LOGIN"Kai ..." bisik Emma tertahan, memegang lengan kakaknya yang gemetar menahan murka. Kai, pria yang selama ini terkenal paling tak banyak omong, kalau pun becanda, terasa garing sekali, dan hampir tak pernah mengandalkan otot, kini berdiri tegak di tempat Bima tadi berdiri. Tangannya yang terkepal rapat masih melayang di udara, dengan urat-urat leher yang menonjol tegang dan pandangan mata yang siap menghancurkan siapa saja. Arsen segera berdiri di tengah mereka. Dia siap turun tangan kalau Bima masih keras kepala. "Bangsat lo," maki Bima yang berdiri terhuyung-huyung mencoba duduk. Pria itu memegangi rahangnya yang terasa remuk. Dia menatap Kai dengan tatapan tak percaya, rasa panas membakar pipinya. Kai maju satu langkah, menunduk menatap Bima bagaikan melihat seekor serangga. "Sensasi bogem mentah dari 'kakak kandungnya' berasa nyata nggak, Bim? Atau lo masih mikir ini prank?" Suara Kai begitu dingin, tanpa ada sedikit pun nada bergurau yang biasanya melekat pada dirinya.
"Diem lo, Arsen!" bentak Bima tak sabar. Tawanya pecah, terdengar parau sekaligus sinis. "Lo yang diam," balas Arsen tak mau kalah. "Sebelum cewek ini masuk ke kampus kita, kita berempat solid! Tapi sekarang? Raka berantem sama lo, dan lo berdua malah nempel-nempel sama dia seolah dia ratu di sini!" "Jaga omongan lo, Bima!" Raka menggebrak meja hingga gelas-gelas kaca berdenting keras. "Di sini yang bermasalah itu lo! Datang-datang langsung mengkambinghitamkan Emma!" "Lihat! Bahkan ketua The Crown pun mendadak buta demi ngebela cewek biasa kayak dia!" teriak Bima murka, menatap Emma dengan sorot kebencian mendalam. "Puas lo, Emma? Puas udah hancurin nama besar kami?!" Kai yang sedari tadi menyandarkan tubuhnya di dekat pintu akhirnya melangkah maju, memotong ketegangan yang makin memuncak. "Bima, Bima ..." celetuk Kai dengan nada tenang, tapi sarat intimidasi. "Lo ngomong panjang lebar kayak gitu, lo tahu nggak siapa cewek yang dari tadi lo tunjuk-tunjuk pakai mulut sampah lo
Mobil Kai membelah jalanan malam yang mulai sepi. Di kursi depan, Kai fokus menyetir seraya sesekali melirik Arsen dari kaca spion tengah dengan tatapan curiga. Sementara Arsen yang duduk di belakang Emma justru cengengesan puas. Jejak cinta kemerahan di leher Emma akibat sapuan ciuman mereka di taman tadi masih tersembunyi rapi di balik rambut panjangnya yang digerai. TRING! TRING! TRING! Tiga nada dering pesan masuk berbunyi serentak di dalam mobil. Ponsel Kai yang terpasang di dashboard, ponsel Arsen di genggamannya, serta ponsel Emma di dalam tas kecilnya bergetar bersamaan. Kai mengernyitkan dahi seraya menepi pelan di lampu merah. Dia melirik layar ponselnya lebih dulu. Arsen pun langsung menunduk menatap layarnya, sementara Emma merogoh tasnya dengan heran. Pesan dari nomor Bima masuk ke layar mereka masing-masing. Bima: Bro, gue perlu ngomong sesuatu yang penting. Datang ke Restoran Merah besok am lima sore setelah pulang kampus. Gue tunggu kalian di sini. Tak berhenti
Arsen tersentak, mengerjapkan matanya berkali-kali seolah baru saja terbangun dari mimpi indah. 'Kita nggak boleh lebih dari ini, Arsen."Arsen mengangguk cepat saat melihat Emma yang ngos-ngosan dengan bibir makin bengkak dan leher berbekal jejak manis buatannya.Arsen menyapu rambutnya ke belakang dengan raut wajah kebingungan dan serba salah. Pria itu berdehem canggung, mencoba menetralkan napasnya yang ikut memburu. "S-sorry, Emma. Astaga, maafin gue," jelas Arsen parau, meraba tenggorokannya yang mendadak terasa kering. "Kamu tuh ya ..." "Iya, Emma. Entah kenapa, gue beneran nggak bisa kontrol diri pas nyium lo. Abisnya bibir lo manis banget, terus leher lo ... duh, bikin tatanan iman gue runtuh seketika." "Nakal banget sih! Lagian, emang kamu punya iman selama ini?" omel Emma mengusap lehernya yang masih sangat sensitif. Matanya yang berbinar indah, membuatnya terlihat makin menggemaskan di mata Arsen. "Ya nggak sih." Arsen tertawa renyah, melangkah mendekat satu langk
Emma tertegun. Lidahnya seketika kelu. Biasanya dia selalu menganggap kalimat godaan Arsen cuma angin lalu, tapi malam ini, tatapan mata pria itu begitu tajam, dalam, dan dipenuhi sinar ketulusan tanpa topeng."Kamu salah makan apa, Arsen?" canda Emma mencoba mengusir gejolak aneh dalam dadanya.Arsen meraih kedua tangan Emma, menggenggamnya erat lalu mengusap punggung tangan gadis itu dengan jemarinya yang hangat dan sedikit gemetar. "Please, jawab aku, Emma ..." bisik Arsen parau, membuat Emma menarik napas panjang."Atau setidaknya kita mencoba dulu. Gue tahu lo ragu gara-gara jejak playboy gue, tapi kasih gue kesempatan buat ngebuktiin semuanya ke lo kalau gue serius." Emma menatap Arsen lurus-lurus, mencari kepalsuan di balik mata pria itu. Namun, yang dia temukan hanyalah kejujuran dan ketakutan akan penolakan.Rasa ragu yang selama ini membentengi hati Emma perlahan runtuh. Toh selama ini, Arsen selalu ada untuknya.Akhirnya Emma mengangguk pelan, bibirnya mengukir senyum tip
"Pak Kumis, totalnya berapa semuanya?" tanya Kai seraya merogoh dompet tebal dari saku celananya, pasrah menghadapi kekalahannya dalam taruhan sambal malam itu. Pak Kumis menghitung cepat sambil tersenyum lebar. "Tiga porsi bakso urat super pedas, tiga teh botol, sama kerupuk lima, totalnya jadi seratus dua puluh ribu aja, Mas." Kai menyerahkan dua lembar uang seratus ribuan dengan raut wajah yang merengut konyol. "Kembaliannya ambil aja, Pak, hitung-hitung tip buat kuah baksonya yang sukses bikin lambung gue bergejolak." Arsen yang berdiri di sebelah Kai tertawa lepas sambil menepuk-nepuk perutnya yang kenyang. "Makasih ya, Kai. Makan malam gratis dari kekalahan tragis lo emang terasa sepuluh kali lebih nikmat." "Diem lo, Sen! Awas aja ntar di mobil gue, lo ngeluh mules," sungut Kai, berjalan memimpin ke luar warung bakso menuju mobil yang terparkir di pinggir jalan. Setelah keluar dari warung dan melangkah menuju area parkir, Arsen tiba-tiba mempercepat langkahnya. Dia meran
“Saya tidak berniat mendekati siapa pun di luar tugas saya sebagai guru les, Tante. Yang tadi… hanya kesalahpahaman.»"Oh ya? Semoga benar hanya kesalahpahaman," ucap Renata sinis sambil membuat tanda kutip dua dengan jemarinya yang lentik dan terawat."Tante, saya menghargai keluarga ini karena te
Emma menyeka sisa air mata di pipinya dengan punggung tangan, lalu menarik napas panjang sekali lagi—lebih dalam, lebih teratur. Seolah sedang meyakinkan dirinya sendiri bahwa dia masih bisa berdiri, masih bisa berjalan, masih bisa menghadapi semuanya.Perlahan, kakinya melangkah menuruni undukan t
Bab 7Emma yang tadinya siap marah, langsung berhenti di tempat. Ia memicingkan mata, berusaha melihat jelas wajah pemilik suara itu.Dan detik berikutnya, hidupnya terasa makin kacau. “Kai?” ucap Emma kaget sekaligus melongo. Dari semua manusia di muka bumi, kenapa harus dia?Kai. Salah satu angg
Lapangan parkir belakang kampus mulai terasa sepi. Hanya tersisa beberapa kendaraan yang berkilau tertimpa cahaya matahari senja. Aspal menguarkan hawa hangat sisa panas sejak siang.Setengah berlari Emma menuju ke tempat ia memarkirkan sepedanya. Ia harus bergegas pulang, mungkin ia masih sempat m







