“Aku terbiasa menghadapi hal seperti ini.”Suara Andrea terdengar datar, seolah apa yang baru saja terjadi bukan sesuatu yang layak dibesar-besarkan. Ia masih mengusap pergelangan tangannya yang memerah, bekas cengkeraman kasar para pria tadi. Gerakannya tenang, namun dari caranya menekan bagian yang sakit, jelas ada rasa nyeri yang ia tahan.Meski begitu, tanpa banyak bicara, ia langsung membuka pintu mobilnya dan duduk kembali di kursi kemudi, sikapnya tegas dan seolah menutup ruang bagi siapa pun untuk mengasihaninya.Namun sebelum pintu itu benar-benar tertutup, tangan Sakti menahannya. Jemarinya mencengkeram bagian atas pintu dengan santai, tapi cukup kuat untuk menghentikan gerakan Andrea.“Kau tak ingin mengucapkan terima kasih padaku?” ujarnya ringan, sudut bibirnya terangkat sedikit, setengah menggoda, setengah menantang.Andrea menoleh sekilas. Tatapannya tajam, dingin, dan penuh perhitungan.“Kita sedang berada di tengah jalan. Aku tak mau keberadaan kita memicu kemacetan.
Last Updated : 2026-05-06 Read more