INICIAR SESIÓNBianca adalah gadis yang hidup dalam dua dunia. Siang hari, ia mahasiswi berprestasi dengan kacamata bundar dan pendiam, sederhana, tidak mencolok. Penerima beasiswa yang berjuang mati-matian mempertahankan IPK-nya sambil mengirim uang untuk ibunya di kampung. Malam hari, ia adalah Naughty Bee-streamer dewasa bertopeng yang tubuhnya menjadi tontonan ribuan pria. Bukan karena ia ingin. Tapi karena hutang bank mengancam rumah satu-satunya ibunya, dan tidak ada pilihan lain yang tersisa. Lalu ada Mr. Grey. Pria misterius yang tidak pernah meminta vulgar. Tidak pernah mengirim pesan mesum. Hanya gift besar dan keheningan yang justru membuat Bianca semakin penasaran. Siapa dia? Mengapa tatapannya dari balik layar terasa begitu mengawasi? Di dunia nyata, Mr. Grey adalah Richard Wijaya-eksekutif sukses berusia 47 tahun, duda dengan satu anak perempuan: Carisa, sahabat Bianca. Di kantor, ia adalah CEO yang dingin dan disegani. Di rumah, ia adalah ayah yang sibuk dan jarang ada. Tapi di malam hari, ia adalah pria yang menghabiskan ratusan juta rupiah hanya untuk menatap Bee di layar.
Ver másGadis muda itu duduk di kursi gaming pinknya, menatap layar laptop yang menampilkan dirinya sendiri. Ia memiringkan kepala, menarik sedikit rambut cokelat panjang bergelombang—wig yang ia pasang dengan hati-hati satu jam lalu.
Topeng hitam berornamen emas menutupi separuh wajahnya. Hanya bibir merah muda penuh dan dagu lancipnya yang terlihat. Lingerie hitam murah membalut tubuhnya. Di bawah cahaya ring light, bayangan puncak dadanya tercetak jelas di balik kain tipis. Ia menatap layar. 823 penonton. Jumlah yang terus naik setiap malam. Lebih banyak penonton berarti lebih banyak gift. Lebih banyak gift berarti lebih banyak uang. Ia menarik napas panjang. Ehem. Sekali. Dua kali. Lalu suara itu keluar. Lembut. Manja. Bee. “Good evening, my busy bees…” Senyum latihan itu terpasang. Ini hanya kerjaan. Ini Naughty Bee. Bukan Bianca. Klik. Layar menyala. Notifikasi gift mulai berdenting. Rose. Kiss. Diamond. Chat melaju cepat. Bee tertawa kecil. “Aku kangen kalian… kalian kangen Bee?” Gift bertambah. Penonton naik. Jantung Bianca berdegup. Empat bulan, dan semuanya masih terasa seperti pertama kali. Ia memainkan rambutnya. Menyentuh tali spageti di bahu. Menarik sedikit. “Oops…” Tali melorot. Kulit putih terbuka. Sisi kiri lingerienya turun. Dada yang cukup berisi—besar untuk tubuhnya yang ramping—terlihat sempurna di bawah lampu ring light. Puncak merah muda yang masih kencang karena gugup tersingkap tanpa sengaja. Atau pura-pura tidak sengaja. Bianca menghadirkan reaksi kaget. Tangannya cepat menutupi dada kirinya, jari-jari merapat seolah malu. Tapi ia membiarkan cukup celah agar bayangan tetap terlihat. "Aduh, aduh... maaf, maaf..." suaranya melengking manja, nada panik yang dibuat sempurna. "Jangan dilihat, ya... Bee malu..." Kolom chat meledak. Gift berjatuhan. Angka penonton melonjak. Di wajahnya, Naughty Bee tampak malu-malu. Di dalam, Bianca mual. Ia menggigit bibir bawah, menatap kamera dengan mata yang tersembunyi di balik topeng. "Mau lihat lebih lama?" Chat membanjiri layar dengan dua kata yang sama: MAU... MAU... MAU... "Eumm... gimana, ya..." Ia memiringkan kepala, wig coklat bergerak lembut. "Bee jadi malu..." "Wah, giftnya banyak banget..." jarinya menunjuk layar dengan gerakan genit. "Ih, ada yang kirim Diamond Ring juga... makasih, ya, Mas Sayang..." Ia meniupkan kecupan ke kamera. "Tapi janji, ya... Bee kasih lihat sebentar aja. Soalnya Bee malu..." Kolom chat makin liar. Bianca menarik napas. Satu. Dua. Tiga. Tangannya turun. Perlahan. Dengan sengaja. Tangan kanannya yang sedari tadi menutup dada kiri bergerak menjauh. Jari demi jari terbuka, memberi ruang bagi kamera untuk menangkap semuanya. Lingerie hitam melorot sempurna di sisi kiri. Dada putih itu terbuka penuh. Puncak merah muda—kecil, masih kencang, sedikit menonjol—menjadi pusat perhatian di bawah lampu ring light yang terang. Bianca membeku tiga detik. Gift meledak. Penonton tembus seribu. Bianca buru-buru menutup lagi. Menutup dada itu, jari-jari merapat dengan gerakan panik yang dibuat-buat. "Uh... udah, udah... cukup..." suaranya setengah tertawa, setengah malu. "Kalian nakal... mau di jilat? ah jangan dijilat, ya..." Chat meledak lagi. Bianca menggoyangkan jari telunjuk ke kamera. "Eumm... mau nyusu? No, no..." Ia tertawa kecil, suaranya melengking manja. "Bee kasih lihat lagi nanti, ya... kalau giftnya banyak lagi..." Ia merapikan tali spageti lingerienya dengan gerakan lambat, sengaja membuat mereka menunggu setiap sentimeter kain yang menutup kembali kulit putih itu. Kolom chat menjadi lautan emoji api dan hati. Mr.Grey mengirim Diamond Crown x3! Notifikasi itu muncul di puncak semua gift lainnya. Bianca berhenti. Matanya—tersembunyi di balik topeng—terpaku pada nama itu. Mr. Grey. Tiga Diamond Crown. Tiga juta rupiah. Sekali klik. Tanpa komentar. Tanpa permintaan. Tanpa "lihat lebih" Hanya gift. Lalu diam. Bianca merasakan sesuatu yang aneh merambat di punggungnya. Bukan rasa syukur. Bukan senang. Seperti ada yang mengawasi. Dari balik layar. Dari balik nama itu. "Terima kasih, Mr. Grey..." suaranya keluar sedikit lebih lembut dari biasanya. Lebih tulus. "Kamu... selalu terlalu baik sama Bee." Buset Mr. Grey raja gift Bee senyum manis banget tadi Mr. Grey dari mana aja baru muncul? Tapi Mr. Grey tidak menjawab. Diam. Sunyi. Hanya nama itu yang bersinar di daftar penonton, seperti sepasang mata yang tidak berkedip. Ia tidak tahu siapa Mr. Grey. Tidak tahu usianya, wajahnya, pekerjaannya. Tidak tahu apakah dia pria muda atau tua, apakah dia sendirian di balik layar atau sedang ditemani. Tidak tahu apa yang membuatnya terus kembali setiap malam hanya untuk duduk diam dan mengirim gift sebanyak itu. Mr. Grey melihat dia. Bee menghela napas pelan, ia kembali fokus membaca chat. Tapi penonton tidak perlu tahu itu. "Eumm..." Ia menunduk, memainkan ujung rambutnya dengan jari. "Sebelah lagi lihatin gak ya..." Chat membanjiri. Ia tertawa kecil. "Besok aja deh..." "Janji kok, janji," ucapnya sambil mengangkat jari kelingking ke kamera. "Bee gak ingkar janji." "Besok lagi aja deh... dibukanya... nanti kalian bosan sama Bee kalau buka-buka terus." Ia tersenyum manis, tapi kali ini senyumnya tidak sampai ke mata. Matanya—yang tidak terlihat di balik topeng—sudah lelah. Sudah ingin mematikan semuanya dan menjadi Bianca lagi. "Udah ya... live-nya ditutup." Ia mengangkat tangan, melambaikan jari-jari lentiknya ke kamera. “Bye Mas dan Daddy sayang Muachh…” Ia meniup ciuman. Menekan tombol. LIVE ENDED. Layar hitam. Kamar kos kembali sunyi. Ia menarik topeng. Melepas wig. Rambut hitam sebahu terurai. Ia menatap pantulan. Bianca. Bukan Bee. Di sudut layar: Total Gift: Rp3.450.000 Cukup. Lebih dari cukup. Besok bisa transfer ke ibu. Bayar kos. Beli kebutuhan. Tapi malam ini— ia hanya ingin jadi Bianca lagi. Gadis yang tak dikenal siapa pun. Gadis yang hanya punya satu teman di dunia nyata: Carisa. Yang tak tahu apa pun tentang malam-malam ini. Di tempat lain, seorang pria duduk diam dalam ruang kerja apartemen yang redup. Namun diamnya penuh kendali. Richard Wijaya. Ia menatap layar tanpa berkedip. Jarinya bergerak ringan di atas mouse. Satu sentuhan. Gift bernilai besar meluncur tanpa ragu. Seolah uang tak berarti. Di sampingnya, gelas wiski berkilau. Ia menyesap pelan. Tatapannya tetap pada layar. Di layar itu— Bee. Dan hanya Bee. Ponselnya bergetar. Carisa calling. Ia mengangkatnya tanpa berpaling. “Iya.” Suara putrinya terdengar riang. Richard hanya menjawab seperlunya. Mata tetap terpaku pada layar. Tak ada jeda. Tak ada gangguan. Seolah dunia di luar ruangan itu tak penting. Karena malam ini, satu-satunya hal yang benar-benar ia kejar hanyalah satu nama di layar itu. Naughty Bee.Pukul sepuluh malam.Richard baru saja selesai membaca laporan keuangan yang tadi tertunda. Tablet sudah ia letakkan di meja, lampu ruang kerja hanya menyisakan satu sumber cahaya dari lampu meja berwarna hangat. Ponsel di atas meja bergetar.Layar menyala: Karina.Richard menatap nama itu beberapa detik. Tidak dengan kebencian, tidak juga dengan rindu. Lebih seperti seseorang yang melihat lembaran lama yang sudah selesai dibaca—diketahui isinya, tidak perlu dibuka lagi.Ia mengangkat.Video call. Wajah Karina muncul di layar, sedikit buram karena koneksi, tapi jelas dalam riasan tipis yang masih ia kenakan."Hi, Rich."Suaranya datar. Ada nada yang tidak pernah berubah dalam tiga tahun ini: kelelahan yang sudah menjadi kebiasaan."Hm.""I hate you."(Aku benci kamu)Richard mendengus pelan. Bukan karena marah, tapi karena ia sudah hafal dialog ini. Setiap kali Karina menelepon, selalu dimulai dengan tiga kata itu. "I know."(Aku tahu)Karina tersenyum kecil. Senyum yang tidak lagi
Richard duduk di ujung meja makan.Meja kayu panjang yang mampu menampung dua belas orang tapi hanya tiga yang akan terisi malam ini.Ia membuka tablet di samping piringnya.Laporan keuangan kuartal ketiga masih belum selesai. Jarinya menyentuh layar, menggulir data.Carisa belum turun.Suara dari lantai atas.Tawa Carisa. Suara langkah kaki. Dan suara lain—lebih pelan, lebih tertahan.Richard mengangkat pandangan dari tablet."Ayoo, Bia. Santai aja!" seru Carisa, suaranya memantul di dinding ruang makan yang tinggi.Ia meletakkan tablet di samping piring, melipat tangan di atas meja. Menunggu.Carisa melangkah turun dari anak tangga terakhir, masih menarik tangan di belakangnya. Dan di belakang Carisa, seorang gadis muncul.Gadis itu langsing. Tingginya tidak sampai bahu Carisa meskipun Carisa tidak terlalu tinggi. Kemeja sutra biru muda—Richard mengenali itu, itu milik Carisa.Wajahnya.Ketakutan. Mungkin. Atau kegugupan.Gadis itu tidak menatap Richard. Matanya tertuju pada lantai
Mobil putih itu berbelok pelan memasuki kompleks perumahan mewah di kawasan selatan Jakarta. Bianca sudah beberapa kali ke rumah ini. Tapi ia masih merasa seperti memasuki dunia yang berbeda. Dunia yang tidak pernah menjadi tempatnya. Carisa memarkir mobil di garasi yang sudah menampung satu mobil hitam besar di sampingnya. "Ayah udah pulang," kata Carisa sambil mematikan mesin. Matanya menatap mobil hitam itu. "Bagus, gak perlu nunggu." Bianca merasakan degup aneh di dadanya. Gugup. Wajar, pikirnya. Ini tentang magang. Tentang masa depannya. Tidak lebih. Mereka turun. Carisa berjalan lebih dulu, membuka pintu samping yang langsung menuju dapur. "Selamat sore, Non." "Bibi, Ayah udah pulang?" Carisa bertanya sambil melepas sepatu hak rendahnya. "Sudah, Non. Di ruang kerja tadi. Tadi bilang mau ganti baju dulu." "Oke." Carisa menarik tangan Bianca. "Ayo, kita ke kamar gue dulu." Bianca hanya sempat mengangguk sopan pada wanita itu sebelum ditarik Carisa dan naik ke lantai at
Layar ponsel masih menyala.Bianca menatap angka di aplikasi mobile banking-nya. Jari-jarinya terasa dingin. Bukan karena suhu ruangan—kosannya bahkan tidak punya AC—melainkan karena angka itu sendiri.Saldo: Rp 30.250.000Ia menelan ludah pelan.Lalu menutup aplikasi.Beberapa detik kemudian, ia membukanya lagi.Angkanya tetap sama.Nyata.Memperlihatkan bagian bawahku… bisa menghasilkan segitu.Pikirannya berputar pelan, tapi tubuhnya terasa lambat. Seolah semua yang terjadi terlalu cepat untuk benar-benar dipahami.Ia menatap layar lebih lama.Mencoba merasa senang.Mencoba merasa lega.Tapi yang datang justru sesuatu yang lain.Bukan bahagia. Bukan bangga. Bukan jijik sepenuhnya.Ia berdiri dari kursi.Laptop di meja masih terbuka.Kamera kecil di atasnya—yang tadi malam menangkap setiap gerakannya—masih menghadap ke arahnya.Tapi terasa berbeda.Berat.Ia berjalan ke cermin kecil di belakang pintu.Berhenti.Menatap pantulannya sendiri.Rambut hitam sebahu, kusut. Kacamata bundar
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.