Tak ada yang terburu-buru setelah sarapan.Seolah pagi itu sendiri memberi izin untuk melambat, untuk bernapas sedikit lebih panjang sebelum hari kembali berjalan seperti biasa.Mereka berkumpul di ruang keluarga, memilih film secara asal—tanpa debat, tanpa voting. Sebuah film anime diputar, dan layar televisi memantulkan cahaya lembut ke ruangan yang setengah remang. Tirai ditutup sebagian, udara masih sejuk, dan waktu seperti kehilangan urgensinya.Sebuah momen yang tak direncanakan, namun diam-diam disimpan, karena bagi mereka, setiap waktu, setiap jam, setiap menit, setiap detik adalah hal yang sangat berharga untuk dilewatkan.Ada yang duduk tegak, ada yang bersandar malas, ada pula yang kembali terlelap setengah sadar. Film berjalan, dialog demi dialog bergulir, tapi tak satu pun benar-benar fokus. Yang terasa justru suasananya—hangat, aman, dan jarang.Lucia, Kayulla, dan Joo In duduk di atas sofa. Lucia memeluk bantal, sesekali tertawa kecil menanggapi adegan lucu di layar. Jo
Read more