LOGIN"Jika aku harus hancur, aku tidak sudi hancur sendirian. Kalau kau takut mati dipenggal... maka matilah bersamaku malam ini." Yan Liying, Putri ke-9 Kekaisaran Yanze, mengira hidupnya sempurna. Namun di tengah badai, ilusi itu hancur berkeping-keping. Tunangannya yang tampan nan terhormat ternyata berselingkuh dan merencanakan kematiannya demi menguasai mahar kekaisaran. Dikelilingi serigala berbulu domba dan iblis berwajah dewa di dalam istana, Liying yang rapuh tahu ia tak bisa selamat sendirian. Dalam keputusasaan, ia menyerahkan kehormatannya pada Chu Renshu, seorang prajurit penjaga gerbang dari kasta terendah yang memiliki mata setajam elang dan hawa membunuh sebuas iblis. Liying mengira ia hanya meminjam pedang sang prajurit untuk membalas dendam. Namun, ia tidak menyadari bahwa ia baru saja membangunkan predator mematikan. Di bawah bayangan taman bambu dan hukum istana yang kejam, batas antara majikan dan pelayan hancur lebur ditelan gairah. Renshu tak lagi menunduk padanya. Pria itu mengungkungnya, menghapus setiap jejak musuhnya, dan berbisik serak: "Mulai detik ini, Anda bukan majikan hamba. Malam ini... Anda adalah milikku."
View More"Liying terlalu kaku dan membosankan, Ruolan. Menyentuhnya sama saja dengan menyentuh patung pualam yang dingin. Kau jauh lebih liar dan tahu cara memuaskan seorang pria."
Rentetan kalimat menjijikkan itu terdengar jelas di sela-sela gemuruh guruh.
Di balik kisi-kisi jendela Paviliun Bambu keluarga Feng, Yan Liying berdiri mematung. Hujan badai yang turun bagaikan ribuan jarum es malam itu tak sebanding dengan rasa dingin yang baru saja membekukan jantungnya. Melalui celah kayu, mata porselen sang Putri ke-9 Kekaisaran Yanze itu menyaksikan sendiri kehancurannya.
Tunangannya... Feng Yuchen, pria berpendidikan tinggi yang selama ini ia anggap sebagai dewa penyelamatnya dari neraka istana, tengah bergumul liar tanpa busana. Dan wanita yang mendesah di bawah kungkungan Yuchen adalah Fang Ruolan, sahabat terdekatnya sendiri.
Mual yang luar biasa mengaduk perut Liying. Tanpa sadar ia melangkah mundur, kakinya tersandung pot teratai hingga hancur berkeping-keping, sama seperti harga dirinya.
Liying berbalik dan berlari.
Ia berlari tertatih menembus rimbunnya hutan bambu di pinggiran kota. Gaun sutra merah berlapis benang emasnya, simbol kebanggaan yang selalu ia jaga agar tak ternoda, kini basah kuyup, terciprat lumpur, dan robek tersangkut ranting.
Air mata bercampur hujan membanjiri wajahnya. Selama ini aku merendahkan diriku, menjadi boneka manis yang penurut demi aliansi politik ini... dan inikah balasannya?!
Tiba di ujung jalan setapak yang gelap, Liying melihat sebuah kereta kuda sederhana tanpa lambang kekaisaran terparkir di bawah rimbunnya pohon beringin raksasa. Di kursi kusir, duduk sesosok pria berbalut jas hujan jerami dan topi bambu lebar. Ia duduk sekokoh batu karang, tak sedikit pun terganggu oleh badai yang menghantam tubuhnya.
Itu Chu Renshu. Prajurit rendahan Kelas Tembaga yang disewa ibunya untuk menjadi kusir rahasia Liying malam ini.
Begitu Liying menyeret tubuhnya naik ke dalam kabin kereta yang temaram oleh satu lentera kecil, pertahanannya runtuh. Ia meringkuk di atas karpet berbulu, menangis sejadi-jadinya meratapi nasibnya yang menyedihkan.
"Jalan..." isak Liying, suaranya parau dan bergetar hebat. "Bawa aku pergi dari tempat menjijikkan ini. Sekarang!"
Dari balik celah jendela kayu yang membatasi kabin dan kursi kusir, Renshu hanya diam. Tangan kasarnya yang kapalan menggenggam erat tali kekang kuda. Mata elangnya yang tajam melirik dari balik topi bambu, menatap sekilas pada sang Putri yang kini tampak seperti burung kecil yang patah sayapnya.
Tanpa banyak tanya, Renshu menarik tali kekang. Kereta kuda itu melaju menembus badai.
Di dalam kabin, dada Liying sesak oleh isak tangis. Semua orang mengkhianatinya. Ibunya hanya peduli pada takhta. Kakak tirinya, Putra Mahkota Bojing, menatapnya layaknya anjing kelaparan. Dan kini, Yuchen membuangnya karena ia dianggap patung pualam yang membosankan.
Mengapa ia harus selalu menjadi pihak yang dikorbankan? Jika menjaga kesucian dan kehormatan hanya membuatnya diinjak-injak, untuk apa ia mempertahankannya?
Liying mendongak. Melalui jendela kayu kecil yang terbuka di depannya, ia menatap punggung tegap Renshu yang membelakangi hujan. Prajurit miskin itu mengenakan zirah kulit murahan yang basah, memperlihatkan bahunya yang luar biasa lebar dan kokoh.
Sebuah ide gila, sebuah pemberontakan yang absolut, meledak di kepala Liying.
Yuchen menginginkan wanita liar? Baiklah. Malam ini, patung pualam ini akan hancur lebur dengan caranya sendiri.
"Berhenti." Suara Liying berubah sedingin es, tak ada lagi rengekan manja di sana.
Di luar, Renshu sedikit mengerutkan kening. "Tuan Putri, kita belum sampai di dinding istana—"
"Aku perintahkan kau berhenti, Chu Renshu!"
Terpaksa, Renshu menarik tali kekang hingga kuda berhenti di pinggiran hutan yang sangat sepi. Hanya ada deru hujan yang memekakkan telinga.
Renshu baru saja memutar tubuhnya di kursi kusir untuk menanyakan perintah selanjutnya, ketika tiba-tiba jendela kayu kecil itu ditarik paksa hingga terbuka lebar. Kedua tangan Liying yang dingin dan gemetar terjulur keluar, mencengkeram kasar kerah zirah kulit Renshu.
"Tuan Putri, apa yang—"
Dengan sisa tenaga yang didorong oleh keputusasaan, Liying menarik tubuh besar prajurit itu. Renshu sebenarnya bisa menahan tarikan itu dengan satu jari. Namun, karena tidak ingin melukai tangan sang Putri, ia membiarkan dirinya ditarik mundur hingga terjerembab masuk ke dalam kabin kereta yang sempit.
Pintu penghubung langsung ditutup. Udara di dalam kabin mendadak terasa luar biasa panas dan menyesakkan. Jas hujan jerami Renshu terlepas, mengekspos zirah kulitnya yang basah kuyup.
Renshu segera berlutut dengan satu kaki, menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Maafkan kelancangan hamba, Tuan Putri. Hamba pantas mati."
"Diam."
Liying bergerak maju. Aroma hujan, debu tanah, dan feromon maskulin yang pekat dari tubuh Renshu menyergap indranya. Bau kasar ini menyingkirkan aroma dupa mahal Yuchen yang memuakkan dari ingatannya. Gadis itu menangkup rahang tegas Renshu dengan kedua tangannya, memaksa prajurit rendahan itu mendongak dan menatap wajahnya.
Mata Renshu sedikit melebar. Jantung sang prajurit berdetak satu ketukan lebih cepat saat menyadari wajah cantik yang basah oleh air mata itu kini hanya berjarak beberapa jengkal darinya. Liying menatapnya dengan damba yang putus asa, seolah prajurit itu adalah satu-satunya penawar dari racun yang membunuh jiwanya.
Napas hangat Liying menerpa bibir Renshu, sesaat sebelum sang Putri membisikkan titah yang menghancurkan sisa kewarasan pria itu.
"Malam ini saja... lupakan kalau aku Tuan Putrimu." Jemari Liying membelai rahang kasar Renshu, mengundang bahaya yang nyata. "Buat aku lupa rasanya sakit hati, Renshu. Sentuh aku!"
Tangan Renshu yang bertumpu pada lantai kereta mengepal erat hingga buku-buku jarinya memutih. Di bawah guyuran badai, insting predator buas yang selama ini ia kurung rapat-rapat di dasar jiwanya, perlahan membuka mata.
Hanya dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, Benteng Baja Utara, kebanggaan militer Yanze, jatuh tanpa ada satu pun korban jiwa dari pihak Zixiao. Asap hitam dari panji naga merah Yanze yang dibakar mengepul ke angkasa, segera digantikan oleh kibaran angkuh panji Naga Langit yang ditancapkan di puncak menara tertinggi.Liying keluar dari kereta baja komandonya, melangkah ke atas tanah yang bersimbah campuran darah hitam dan merah. Sang Ratu menolak menggunakan tandu atau digendong. Sepatu bot kulitnya menginjak genangan darah tanpa keraguan sedikit pun. Wajahnya sedingin pusaran es abadi, matanya menatap benteng yang telah ditaklukkannya dengan kalkulasi yang kejam."Shao," panggil Liying, suaranya jernih dan tajam menembus kesibukan prajurit Zixiao yang sedang membersihkan medan perang.Sang mata-mata yang kini merangkap sebagai komandan intelijen segera berlari mendekat dan berlutut satu kaki. "Hamba siap menerima perintah, Yang Mulia Ratu.""Kumpulkan seratus perwira ber
Gerbang baja raksasa itu berderit mengerikan, terdorong paksa ke dalam hingga akhirnya ambruk menghantam tanah dengan dentuman yang menggetarkan bumi.Jalan menuju perut Benteng Baja Utara kini terbuka lebar. Renshu melangkah masuk melangkahi puing-puing gerbang, diikuti oleh gelombang pasang tentara Zixiao. Saat obor-obor dinyalakan, pemandangan di dalam benteng membuat prajurit Zixiao yang paling tangguh sekalipun menahan napas ngeri.Tidak ada pertempuran. Tidak ada perlawanan. Di halaman benteng, di atas menara pengawas, hingga di dalam barak-barak, lima belas ribu prajurit Yanze bergelimpangan bagaikan boneka rusak. Wajah mereka kaku, bibir mereka membiru, dan darah hitam pekat menggenang dari hidung dan mulut mereka. Racun modifikasi Meilin telah membunuh mereka dalam kesunyian yang mencekik.Renshu berjalan lurus tanpa memedulikan lautan mayat di sekitarnya. Tujuannya hanya satu: aula komando utama.Di dalam ruangan yang hangat oleh perapian itu, Komandan Jenderal Yanze ter
Malam beringsut menelan perbatasan selatan Yanze, membawa serta hawa dingin ekstrem yang menusuk tulang. Di dalam Benteng Baja Utara, Komandan Jenderal Yanze duduk di depan perapian besar di ruang komandonya, menyesap arak beras yang hangat. Ia sangat percaya diri. Gerbang benteng yang terbuat dari baja padat telah dikunci dari dalam menggunakan lima lapis palang besi seukuran pilar kuil."Biarkan anjing-anjing Zixiao itu mendirikan kemah di luar sana," ucap sang Jenderal kepada wakilnya, tertawa meremehkan. "Gudang bawah tanah kita menyimpan gandum dan daging kering yang cukup untuk memberi makan lima belas ribu prajurit selama empat bulan penuh. Kita tidak perlu melepaskan satu anak panah pun. Saat badai salju pertama turun tiga hari lagi, mereka akan kelaparan, kedinginan, dan kita hanya perlu keluar untuk menyapu mayat-mayat mereka."Sang wakil mengangguk setuju, tersenyum menjilat. "Taktik bertahan Anda tidak tertandingi, Jenderal."Di luar benteng, di tengah kegelapan malam y
Bumi bergetar seolah merintih di bawah tekanan yang tidak wajar. Di bentangan dataran tandus yang memisahkan wilayah Zixiao dan perbatasan selatan Yanze, sebuah gelombang pasang berwarna hitam legam bergerak perlahan namun pasti menelan cakrawala. Seratus ribu Prajurit Naga Langit berbaris dalam formasi tempur absolut. Zirah hitam mereka memantulkan cahaya matahari musim gugur yang pucat, menciptakan lautan baja yang mendidih oleh haus darah. Panji-panji perang bersulam naga perak berkibar liar ditiup angin, membawa hawa kematian yang pekat menuju tanah kelahiran musuh bebuyutan mereka.Di pusat lautan baja tersebut, bergemuruh sebuah kereta perang raksasa yang ditarik oleh delapan ekor kuda perang berlapis zirah. Kereta itu bukanlah kereta kayu biasa yang dihiasi sutra emas, melainkan sebuah benteng berjalan yang dilapisi pelat baja tebal, dirancang khusus untuk menahan gempuran batu ketapel maupun hujan panah api.Di dalam lambung kereta baja yang disulap menjadi tenda komando itu
Udara di dalam Aula Utama Markas Militer Nanzhou terasa sangat padat dan mencekik. Mata Gubernur Militer Wei menatap gulungan dokumen di atas meja, lalu perlahan beralih menatap Liying. Urat-urat di pelipis pria paruh baya itu berkedut samar. Di balik wajahnya yang tegang, Gubernur Wei berniat lici
Malam merayap turun menyelimuti Istana Kekaisaran Yanze dengan keheningan yang mencekam. Angin musim semi yang biasanya berhembus sejuk kini terasa menusuk tulang, membawa firasat buruk yang menggantung tebal di udara. Di sayap utara Istana Kaca Kusam, paviliun pengungsian Selir Lan berdiri dalam k
Kini, hanya tersisa mereka berdua. Bunyi dari gerendel pintu terdengar sangat keras di tengah kesunyian yang mencekik.Liying meletakkan saputangannya. Ia tahu ia telah bermain api. Ia menatap pria yang kini berdiri menjulang di hadapannya seperti bayangan maut."Renshu—"Sebelum Liying sempat m
Ancaman nyata terhadap nyawa wanitanya ini memaksa Renshu untuk melanggar aturan istana demi menyelamatkan wanitanya. Menghunuskan pedang ke arah pengawal pribadi Putra Mahkota adalah sebuah makar. Hukumannya adalah eksekusi mati.Namun, urat-urat di leher dan lengan Renshu yang mengeras membuktika






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews