ログインGenre: Drama, Romance, Psychological, Slow-burn, Healing Kayulla Abriella datang untuk melupakan. Ia meninggalkan masa lalu yang penuh luka — dan bersumpah tidak akan pernah terikat lagi pada siapa pun. Sampai ia bertemu Lucas Rustichel. CEO muda yang dingin, dominan, dan tidak pernah percaya pada cinta. Pria yang seharusnya ia hindari… justru menjadi satu-satunya orang yang mampu menembus pertahanannya. Namun hubungan mereka bukan tentang romansa manis. Itu tentang dua jiwa terluka yang saling mengenali kegelapan satu sama lain. Semakin dekat mereka, semakin banyak rahasia yang terkuak. Dan semakin jelas bahwa keterikatan ini bukanlah kebetulan. Karena kali ini, yang dipertaruhkan bukan hanya hati. Tapi masa lalu yang bisa menghancurkan segalanya. “Kadang, yang paling menyakitkan bukanlah kehilangan…melainkan saat kita tahu, kita memang tidak seharusnya bersama.”
もっと見るSuara detak jam terdengar jelas di ruang rawat itu. Bau obat-obatan memenuhi udara. Seorang wanita muda duduk di atas ranjang pasien, tubuhnya kurus, wajahnya pucat. Dialah Kayulla Abriella, 24 tahun, perempuan yang baru saja melewati masa paling kelam dalam hidupnya.
Empat pria berdiri di sekelilingnya. Tidak ada yang berbicara. Darwin… pamannya. Lalu tiga kakaknya—Arjuna, Xavier, dan Raffa. Semua menatapnya dengan cara yang sama. Cemas. Takut. Dan… tidak tahu harus berbuat apa. "Apa benar dia sudah bisa pulang, Dokter? Dia… beneran udah boleh pulang, Dok?" tanya Darwin dengan suara serak menahan khawatir. Dokter menatapnya lembut. "Secara fisik, kondisi pasien sudah jauh membaik. Tetapi... untuk traumanya, itu butuh waktu. Mohon pastikan dia tidak dibiarkan sendiri terlalu lama. Bantu dia menemukan alasan untuk hidup kembali." Darwin menganggukkan kepalanya pelan. "Baik, Dok. Kami akan menjaga dan mendampinginya." Setelah dokter berpamitan, keheningan kembali menyelimuti ruangan itu. Hanya suara jam dinding yang terdengar. "Bagaimana? Sungguh bisa pulang?" tanya Juna pada pamannya, Darwin. "Ya, kita siap-siap sekarang." jawab Darwin sembari melangkah menuju ranjang pasien milik Kayulla. "Yulla..." panggil Darwin sambil duduk di tepi ranjang. Tangannya menggapai jemari Kayulla yang dingin. "Kita pulang ya sayang. Kita mulai semuanya dari awal." "....." Tidak ada jawaban. Kayulla tidak bereaksi. Bahkan saat tangannya disentuh, jemarinya tidak membalas. Tiga Bulan Kemudian Pagi itu, aroma masakan hangat memenuhi ruang makan keluarga Anderson. Empat pria duduk mengelilingi meja, sementara Kayulla duduk diam di ujung, menatap piringnya tanpa ekspresi, dan mulai makan dengan tenang. Darwin berdeham pelan, tampak ragu. Dia melihat bergantian pada tiga keponakannya, meminta dukungan. Arjuna memberi anggukan kecil, Xavier mengedipkan kedua matanya memberi isyarat, sementara Raffa hanya mengangkat jempol, meski wajahnya terlihat tegang. Akhirnya Darwin menarik napas panjang dan bersuara lembut "Yulla..." "....." Tidak ada respon. Wanita itu tetap fokus pada potongan ayam di piringnya. "Paman dan ketiga abangmu sudah memutuskan sesuatu," ucap Darwin hati-hati. "Kami ingin kau melanjutkan kuliah di Arcadia University. Kayulla menghentikan gerak sendoknya. Ia diam sejenak, lalu meraih gelas dan meneguk air dengan perlahan. Setelah itu, tatapannya mengarah pada Darwin — dingin, datar, namun menusuk. "Untuk apa?" suaranya pelan tapi tegas. Darwin menelan ludah. "Kau harus melanjutkan hidupmu, Yulla. Bertemu orang-orang baru, melihat dunia luar. Kami tak ingin kau terus terkurung dalam bayangan masa lalu. Di Arcadia, kau bisa memulai semuanya dari awal." Hening. Beberapa detik terasa seperti menit. Akhirnya, Kayulla berkata pelan, "Baiklah... Aku akan masuk Arcadia. Tapi ada syaratnya." Keempat pria itu serentak menatapnya—terkejut sekaligus bahagia. Itu adalah pertama kalinya Kayulla berbicara sejak tragedi nahas itu terjadi. "Apapun, Sayang." sahut Darwin penuh haru. "Katakan. Paman akan kabulkan." "Aku ingin tinggal di apartemen. Sendiri." ucap Kayulla. Keheningan kembali turun. Raffa menatapnya tajam. "Apa? Tidak! Itu tidak bisa! Keadaanmu bahkan masih belum stabil. Siapa yang akan bertanggung jawab jika terjadi sesuatu padamu? Paman, jangan ijinkan!" ucap Raffa dengan marah. Kayulla menghela napas datar. "Tidak tinggal di apartemen, maka aku tidak akan masuk Arcadia." Nada suaranya datar, tapi tegas. Final. "Apaa ...." Mendengar itu, keempat pria yang ada disana terkejut dengan keputusan final yang Kayulla utarakan. "Tidak tinggal di apartemen, tidak kuliah." lanjutnya, lalu berdiri meninggalkan meja makan dan melangkah pergi tanpa menoleh ke belakang. Hening menyelimuti ruang makan setelah kepergian Kayulla, mereka sibuk dengan pikiran rumitnya. "Paman, tolong jangan izinkan itu!" seru Xavier yang kalut akan perasaannya. "Adik kecilku belum sembuh sepenuhnya!" Darwin hanya menunduk, mencoba menenangkan mereka. "Paman akan coba bicara lagi dengannya." katanya pelan. Tapi bahkan dari nada suaranya, mereka tahu, dia juga ragu. "Bagaimana jika dia tetap kekeuh dengan keputusannya ?" tanya Raffa yang menunjukkan wajah tertekannya. "Kita coba." ucap Arjuna yang langsung meminum air putihnya. "Tapi dia keras kepala." ucap Raffa dengan meminum kopinya dengan kasar. Arjuna langsung bangkit dari tempat duduknya, bergegas pergi. "Mau kemana?" tanya Raffa. "Menemui Yulla." jawab Juna yang langsung pergi meninggalkan ruang makan. Sepeninggal Arjuna, keheningan kembali menyelimuti ruang makan itu. "Paman, aku tidak ingin dia tinggal sendiri." ucap Raffa dengan lesu. "Tenangkan dirimu Raffa, Kayulla hanya mengatakan untuk tinggal sendiri di Apart, bukan melarang kita untuk datang berkunjung." ucap Darwin dengan memegangi kepalanya. Dan bagaikan tersengat listrik, baik Darwin, Xavier dan Raffa sama-sama terkejut dengan kalimat barusan. Secara serempak, mereka saling berpandangan. Seperti telepati, mereka langsung mengerti dan tahu apa yang harus dilakukan. Dan dengan kompak, mereka langsung bangkit dari kursi masing-masing dan bergegas menuju kamar Kayulla. Berharap, Kayulla dapat menimbang lagi keputusannya dan mencari jalan tengahnya. ️Di Kamar Kayulla Tok tok tok ... "Yulla... ini abang. Boleh abang masuk sayang?" ucap Juna. Tidak lama kemudian, terdengar bunyi kunci berputar. Pintu terbuka sedikit, lalu berhenti di sana. Arjuna mendorongnya pelan, melangkah masuk. Ia melihat adiknya duduk di atas kasur, menatap layar televisi yang menampilkan anime favoritnya. Wajahnya tenang, tapi bukan tenang yang damai, melainkan kosong. "Yulla ...." panggil Arjuna lembut, lalu duduk di depannya. "Abang boleh tahu tidak, kenapa kau ingin tinggal di apartemen?" "....." Kayulla tidak menjawab. Pandangannya tetap ke layar televisi. Beberapa detik kemudian, Darwin, Xavier, dan Raffa masuk dengan langkah pelan. Mereka berdiri di belakang Juna, menatap adik mereka yang diam membisu. "Abang hanya ingin tahu apa yang kau rasakan dan apa yang kau inginkan." ucap Juna saat tidak ada respon dari adiknya. Darwin : "..." Xavier : "..." Raffa : "..." 'bagaimana cara memberitahu bahwa aku muak dengan kalian.' batin Kayulla. Kayulla merasa bahwa keluarganya selalu mengganggunya, sedangkan dia hanya ingin sendiri dan tidak mau di ganggu. Tapi baik paman maupun ketiga abangnya, mereka selalu tidak membiarkan dia sendirian. Keheningan panjang menyelimuti kamar itu. Hanya suara dialog anime yang terdengar samar. Akhirnya, dengan Kayulla yang masih menatap layar televisi, dia berbisik pelan, "Kalian bilang aku harus melanjutkan hidup, kan?" Empat pria itu menatapnya. "Aku ingin memulai semuanya dari awal," lanjutnya lirih. "Tapi... sendiri. Selama ini kalian tidak membiarkanku sendirian, itu membuatku sesak, dan aku muak." ucap Kayulla yang berhasil menusuk hati keempat pria itu. Keempat pria itu terdiam. Tidak ada yang berani menentang, karena di balik suara pelan itu, ada luka yang dalam. Luka yang belum sembuh... tapi mulai berani bicara. Dan di situlah, awal dari perjalanan baru Kayulla dimulai. -----Bel istirahat berbunyi, kelas 1A tampak sepi. Kayulla tidur di dalam kelas, tangannya terlipat di atas meja — menjadi alas tempatnya tidur.Lucas datang — diam-diam, menutup pintu kelas secara perlahan. Ia melangkah dengan pelan, hingga suara tapak kakinya tak terdengar.Lucas duduk perlahan di depan meja Kayulla, tangannya terlipat dan dagunya menyanggah di atas tangannya. Menatap Kayulla dengan tenangHeningHanya suara detak jam di dinding yang terdengar. Hembusan napas yang halus keluar dari hidung Kayulla, ia tertidur dengan damai.Lucas memerhatikan setiap inci di wajah Kayulla — alis, bulu mata, mata, hidung, bibir dan pipi yang mulus dan halus tanpa celah, tak ada satu inci pun yang terlewat dalam pandangan LucasAda dorongan dibenaknya untuk mencoba menyentuhnya, namun ia menyadari keterbatasan dirinya. Ingin sekali ia mengelus lembut pipi yang putih itu, namun ia hanya mampu berkhayal.Lucas senang dengan keheningan ini, hanya ada dia dan Kayulla, di sini, di ruangan ini, ha
Malam hari — kediaman BaskoroLampu kamar Cintya redup, hanya cahaya laptop yang memantul di wajahnya. Jarinya bergerak cepat di atas keyboard, menari di antara pesan-pesan terenkripsi yang tak ditujukan untuk orang biasa.Di layar, sebuah akun tanpa nama aktif — satu dari sekian banyak pintu gelap yang ia ketuk malam itu.Kamar itu sunyi, terlalu sunyi.Cintya duduk di depan laptopnya, punggungnya tegak, wajahnya nyaris tak bergerak. Cahaya layar memantul di matanya, membuat sorotnya tampak dingin—bukan marah, bukan gelisah. Lebih tepatnya: waspada.Ia tidak pernah menyukai ketidakpastian. Dan Kayulla… adalah bentuk ketidakpastian itu sendiri.Jarinya berhenti sejenak di atas keyboard. Dadanya naik turun perlahan. Ada sesuatu yang menggerogoti dadanya sejak pagi tadi—sejak tawa Lucas terdengar begitu nyata, begitu tulus… dan sama sekali bukan untuknya.'Aku tidak sedang cemburu,' batinnya dingin.'Aku hanya memastikan milikku tidak direbut orang lain.' Ia kembali mengetik.CINTYA:"A
Malam hari — Mansion RustichelLucas merebahkan diri di atas tempat tidur, kedua tangannya terlipat di bawah kepala, tatapannya kosong menembus langit-langit kamar.Pantai sore tadi kembali hadir tanpa izin—terlalu jelas, terlalu dekat. Candaan Kayulla, reaksi spontan F6, dan penolakannya sendiri yang kini terasa seperti bumerang. Lucas mengatupkan rahang pelan. Untuk pertama kalinya, ia sadar: ada sesuatu yang mulai lepas dari kendalinya.Namun Lucas tidak menyesalinya, karena ia tahu jelas apa sesuatu itu. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa dia kontrol dalam keadaan sadar maupun tidak sadar.Cinta ...Ya, Lucas sudah berani mengakui bahwa dirinya mencintai Kayulla, cinta yang ia pendam, cinta pertama dalam hidupnya.Lucas tidak menyangka, bahwa dirinya ternyata bisa mencintai seseorang. Dengan penyakitnya ini, ia bahkan tidak pernah berpikir bisa dekat dengan seorang wanita.Tapi tidak ....Lucas salah. Dia justru mencintai wanita yang mungkin akan jauh lebih sulit ia dapatkan, buka
Kayulla menatap Lucas sejenak, mencoba membaca ekspresi wajahnya. Ada sesuatu yang berbeda hari ini, Lucas tampak lebih pendiam dari biasanya, hampir seperti ia sedang menyimpan sesuatu untuk dirinya sendiri. Rasa penasaran Kayulla meningkat, tapi ia memilih menunggu."Kau gak ikut makan, Lucas?" tanya Kayulla saat melihat Lucas hanya berdiri diam tidak ikut makan popmie seperti mereka."Gak." jawab Lucas singkat, memandang Kayulla."Dia mana mau makan beginian, Bu." timpal Joo In di sela makannya."Lah kenapa?" tanya Kayulla heran."Mie instan itu gak sehat." jawab Lucas santai."Dih, kasihan banget gak pernah makan enak." ucap Kayulla, dia kembali memakan popmie nya."Hey, apa orang sepertiku kekurangan makanan enak di rumah?" ujar Lucas pongah."Hey, bos Lucas. Tidak peduli kau makan makanan seenak apa, kalau kau belum pernah tahu betapa enaknya makan mie instan, kau belum hidup." terang Kayulla santai."Sudah ku bilang mie instan tidak sehat." jawab Lucas tetap pada pendiriannya.
Di dalam klinik, aroma antiseptik tercium lembut. Kayulla berdiri di samping ranjang pasien, tangannya terlipat di depan dada, menatap Lucia yang tengah diobati oleh dokter kampus. Wajahnya tetap datar, seperti biasa."Sudah selesai," kata dokter itu sambil melepas sarung tangannya. "Lain kali, hat
Satu minggu berlalu tanpa perubahan berarti. Hari-hari di Arcadia berjalan seperti biasa, monoton, tertib, tapi penuh tatapan tersembunyi.Lucia tetap berusaha menjadi teman yang baik bagi Kayulla. Ia tidak menyerah, bahkan ketika keheningan menjadi jawaban sehari-hari.Di sisi lain, Kayulla tetap
Langkah kaki Kayulla terdengar lembut di antara deretan marmer putih yang mengilap. Cahaya matahari pagi menembus jendela besar di sepanjang koridor Arcadia University, memantulkan siluetnya yang ramping dan tenang.Di setiap sisi, taman kecil tertata rapi dengan bunga berwarna pastel, sementara ai
Kayulla duduk di sofa, menatap Lucia dengan tatapan lelah. Sebenarnya, di balik dinginnya wajah itu, ada sedikit rasa kasihan. Tapi rasa letih dalam dirinya jauh lebih besar daripada sekadar empati.Lucia, yang duduk di seberang, tidak mau menyia - nyiakan momen itu."Siapa namamu?" tanyanya pelan,






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.