Menjadi Tuan Tiga Dewi Merpati Cantik

Menjadi Tuan Tiga Dewi Merpati Cantik

last updateآخر تحديث : 2026-05-27
بواسطة:  Joker Sarjanaتم تحديثه الآن
لغة: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
لا يكفي التصنيفات
29فصول
304وجهات النظر
قراءة
أضف إلى المكتبة

مشاركة:  

تقرير
ملخص
كتالوج
امسح الكود للقراءة على التطبيق

(21+) Tiga ekor merpati yang kuselamatkan semalam berubah menjadi wanita-wanita cantik yang kini hadir di hadapanku. Mereka menuntut janji balas budi dan memintaku untuk memberikan mereka keturunan. Aku ingin sekali membantu mereka, namun apa yang harus aku perbuat?

عرض المزيد

الفصل الأول

Bab 1

"Ahh... Ahh... Ahh..."

Tangan Roni terhenti di udara saat ia hendak mengetuk pintu apartemen kekasihnya.

Di tangan satunya, tergenggam sebuah amplop berisi uang pesangon, jumlah yang tak sebanding dengan kehancuran karinya setelah dipecat dari restoran hari ini.

Suara desahan itu cukup menusuk telinganya. Ia datang ke sini untuk mencari sandaran, tapi yang ditemukan justru suara kenikmatan yang membuat dadanya sesak.

"Uhh..."

Terdengar erangan berat seorang pria menyusul.

"Shinta...?" gumam Roni, suaranya hampir hilang.

Darahnya mendidih. Tanpa pikir panjang, ia mengepalkan tangan dan menggedor pintu apartemen dengan keras.

Brak! Brak! Brak!

Di dalam terdengar suara panik—langkah kaki tergesa, barang berjatuhan, bisik buru-buru. Beberapa detik kemudian, pintu terbuka.

Klek!

Shinta berdiri di ambang pintu, hanya membalut tubuhnya dengan selimut yang nyaris tak menutupi apa pun. Rambutnya acak-acakan, wajahnya pucat.

"R-Roni...?" suaranya bergetar.

Dari balik bahunya, Roni melihat seorang pria bertelanjang dada duduk di sofa, buru-buru memasang resleting celananya sambil menatap panik.

Sesaat suasana membeku.

"Kamu... selingkuh?" tanya Roni, suaranya rendah tapi bergetar penuh amarah.

Shinta mundur selangkah. "Ron, dengar dulu—"

Roni mendorong tubuh Shinta ke samping dengan pelan, lalu melangkah masuk. Matanya terkunci pada pria di sofa.

"Kamu berani sentuh pacarku, bangsat!"

Ia menerjang maju, tapi pria itu lebih sigap. Satu pukulan keras mendarat di pipi Roni, membuatnya terhuyung. Pukulan kedua tepat di perut, membuatnya terjatuh berlutut.

"Ron! Stop!" teriak Shinta sambil berusaha menarik lengan pria itu.

Tapi pria itu sudah naik emosi. Ia menghajar Roni lagi, hingga bibir Roni pecah dan berdarah. Rasa asin tembaga memenuhi mulutnya.

"Cukup!" Shinta akhirnya berhasil melerai, berdiri di antara mereka dengan selimut yang hampir melorot.

Roni bangkit pelan, napasnya tersengal. Ia menyeka darah di bibir dengan punggung tangan sambil menatap Shinta dengan mata berkaca-kaca.

"Jadi benar... kamu selingkuh sama dia?"

Shinta diam sejenak. Lalu bahunya turun, ekspresinya berubah dingin.

"Iya," jawabnya datar. "Memangnya kenapa?"

Roni merasa kepalanya berputar. "Tega kamu, Shin... dua tahun kita bersama—"

"Tega?" Shinta memotong dengan suara meninggi. "Kamu yang tega, Ron! Aku capek! Dua tahun aku nunggu kamu bisa kasih masa depan yang jelas. Tapi apa yang kamu kasih? Selalu miskin, selalu janji doang! Aku mau nikah, Ron. Aku mau hidup layak!"

Pria di sofa sudah berdiri, memakai kaosnya dengan cepat. Ia melirik Shinta, lalu Roni, seolah ingin berkata sesuatu tapi akhirnya memilih diam.

Roni hanya bisa tertawa pahit, suaranya bergetar. "Jadi ini alasanmu? Karena aku miskin?"

"Bukan cuma itu," balas Shinta, suaranya mulai pecah. "Kamu nggak pernah berubah, Ron. Aku capek jadi orang yang selalu nunggu. Dia..." ia melirik pria itu sekilas, "dia bisa kasih yang aku butuhin sekarang."

Roni menatap Shinta lama, seperti mencari sisa cinta di matanya. Yang ia temukan hanya kelelahan dan keputusasaan.

Tanpa berkata lagi, ia berbalik menuju pintu. Langkahnya gontai, bahunya lunglai.

Di ambang pintu, ia berhenti sebentar.

"Semoga kamu bahagia, Shin," katanya pelan, tanpa menoleh.

Pintu apartemen tertutup di belakangnya dengan pelan.

Siang terasa cukup menyengat saat Roni berjalan pulang, amplop uang di tangannya sudah tak berarti apa-apa lagi. Hanya ada rasa hampa yang menggerogoti dada, semakin dalam dengan setiap langkah.

Ting!

Sebuah pesan masuk ke ponselnya.

Mas, bagaimana kabarnya? Laila bisa minta uang buat bayar SPP? Terus obat ibu juga belum ditebus…

Maaf ya Mas. Laila janji setelah lulus akan bantu Mas Roni buat biaya obat-obatan Ibu…

“Maafkan Mas ya, Dek, Buk…”

Roni meremas handphonenya, dadanya seketika terenyuh.

Anak pertama, laki-laki. Tapi, ia selalu merasa tak berguna…

Namun, saat jari-jarinya hendak mengetik di handphone seraya berjalan, tiba-tiba…

“Le! Awas pohon tumbang!”

Roni tak sadar jika ia tengah melewati sebuah pohon tua yang hampir roboh.

Krekk!

Pohon itu batangnya retak dan condong ke arah trotoar.

Para pejalan kaki berteriak panik, mundur dengan cepat.

Termasuk Roni.

Namun, ekor matanya tiba-tiba melihat sebuah sarang burung dengan tiga ekor merpati yang bertengger di dalamnya.

Pohon itu mau tumbang, tapi kenapa burung-burung itu tidak lekas terbang?

Tanpa banyak berpikir, Roni yang tadinya mundur bersama para pejalan kaki yang lain sambil menunggu pohon itu tumbang seutuhnya, berlari ke arah sarang burung tersebut.

“Minggir!” teriaknya menyuruh orang-orang menyingkir.

Dengan lompatan cepat, ia meraih sarang itu tepat ketika pohon tumbang dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga.

Brakk!

Debu dan daun beterbangan di sekitarnya.

Roni jatuh berlutut, tapi tangannya tetap memeluk sarang ranting dengan penuh kehati-hatian.

Roni baru menyadari kenapa burung-burung itu tidak lekas terbang, ternyata sayap mereka terluka parah, bulu-bulu halus ternoda darah.

Ia merasakan denyut lemah di telapak tangannya.

“Dasar gendeng! Kok bisa-bisanya nyelamatin burung sekarat pake nyawanya sendiri!”

“Orang gila!”

Ucapan-ucapan dari orang-orang sekitar yang melihat aksinya tak Roni gubris.

"Bertahanlah…" bisiknya pelan.

Dengan hati-hati, ia membawa sarang tersebut pulang ke kontrakannya yang sempit.

Kamar kecil berukuran tiga kali empat meter, dengan cat dinding yang mengelupas dan kasur tipis di sudut.

Roni meletakkan sarang di atas handuk bersih yang ia bentangkan di lantai.

Dengan telaten, ia membersihkan luka sayap burung-burung itu menggunakan kapas dan obat merah yang tersisa dari kotak P3K.

Setiap tetes obat membuat burung-burung itu menggeliat pelan, mengeluarkan suara kecil yang menyayat hati.

“Semoga saja ini membantu ya…” gumamnya pelan sambil menyuapi mereka dengan remah roti yang ia remas halus. “Kalian beruntung hari ini.”

Setelah selesai, Roni duduk menyandar ke dinding.

Keringat masih membasahi kemejanya.

Ia mengeluarkan liontin batu hijau dari saku celana, benda peninggalan neneknya yang meninggal enam bulan lalu.

Liontin itu sederhana—sebuah batu hijau buram tergantung di tali kulit usang.

Neneknya dulu sering berkata jika benda ini akan membantunya menjadi kaya kelak.

Roni selalu tersenyum sinis mendengarnya.

Bualan orang tua, pikirnya dulu.

Tapi hari ini, setelah kehilangan pekerjaan dan nyaris kehilangan nyawa karena pohon itu, ia mengalungkan liontin tersebut ke lehernya.

Lalu, tanpa ia sadari, tubuhnya yang lelah langsung terlelap, meninggalkan ketiga burung itu yang masih sibuk memakan remah-remah roti yang Roni berikan.

Namun, tak berselang lama, liontinnya bergetar pelan dan bersinar.

Cahaya liontin semakin terang dan hangat, seolah menyelimuti tubuh Roni yang tertidur lelap dalam pelukan mimpi yang aneh, hingga pagi datang dengan rasa pegal yang menyertai sentuhan lembut di tangannya, seperti permadani halus.

“Ahh, kenapa enak sekali…”

Permadani-permadani itu merayap pelan ke seluruh tubuhnya, memberikan kehangatan dan sensasi aneh yang tak pernah Roni rasakan sebelumnya.

Ketika sentuhan-sentuhan itu mencapai pahanya, entah kenapa keperkasaan miliknya ikut tegak sempurna.

“Apa ini mimpi basah?! Tapi, kenapa rasanya nyata sekali…”

Roni pun membuka matanya, dan langsung membuatnya terbelalak.

Tiga wanita cantik, tanpa mengenakan sehelai benang pun, kini ada di hadapannya.

“Tu–tuan sudah bangun?!”

Tiga wanita, dengan tubuh mulus dan sintal, mengerubungi tubuhnya dan memegangi miliknya yang menonjol sempurna.

توسيع
الفصل التالي
تحميل

أحدث فصل

فصول أخرى

للقراء

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

لا توجد تعليقات
29 فصول
استكشاف وقراءة روايات جيدة مجانية
الوصول المجاني إلى عدد كبير من الروايات الجيدة على تطبيق GoodNovel. تنزيل الكتب التي تحبها وقراءتها كلما وأينما أردت
اقرأ الكتب مجانا في التطبيق
امسح الكود للقراءة على التطبيق
DMCA.com Protection Status