Malam beringsut menyelimuti Istana Naga Langit. Angin musim semi yang biasanya membawa aroma bunga plum kini terasa tidak nyaman, membawa serta embun yang luar biasa tebal. Di bawah komando langsung Jenderal Gao, pertahanan istana benar-benar tak tertembus. Tiga ratus Prajurit Elit Naga Langit berjaga di setiap lorong, gerbang, dan atap istana. Obor menyala terang di setiap lima langkah, memastikan tidak ada satu pun sudut yang tertinggal dalam bayangan.Di tembok pelataran luar Paviliun Kaca tempat Ratu Liying beristirahat, dua orang prajurit veteran tengah berpatroli. Mereka adalah petarung tangguh yang selamat dari pembantaian di gerbang Yanze. Tangan mereka terus memegang gagang pedang, mata mereka menatap tajam menembus kegelapan."Kau mencium bau itu?" bisik prajurit pertama, mengendus udara.Prajurit kedua mengerutkan kening. "Bau apa? Hujan?""Bukan. Baunya seperti lumut busuk dan daun mati."Tepat saat kata-kata itu diucapkan, dari arah tembok luar setinggi sepuluh meter, tig
Read more