Donaturku Ternyata Ayah Sahabatku

Donaturku Ternyata Ayah Sahabatku

last updateÚltima actualización : 2026-05-07
Por:  Bianca beeActualizado ahora
Idioma: Bahasa_indonesia
goodnovel18goodnovel
No hay suficientes calificaciones
11Capítulos
25vistas
Leer
Agregar a biblioteca

Compartir:  

Reportar
Resumen
Catálogo
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP

Bianca adalah gadis yang hidup dalam dua dunia. Siang hari, ia mahasiswi berprestasi dengan kacamata bundar dan pendiam, sederhana, tidak mencolok. Penerima beasiswa yang berjuang mati-matian mempertahankan IPK-nya sambil mengirim uang untuk ibunya di kampung. Malam hari, ia adalah Naughty Bee-streamer dewasa bertopeng yang tubuhnya menjadi tontonan ribuan pria. Bukan karena ia ingin. Tapi karena hutang bank mengancam rumah satu-satunya ibunya, dan tidak ada pilihan lain yang tersisa. Lalu ada Mr. Grey. Pria misterius yang tidak pernah meminta vulgar. Tidak pernah mengirim pesan mesum. Hanya gift besar dan keheningan yang justru membuat Bianca semakin penasaran. Siapa dia? Mengapa tatapannya dari balik layar terasa begitu mengawasi? Di dunia nyata, Mr. Grey adalah Richard Wijaya-eksekutif sukses berusia 47 tahun, duda dengan satu anak perempuan: Carisa, sahabat Bianca. Di kantor, ia adalah CEO yang dingin dan disegani. Di rumah, ia adalah ayah yang sibuk dan jarang ada. Tapi di malam hari, ia adalah pria yang menghabiskan ratusan juta rupiah hanya untuk menatap Bee di layar.

Ver más

Capítulo 1

1. Lebah di Malam Hari

Gadis muda itu duduk di kursi gaming pinknya, menatap layar laptop yang menampilkan dirinya sendiri. Ia memiringkan kepala, menarik sedikit rambut cokelat panjang bergelombang—wig yang ia pasang dengan hati-hati satu jam lalu.

Topeng hitam berornamen emas menutupi separuh wajahnya. Hanya bibir merah muda penuh dan dagu lancipnya yang terlihat.

Lingerie hitam murah membalut tubuhnya. Di bawah cahaya ring light, bayangan puncak dadanya tercetak jelas di balik kain tipis.

Ia menatap layar.

823 penonton.

Jumlah yang terus naik setiap malam.

Lebih banyak penonton berarti lebih banyak gift. Lebih banyak gift berarti lebih banyak uang.

Ia menarik napas panjang.

Ehem.

Sekali.

Dua kali.

Lalu suara itu keluar.

Lembut. Manja. Bee.

“Good evening, my busy bees…”

Senyum latihan itu terpasang.

Ini hanya kerjaan.

Ini Naughty Bee.

Bukan Bianca.

Klik.

Layar menyala.

Notifikasi gift mulai berdenting.

Rose.

Kiss.

Diamond.

Chat melaju cepat.

Bee tertawa kecil.

“Aku kangen kalian… kalian kangen Bee?”

Gift bertambah.

Penonton naik.

Jantung Bianca berdegup.

Empat bulan, dan semuanya masih terasa seperti pertama kali.

Ia memainkan rambutnya. Menyentuh tali spageti di bahu. Menarik sedikit.

“Oops…”

Tali melorot.

Kulit putih terbuka.

Sisi kiri lingerienya turun.

Dada yang cukup berisi—besar untuk tubuhnya yang ramping—terlihat sempurna di bawah lampu ring light. Puncak merah muda yang masih kencang karena gugup tersingkap tanpa sengaja.

Atau pura-pura tidak sengaja.

Bianca menghadirkan reaksi kaget. Tangannya cepat menutupi dada kirinya, jari-jari merapat seolah malu. Tapi ia membiarkan cukup celah agar bayangan tetap terlihat.

"Aduh, aduh... maaf, maaf..." suaranya melengking manja, nada panik yang dibuat sempurna. "Jangan dilihat, ya... Bee malu..."

Kolom chat meledak.

Gift berjatuhan.

Angka penonton melonjak.

Di wajahnya, Naughty Bee tampak malu-malu.

Di dalam, Bianca mual.

Ia menggigit bibir bawah, menatap kamera dengan mata yang tersembunyi di balik topeng. "Mau lihat lebih lama?"

Chat membanjiri layar dengan dua kata yang sama: MAU... MAU... MAU...

"Eumm... gimana, ya..." Ia memiringkan kepala, wig coklat bergerak lembut.

"Bee jadi malu..."

"Wah, giftnya banyak banget..." jarinya menunjuk layar dengan gerakan genit.

"Ih, ada yang kirim Diamond Ring juga... makasih, ya, Mas Sayang..."

Ia meniupkan kecupan ke kamera.

"Tapi janji, ya... Bee kasih lihat sebentar aja. Soalnya Bee malu..."

Kolom chat makin liar.

Bianca menarik napas.

Satu. Dua. Tiga.

Tangannya turun.

Perlahan.

Dengan sengaja.

Tangan kanannya yang sedari tadi menutup dada kiri bergerak menjauh. Jari demi jari terbuka, memberi ruang bagi kamera untuk menangkap semuanya.

Lingerie hitam melorot sempurna di sisi kiri.

Dada putih itu terbuka penuh.

Puncak merah muda—kecil, masih kencang, sedikit menonjol—menjadi pusat perhatian di bawah lampu ring light yang terang.

Bianca membeku tiga detik.

Gift meledak.

Penonton tembus seribu.

Bianca buru-buru menutup lagi. Menutup dada itu, jari-jari merapat dengan gerakan panik yang dibuat-buat.

"Uh... udah, udah... cukup..." suaranya setengah tertawa, setengah malu.

"Kalian nakal... mau di jilat? ah jangan dijilat, ya..."

Chat meledak lagi.

Bianca menggoyangkan jari telunjuk ke kamera.

"Eumm... mau nyusu? No, no..." Ia tertawa kecil, suaranya melengking manja.

"Bee kasih lihat lagi nanti, ya... kalau giftnya banyak lagi..."

Ia merapikan tali spageti lingerienya dengan gerakan lambat, sengaja membuat mereka menunggu setiap sentimeter kain yang menutup kembali kulit putih itu.

Kolom chat menjadi lautan emoji api dan hati.

Mr.Grey mengirim Diamond Crown x3!

Notifikasi itu muncul di puncak semua gift lainnya.

Bianca berhenti.

Matanya—tersembunyi di balik topeng—terpaku pada nama itu.

Mr. Grey.

Tiga Diamond Crown.

Tiga juta rupiah.

Sekali klik.

Tanpa komentar. Tanpa permintaan. Tanpa "lihat lebih"

Hanya gift. Lalu diam.

Bianca merasakan sesuatu yang aneh merambat di punggungnya. Bukan rasa syukur. Bukan senang.

Seperti ada yang mengawasi.

Dari balik layar.

Dari balik nama itu.

"Terima kasih, Mr. Grey..." suaranya keluar sedikit lebih lembut dari biasanya.

Lebih tulus. "Kamu... selalu terlalu baik sama Bee."

Buset Mr. Grey raja gift

Bee senyum manis banget tadi

Mr. Grey dari mana aja baru muncul?

Tapi Mr. Grey tidak menjawab.

Diam. Sunyi. Hanya nama itu yang bersinar di daftar penonton, seperti sepasang mata yang tidak berkedip.

Ia tidak tahu siapa Mr. Grey. Tidak tahu usianya, wajahnya, pekerjaannya.

Tidak tahu apakah dia pria muda atau tua, apakah dia sendirian di balik layar atau sedang ditemani. Tidak tahu apa yang membuatnya terus kembali setiap malam hanya untuk duduk diam dan mengirim gift sebanyak itu.

Mr. Grey melihat dia.

Bee menghela napas pelan, ia kembali fokus membaca chat.

Tapi penonton tidak perlu tahu itu.

"Eumm..." Ia menunduk, memainkan ujung rambutnya dengan jari. "Sebelah lagi lihatin gak ya..."

Chat membanjiri.

Ia tertawa kecil. "Besok aja deh..."

"Janji kok, janji," ucapnya sambil mengangkat jari kelingking ke kamera. "Bee gak ingkar janji."

"Besok lagi aja deh... dibukanya... nanti kalian bosan sama Bee kalau buka-buka terus."

Ia tersenyum manis, tapi kali ini senyumnya tidak sampai ke mata.

Matanya—yang tidak terlihat di balik topeng—sudah lelah. Sudah ingin mematikan semuanya dan menjadi Bianca lagi.

"Udah ya... live-nya ditutup."

Ia mengangkat tangan, melambaikan jari-jari lentiknya ke kamera.

“Bye Mas dan Daddy sayang Muachh…”

Ia meniup ciuman.

Menekan tombol.

LIVE ENDED.

Layar hitam.

Kamar kos kembali sunyi.

Ia menarik topeng.

Melepas wig.

Rambut hitam sebahu terurai.

Ia menatap pantulan.

Bianca.

Bukan Bee.

Di sudut layar:

Total Gift: Rp3.450.000

Cukup.

Lebih dari cukup.

Besok bisa transfer ke ibu.

Bayar kos.

Beli kebutuhan.

Tapi malam ini—

ia hanya ingin jadi Bianca lagi.

Gadis yang tak dikenal siapa pun.

Gadis yang hanya punya satu teman di dunia nyata: Carisa.

Yang tak tahu apa pun tentang malam-malam ini.

Di tempat lain, seorang pria duduk diam dalam ruang kerja apartemen yang redup.

Namun diamnya penuh kendali.

Richard Wijaya.

Ia menatap layar tanpa berkedip.

Jarinya bergerak ringan di atas mouse.

Satu sentuhan.

Gift bernilai besar meluncur tanpa ragu.

Seolah uang tak berarti.

Di sampingnya, gelas wiski berkilau.

Ia menyesap pelan.

Tatapannya tetap pada layar.

Di layar itu—

Bee.

Dan hanya Bee.

Ponselnya bergetar.

Carisa calling.

Ia mengangkatnya tanpa berpaling.

“Iya.”

Suara putrinya terdengar riang.

Richard hanya menjawab seperlunya.

Mata tetap terpaku pada layar.

Tak ada jeda.

Tak ada gangguan.

Seolah dunia di luar ruangan itu tak penting.

Karena malam ini, satu-satunya hal yang benar-benar ia kejar hanyalah satu nama di layar itu.

Naughty Bee.

Expandir
Siguiente capítulo
Descargar

Último capítulo

Más capítulos

A los lectores

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Sin comentarios
11 Capítulos
Explora y lee buenas novelas gratis
Acceso gratuito a una gran cantidad de buenas novelas en la app GoodNovel. Descarga los libros que te gusten y léelos donde y cuando quieras.
Lee libros gratis en la app
ESCANEA EL CÓDIGO PARA LEER EN LA APP
DMCA.com Protection Status