"Buka pintunya, Emma," ucap Raka dengan nada menuntut dari balik pintu. Emma tersentak kaget, tapi belum sempat dia mencengkeram gagang pintu, daun pintu tripleks itu terdorong paksa ke dalam, nyaris menghantam keningnya. Di ambang pintu yang basah oleh sisa rintik hujan, Raka berdiri bagai malaikat pencabut nyawa. Jaket kulit hitamnya berkilau diterpa lampu gang, dan sepasang matanya menyala oleh amarah yang membakar habis sisa akal sehatnya. Tanpa permisi, pria itu melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan debuman keras yang menggetarkan dinding rumah. Tatapannya langsung menyapu sekeliling ruangan kontrakan yang mendadak terasa begitu sempit dan pengap. “Hebat ya lo sekarang, Em,” desis Raka, suaranya rendah, tanpa basa-basi dan sarat dengan tekanan yang mematikan. Dia melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka hingga Emma bisa mencium aroma maskulin bercampur wangi air hujan dari tubuh cowok itu. “Bagus banget kelakuan lo di belakang gue.” Emma mundur s
Magbasa pa