Suasana kamar VIP lantai paling atas rumah sakit itu terasa begitu kontras dengan kebingungan yang membendung di dada Emma. Dia sudah sadar kembali setelah mendapat bantuan medis. "Syukurlah kamu sudah bangun. Mama dan Kakakmu, Kai, hawatir sekali, Nak." Emma bersandar di tumpukan bantal putih. Wajahnya masih pucat pasi, matanya sembap dan kusam, melukiskan kepedihan atas kepergian ayahnya—satu-satunya pegangan hidup yang dia punya selama ini. "Tante, biarkan aku ketemu ayah sekarang," ucap Emma lirih. Ibu Rosalinda yang masih menggenggam tangan Emma, menatap anak gadisnnya, seolah takut jika dia mengedipkan mata sedikit saja, gadis di hadapannya akan menghilang dari pandangannya. "Panggil Tante, Mama, Sayang." Emma tidak menjawab, dia melepaskan tangannya dari genggaman Rosalinda, lalu menarik kedua lututnya ke atas, menyembunyikan wajahnya di sana. Sungguh, di saat-saat seperti ini, dia ingin sendiri, menangis dan meratapi kepergian Ayahnya. Kai yang tadinya berdiri di s
Read more