Pukul sepuluh malam.Richard baru saja selesai membaca laporan keuangan yang tadi tertunda. Tablet sudah ia letakkan di meja, lampu ruang kerja hanya menyisakan satu sumber cahaya dari lampu meja berwarna hangat. Ponsel di atas meja bergetar.Layar menyala: Karina.Richard menatap nama itu beberapa detik. Tidak dengan kebencian, tidak juga dengan rindu. Lebih seperti seseorang yang melihat lembaran lama yang sudah selesai dibaca—diketahui isinya, tidak perlu dibuka lagi.Ia mengangkat.Video call. Wajah Karina muncul di layar, sedikit buram karena koneksi, tapi jelas dalam riasan tipis yang masih ia kenakan."Hi, Rich."Suaranya datar. Ada nada yang tidak pernah berubah dalam tiga tahun ini: kelelahan yang sudah menjadi kebiasaan."Hm.""I hate you."(Aku benci kamu)Richard mendengus pelan. Bukan karena marah, tapi karena ia sudah hafal dialog ini. Setiap kali Karina menelepon, selalu dimulai dengan tiga kata itu. "I know."(Aku tahu)Karina tersenyum kecil. Senyum yang tidak lagi
Last Updated : 2026-05-07 Read more