Se connecterRenshu hidup di kasta terendah Kekaisaran Yanze. Ia hanyalah prajurit rendahan penjaga gerbang yang menelan harga diri demi bertahan hidup. Menyentuh Putri Liying, putri istana yang manja, cengeng, dan terbiasa berbalut sutra emas, sama saja dengan menyerahkan lehernya pada pedang algojo. Tapi malam ini, badai konspirasi istana menghancurkan segalanya. Dikhianati dan patah hati, sang Putri yang biasanya angkuh itu menangis tersedu. Bukan di dalam paviliun megahnya, melainkan membuang gengsinya tepat di pelukan prajuritnya. Di dalam kereta kuda yang gelap, Liying mendongak, menatap Renshu dengan sorot mata basah penuh damba yang sangat berbahaya, lalu berbisik parau... "Malam ini saja... lupakan kalau aku Tuan Putrimu. Buat aku lupa rasanya sakit hati, Renshu. Sentuh aku!" Di tengah sunyinya malam yang hanya diisi rintik badai, pertahanan Renshu nyaris runtuh. Sanggupkah prajurit buangan itu menepis godaan paling mematikan di kekaisaran, ketika insting jantannya berteriak untuk membungkam isak tangis sang Putri dan menguasainya habis-habisan malam ini juga?
Voir plusMalam itu, langit di atas ibu kota Kekaisaran Yanze seolah ikut murka. Petir menyambar ganas, membelah angkasa yang pekat, disusul hujan badai yang turun bagaikan ribuan jarum es.
Di tengah lebatnya hujan, sesosok tubuh mungil berlari tertatih menembus rimbunnya hutan bambu di pinggiran kota. Gaun sutra merah berlapis benang emas yang dikenakannya, pakaian kebesaran seorang putri kekaisaran, kini basah kuyup, terciprat lumpur, dan robek di bagian bawahnya karena tersangkut ranting.
Ia adalah Yan Liying, Putri ke-9 Kekaisaran Yanze.
Sebagai anak kesembilan dari puluhan anak yang dihasilkan oleh ratusan selir Kaisar Yan Jianhong, Liying tahu nyawanya dan ibunya hanya bergantung pada belas kasihan dan aliansi pernikahan. Itulah sebabnya ia selalu bersikap manis dan penurut. Itulah sebabnya ia menerima pertunangannya dengan putra Menteri Keuangan, Feng Yuchen, menganggap pria itu sebagai dewa penyelamatnya dari neraka istana.
Namun, dewa penyelamat itu baru saja mematahkan sayapnya.
Napas Liying memburu. Air mata bercampur dengan air hujan di wajah porselennya yang kini pias. Bayangan yang baru saja ia saksikan di dalam Paviliun Bambu keluarga Feng terus berputar di kepalanya bagai kutukan.
Tunangannya... pria berpendidikan tinggi yang selalu bertutur kata lembut padanya itu, tengah bergumul liar tanpa busana di atas ranjang. Dan wanita yang mendesah di bawah kungkungan Yuchen adalah Fang Ruolan, putri bangsawan yang selama ini Liying sebut sebagai sahabat terdekatnya.
"Liying terlalu kaku dan membosankan, Ruolan. Menyentuhnya sama saja dengan menyentuh patung pualam yang dingin. Kau jauh lebih liar dan tahu cara memuaskan seorang pria."
Kalimat menjijikkan dari mulut Yuchen itu menggemakan keputusasaan di dada Liying.
Tiba di ujung jalan setapak yang tersembunyi, Liying melihat sebuah kereta kuda sederhana tanpa lambang kekaisaran terparkir di bawah pohon beringin raksasa. Di kursi kusir bagian depan, duduk sesosok pria berbalut jas hujan jerami dan topi bambu lebar yang menutupi separuh wajahnya. Ia duduk sekokoh batu karang, tak sedikit pun terganggu oleh badai yang menghantam tubuhnya.
Itu Chu Renshu. Prajurit rendahan Kelas Tembaga dari gerbang utara yang disuap ibunya untuk menjadi kusir rahasia Liying malam ini.
Begitu Liying menyeret tubuhnya naik ke dalam kabin kereta yang gelap dan temaram oleh satu lentera kecil, tangisnya pecah sejadi-jadinya. Ia meringkuk di atas karpet berbulu, meratapi harga dirinya yang baru saja diinjak-injak hingga hancur berkeping-keping.
"Jalan..." isak Liying, suaranya parau dan bergetar hebat. "Bawa aku pergi dari tempat menjijikkan ini. Sekarang!"
Dari balik celah jendela kayu yang membatasi kabin dan kursi kusir, Renshu hanya diam. Tangan kasarnya yang kapalan menggenggam tali kekang kuda. Mata elangnya yang tajam dan segelap malam melirik dari balik topi bambu, menatap sekilas pada sang Putri yang terlihat sangat menyedihkan.
Tanpa banyak tanya, Renshu menarik tali kekang. Kereta kuda itu melaju menembus badai, meninggalkan area paviliun keluarga Feng.
Di dalam kabin, Liying menangis hingga dadanya sesak. Ia memeluk lututnya sendiri. Semua orang mengkhianatinya. Ibunya hanya peduli pada takhta. Kakak tirinya, menatapnya seperti anjing kelaparan. Dan kini, satu-satunya pria yang ia harapkan menjadi pelindungnya malah mengkhianatinya.
Mengapa ia harus selalu menjadi Nona penurut yang menyedihkan? Jika menjadi suci dan penurut hanya membuatnya diinjak-injak, untuk apa ia mempertahankan kehormatan ini?
Di tengah isakannya, Liying mendongak. Melalui jendela kayu kecil yang terbuka di depannya, ia menatap punggung tegap Renshu yang sedang membelakangi hujan. Prajurit miskin itu mengenakan zirah kulit murahan yang basah, memperlihatkan bahunya yang luar biasa lebar dan kokoh.
Sebuah ide gila, sebuah pemberontakan yang absolut, meledak di kepala Liying.
Yuchen membuangnya karena menganggapnya patung pualam yang membosankan? Baiklah. Malam ini, patung pualam itu akan hancur lebur.
"Berhenti." Suara Liying berubah dingin, tak ada lagi rengekan manja di sana.
Di luar, Renshu sedikit mengerutkan kening. "Tuan Putri, kita belum sampai di dinding istana—"
"Aku perintahkan kau berhenti, Chu Renshu!" teriaknya tajam, menggunakan otoritas kekaisarannya.
Terpaksa, Renshu menarik tali kekang hingga kuda berhenti di pinggiran hutan yang sepi dan gelap, jauh dari ibu kota. Hanya ada suara hujan yang menderu.
Renshu baru saja memutar tubuhnya di kursi kusir untuk menanyakan perintah selanjutnya, ketika tiba-tiba jendela kayu kecil itu ditarik paksa hingga terbuka lebar. Kedua tangan Liying yang dingin dan gemetar terjulur keluar, mencengkeram kasar kerah zirah kulit Renshu.
"Tuan Putri, apa yang Anda—"
Dengan sisa tenaga yang didorong oleh keputusasaan, Liying menarik tubuh besar prajurit itu. Renshu, yang memiliki keseimbangan sempurna sebagai ahli bela diri, sebenarnya bisa menahan tarikan itu dengan satu jari. Namun, karena tidak ingin melukai tangan sang Putri, ia membiarkan dirinya ditarik mundur hingga terjerembab masuk ke dalam kabin kereta yang sempit.
Bruk!
Pintu penghubung tertutup. Udara di dalam kabin mendadak terasa luar biasa panas dan menyesakkan. Jas hujan jerami Renshu terlepas, mengekspos zirah kulitnya yang basah kuyup.
Renshu segera berlutut dengan satu kaki, menundukkan kepalanya dalam-dalam sesuai aturan istana. "Maafkan kelancangan hamba, Tuan Putri. Hamba pantas mati."
"Diam."
Liying bergerak maju. Aroma hujan, tanah, dan feromon maskulin yang pekat dari tubuh Renshu menyergap indranya, mengusir bau dupa istana yang memuakkan. Gadis itu menangkup rahang tegas Renshu dengan kedua tangannya, memaksa prajurit rendahan itu mendongak dan menatap wajahnya.
Mata Renshu sedikit melebar. Jantung sang prajurit berdetak satu ketukan lebih cepat saat menyadari wajah cantik yang basah oleh air mata itu kini hanya berjarak beberapa jengkal darinya. Liying menatapnya dengan damba yang putus asa, seolah prajurit itu adalah satu-satunya obat penawar dari racun yang membunuh jiwanya.
Napas hangat Liying menerpa bibir Renshu, sesaat sang Putri membisikkan kalimat yang mengancam sisa kewarasan pria itu.
"Malam ini saja... lupakan kalau aku Tuan Putrimu." Jemari Liying membelai rahang kasar Renshu, mengundang bahaya yang nyata. "Buat aku lupa rasanya sakit hati, Renshu. Sentuh aku!"
Tangan Renshu yang bertumpu pada lantai kereta mengepal erat. Insting predator buas yang selama ini ia kurung rapat-rapat di dasar jiwanya, perlahan membuka mata.
Renshu membuka tutup cepuk porselen kecil itu dengan satu tangan. Aroma herbal yang menyejukkan, perpaduan antara ekstrak daun mint dan getah damar, langsung menguar ke udara malam, mengusir bau anyir darah yang sempat tertinggal.Dengan ibu jarinya yang besar dan dipenuhi kapalan tebal, Renshu mengambil sedikit salep berwarna putih bening tersebut."Ini akan terasa sedikit menyengat di awal, lalu mendingin," gumam Renshu pelan, matanya sama sekali tidak berani menatap wajah Liying. Pria itu terlalu fokus mengendalikan detak jantungnya sendiri."Lakukanlah," bisik Liying.Sentuhan pertama kulit Renshu di atas lukanya membuat Liying refleks menahan napas. Salep ajaib buatan Meilin itu memang langsung meredam rasa perih yang membakar dagingnya, namun sensasi gesekan pelan dari ibu jari Renshu di telapak tangannya justru memicu kobaran api yang sama sekali berbeda.Ibu jari pria itu mengusap lembut, memutar pelan untuk memastikan salepnya meresap ke dalam luka robek di telapak tanga
Ujung pedang kayu yang berlumuran darah itu bergetar di depan dada Renshu. Liying masih berdiri dengan sisa-sisa tenaga yang ia miliki, napasnya tersengal, menolak untuk menundukkan pandangannya.Keheningan yang pekat mengambil alih taman bambu. Angin malam seolah menahan napasnya. Hawa membunuh dan tekanan intimidasi yang sedari tadi dipancarkan oleh Renshu menguap tak berbekas, digantikan oleh keheningan yang menyesakkan dada.Perlahan, Renshu mengangkat tangan kanannya. Bukannya membalas serangan atau membentak seperti sebelumnya, jemari besar yang dipenuhi kapalan itu dengan sangat lembut menggenggam bilah pedang kayu Liying. Ia menurunkannya perlahan, menjauhkan beban berat itu dari cengkeraman tangan sang Putri yang sudah hancur."Latihan malam ini selesai," ucap Renshu pelan. Suara baritonnya kini terdengar sangat serak dan dalam.Liying mengerjap. Begitu pedang kayu itu terlepas dari tangannya, seluruh sisa tenaga di kakinya seolah menguap. Tubuhnya terhuyung ke depan. Nam
Hitungan ke-seratus akhirnya terlampaui. Napas Liying memburu, terdengar kasar dan menyakitkan memecah kesunyian malam. Keringat membasahi pelipis dan punggungnya, membuat helaian rambutnya menempel berantakan di wajah pucatnya.Kedua lengannya terasa seperti terbuat dari timah panas. Pedang kayu di genggamannya bergetar hebat. Namun, belum sempat gadis itu mengambil napas panjang, bayangan Renshu tiba-tiba melesat ke arahnya."Angkat pedangmu! Musuh tidak akan menunggu napasmu teratur!" bentak Renshu.Prajurit itu tidak lagi menggunakan ranting bambu. Kali ini, ia memegang pedang kayunya sendiri dan mengayunkannya lurus ke arah bahu Liying. Meski Renshu sudah menahan sembilan puluh persen tenaganya, tekanan angin dari ayunan pedang pria bertubuh besar itu tetap terasa mengerikan bagi seorang pemula.Mata Liying membelalak panik. Insting bertahannya mengambil alih, namun karena kelelahan yang ekstrem, otaknya gagal memproses posisi kuda-kuda yang benar. Ia mengangkat pedang kayun
Angin malam berembus dingin menyapu taman bambu yang tersembunyi di sudut Istana Yanze. Suara gemerisik daun yang bergesekan seolah menjadi satu-satunya saksi bisu dari transformasi yang akan mengubah sejarah kekaisaran.Liying melangkah keluar dari bayang-bayang. Ia telah menanggalkan jubah sutra mewahnya, menggantinya dengan setelan kain katun gelap yang ringkas dan mengikat rambut panjangnya tinggi-tinggi. Di dadanya, tekad menyala begitu terang. Dalam imajinasi naifnya, latihan malam ini akan dipenuhi oleh gerakan-gerakan pedang yang elegan, indah layaknya tarian, didampingi oleh Renshu yang akan memandunya dengan penuh kelembutan.Namun, imajinasi itu hancur berkeping-keping di detik pertama ia menginjakkan kaki di tanah lapang.Renshu berdiri membelakanginya, menyatu dengan kegelapan. Postur pria itu tak lagi menunduk hormat seperti seorang pelayan, apalagi memancarkan kehangatan gairah seperti semalam. Hawa di sekitarnya terasa membekukan tulang. Saat pria itu berbalik, sep






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.