burung-burung itu tidak lekas terbang? Tanpa banyak berpikir, Roni yang tadinya mundur bersama para pejalan kaki yang lain sambil menunggu pohon itu tumbang seutuhnya, berlari ke arah sarang burung tersebut. “Minggir!” teriaknya menyuruh orang-orang menyingkir. Dengan lompatan cepat, ia meraih sarang itu tepat ketika pohon tumbang dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Brakk! Debu dan daun beterbangan di sekitarnya. Roni jatuh berlutut, tapi tangannya tetap memeluk sarang ranting dengan penuh kehati-hatian. Roni baru menyadari kenapa burung-burung itu tidak lekas terbang, ternyata sayap mereka terluka parah, bulu-bulu halus ternoda darah. Ia merasakan denyut lemah di telapak tangannya. “Dasar gendeng! Kok bisa-bisanya nyelamatin burung sekarat pake nyawanya sendiri!” “Orang gila!” Ucapan-ucapan dari orang-orang sekitar yang melihat aksinya tak Roni gubris. "Bertahanlah…" bisiknya pelan. Dengan hati-hati, ia membawa sarang tersebut pulang ke kontrakannya yang sempit. Kamar kecil berukuran tiga kali empat meter, dengan cat dinding yang mengelupas dan kasur tipis di sudut. Roni meletakkan sarang di atas handuk bersih yang ia bentangkan di lantai. Dengan telaten, ia membersihkan luka sayap burung-burung itu menggunakan kapas dan obat merah yang tersisa dari kotak P3K. Setiap tetes obat membuat burung-burung itu menggeliat pelan, mengeluarkan suara kecil yang menyayat hati. “Semoga saja ini membantu ya…” gumamnya pelan sambil menyuapi mereka dengan remah roti yang ia remas halus. “Kalian beruntung hari ini.” Setelah selesai, Roni duduk menyandar ke dinding. Keringat masih membasahi kemejanya. Ia mengeluarkan liontin batu hijau dari saku celana, benda peninggalan neneknya yang meninggal enam bulan lalu. Liontin itu sederhana—sebuah batu hijau buram tergantung di tali kulit usang. Neneknya dulu sering berkata jika benda ini akan membantunya menjadi kaya kelak. Roni selalu tersenyum sinis mendengarnya. Bualan orang tua, pikirnya dulu. Tapi hari ini, setelah kehilangan pekerjaan dan nyaris kehilangan nyawa karena pohon itu, ia mengalungkan liontin tersebut ke lehernya. Lalu, tanpa ia sadari, tubuhnya yang lelah langsung terlelap, meninggalkan ketiga burung itu yang masih sibuk memakan remah-remah roti yang Roni berikan. Namun, tak berselang lama, liontinnya bergetar pelan dan bersinar. Cahaya liontin semakin terang dan hangat, seolah menyelimuti tubuh Roni yang tertidur lelap dalam pelukan mimpi yang aneh, hingga pagi datang dengan rasa pegal yang menyertai sentuhan lembut di tangannya, seperti permadani halus. “Ahh, kenapa enak sekali…” Permadani-permadani itu merayap pelan ke seluruh tubuhnya, memberikan kehangatan dan sensasi aneh yang tak pernah Roni rasakan sebelumnya. Ketika sentuhan-sentuhan itu mencapai pahanya, entah kenapa keperkasaan miliknya ikut tegak sempurna. “Apa ini mimpi basah?! Tapi, kenapa rasanya nyata sekali…” Roni pun membuka matanya, dan langsung membuatnya terbelalak. Tiga wanita cantik, tanpa mengenakan sehelai benang pun, kini ada di hadapannya. “Tu–tuan sudah bangun?!” Tiga wanita, dengan tubuh mulus dan sintal, mengerubungi tubuhnya dan memegangi miliknya yang menonjol sempurna.Langkah pertama di dalam hutan itu terasa berbeda.Bukan hanya karena tanahnya lebih lembut dari yang seharusnya, atau karena cahaya matahari tiba-tiba terasa seperti disaring oleh lapisan yang tidak terlihat—tapi karena suaranya.Atau lebih tepatnya, ketidakhadiran suara.Tidak ada kicauan burung. Tidak ada serangga. Tidak ada angin yang menggerakkan daun-daun di atas kepala mereka, meski Roni bisa merasakan hembusan udara di kulitnya.Hutan ini bernapas. Tapi diam."Tetap dekat," ucap Dewi pelan, suaranya terasa terlalu nyaring di tengah keheningan itu meski ia berbicara hampir berbisik. "Jangan menyentuh apapun yang bercahaya. Dan kalau kalian melihat sesuatu yang tidak masuk akal... jangan lari.""Kenapa tidak boleh lari?" tanya Safitri."Karena di tempat seperti ini," jawab Dewi sambil melangkah hati-hati di antara akar-akar besar yang mencuat dari tanah, "berlari berarti memilih arah. Dan kamu tidak ingin membiarkan tempat ini yang memilihkan arah untukmu."Safitri tidak bertany
Subuh masih gelap ketika keempat orang itu menuruni lift apartemen dengan tas di punggung masing-masing.Safitri menguap kecil sambil berusaha menyembunyikannya di balik tangannya. Gita berjalan dengan mata yang masih sedikit berat, namun langkahnya tetap mantap. Dewi seperti biasa—tenang, tegak, seolah jam tidur tidak pernah menjadi kebutuhannya.Roni melempar kunci mobilnya sekali di udara sebelum menangkapnya kembali."Empat jam perjalanan," ucapnya sambil membuka bagasi. "Tidur di mobil kalau mengantuk. Kita tidak tahu apa yang menunggu di sana, jadi simpan tenaga."Tidak ada yang membantah.Mobil meluncur keluar dari parkiran tepat ketika langit di timur mulai menunjukkan semburat pertamanya.Satu jam pertama perjalanan berlangsung dalam sunyi yang nyaman.Jalan tol masih lengang di jam-jam pertama pagi. Lampu-lampu tol berjajar rapi di kanan kiri, cahayanya kuning dan hangat di tengah keremangan. Sesekali truk besar mendahului mereka, anginnya mengguncang mobil sebentar sebelum
Di dalam kamar yang hanya diterangi cahaya redup lampu, Roni berbaring tanpa busana di tengah tempat tidur besar.Dewi naik ke atas tubuhnya lebih dulu, kulitnya yang halus menyentuh dada Roni. Bukit kembarnya yang montok menekan dada pria itu saat ia menunduk, bibirnya menyapu leher Roni dengan ciuman basah."Sudah siap, Tuan?" bisik Dewi sambil menggoyang pinggulnya pelan, kewanitaannya yang sudah basah menggesek kejantanan Roni yang mengeras. "Malam ini kami ingin Tuan merasakan kami semua... sepenuhnya."Roni mengangguk, tangannya meremas pinggul Dewi. "Aku milik kalian malam ini."Gita dan Safitri mendekat dari kedua sisi. Gita mencium bibir Roni dalam-dalam, lidah mereka saling menari, sementara Safitri menunduk dan menjilat pucuk Roni dengan lidahnya yang nakal."Ahh... Gita," desah Roni di sela ciuman. "Safitri... lebih kuat lagi."Safitri terkikih pelan. "Tuan suka ini?" Ia menggigit pelan pucuk Roni sebelum menjilat lagi. Tangan Safitri turun, memegang kejantanan Roni yang s
Keesokan harinya, Roni bangun lebih awal dari semua orang.Ia duduk di balkon dengan secangkir kopi, membuat daftar di ponselnya.Obat-obatan. Perbekalan makanan ringan. Senter dan baterai cadangan. Tali. Pisau lipat.Dewi muncul di pintu balkon beberapa saat kemudian, membawa cangkir tehnya sendiri. Rambutnya belum disisir, wajahnya masih menyimpan sisa kantuk, tapi matanya sudah sepenuhnya terjaga."Tidurmu tidak nyenyak," ucapnya sambil berdiri di sisinya."Cukup." Roni menyimpan ponselnya. "Dewi, aku mau tanya sesuatu.""Tanya saja.""Wanita yang kita cari itu..." ia memilih kata-katanya hati-hati, "...kamu pernah bilang dia dari Ras Merak. Tapi dia adalah penjaga keempat pusaka yang sama dengan kalian. Bagaimana bisa?"Dewi menyesap tehnya pelan sebelum menjawab, matanya menatap kota yang perlahan mulai terang."Pusaka ini tidak hanya milik satu ras. Ia dibuat bersama, oleh Ras Merpati dan Ras Merak, ratusan tahun lalu, ketika kedua ras masih bersekutu erat. Empat penjaga dipilih












Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.