Emma menahan napasnya yang masih tersengal-sengal, sedangkan detak jantungnya bergemuruh hebat. Dalam kepanikan yang menghimpit, jemari Emma yang gemetar mencengkeram erat kemeja Raka, menatap pria itu dengan pandangan memohon yang teramat sangat. Air matanya yang menggenang, berkilat di bawah temaram cahaya dalam ruangan itu karena rasa bersalahnya pada Arsen. “Raka ... aku mohon, lepasin aku,” bisik Emma dengan suara tercekat, hampir seperti rintihan yang mengiba. Tangannya bergerak cepat menaikkan kembali ritsleting gaun emerald green-nya, menutupi dadanya yang masih naik-turun parah karena sisa gairah. "Gue nggak takut sama Arsen," ucap Raka tegas. Tangannya siap membuka pintu dan hendak menjotos Arsen. “Jangan, Raka ... Kalau Arsen tahu kamu di sini dan liat kita kayak gini, semuanya bakal hancur! Tolong, untuk saat ini, aku butuh pengertianmu!” Raka menatap wajah pucat Emma. Rasa cemburu yang tadinya membakar akal sehatnya perlahan meredupi saat melihat ketakutan yang
Read more