LOGINEmma Salsabila, gadis sederhana yang berhasil masuk ke Universitas “Adiwangsa Utama”. Dia terjebak di lingkungan kampus elit yang kejam. Di sana, ia berhadapan dengan The Crown—kelompok mahasiswa berkuasa yang ditakuti semua orang. Berbeda dari yang lain, Emma berani melawan. Sikapnya justru menarik perhatian Raka, pemimpin The Crown yang dingin dan arogan. Dari benturan demi benturan, tumbuh hubungan rumit antara keduanya—antara benci, gengsi, dan perasaan cinta yang dalam. Namun, perbedaan status, menjadi konflik terberat mereka. Keduanya harus memilih: menyerah pada keadaan atau berjuang demi cinta.
View MoreEmma Salsabila berdiri di depan gerbang Universitas Adiwangsa Utama. Tidak bisa dipungkiri, perasaannya agak gugup. Mungkin karena ini baru pertama kalinya dia datang ke tempat semegah ini.
Gedung mewah yang menjulang tinggi di depannya itu adalah kawasan kampus para kaum elit. Hampir tidak akses bagi orang luar kalau tidak memiliki agenda atau keperluan khusus. Saat dia berdiri di sini saja, dia sudah merasa jika dunia mereka memang sangat berbeda. Dia berasal dari golongan orang-orang yang harus berjuang untuk bertahan, sedangkan mereka yang berada di dalam sana adalah orang-orang yang telah hidup berkecukupan sejak lahir. Emma datang ke kampus ini bukan tanpa alasan. Satu bulan lalu, dia sempat menerima kabar bahwa dia dinyatakan lolos sebagai penerima beasiswa di Universitas Adiwangsa Utama. Bukan hal gampang untuk bisa diterima di Universitas ini. Emma harus memenuhi standar dan kriteria yang berlaku. Namun, belum sempat dia benar-benar merasakan kebahagiaan itu, sebuah pemberitahuan lain datang secara tiba-tiba: beasiswanya dicabut tanpa penjelasan yang jelas. Karena itulah hari ini Emma datang, berharap mendapatkan jawaban langsung dari pihak kampus. Dia teringat perkataan temannya sebelum mereka lulus kampus Menengah Atas. ‘Tidak sembarangan orang bisa masuk ke Universitas Adiwangsa Utama. Karakter institusi di sana menjadi salah satu syarat yang perlu dipertimbangkan oleh tim rektor.’ Apa memang itu alasannya kenapa beasiswanya dicabut? Kalau benar begitu, lalu kenapa universitas ini membuka jalur beasiswa? Bukankah jalur itu memang diperuntukkan bagi orang-orang seperti dirinya? Emma menatap map cokelat di tangannya, mengeratkan genggamannya sampai map itu sedikit tertekuk. Seluruh berkas yang dia miliki ada di dalam sana, nilai, sertifikat, hingga surat penerimaan beasiswa yang kini terasa seperti lelucon pahit. Selama ini dia telah berjuang sangat keras demi mendapatkan beasiswa itu. Banyak hal yang ia korbankan, termasuk waktu, tenaga, bahkan kesempatan untuk membantu ayahnya demi fokus belajar. Itulah sebabnya dia panik ketika menerima kabar pencabutan tersebut. Bukan hanya karena mimpinya yang tiba-tiba runtuh, tetapi juga karena beasiswa tersebut adalah satu-satunya jalan baginya untuk melanjutkan pendidikan tanpa harus membebani sang ayah. Kehilangannya berarti dia harus menghadapi kenyataan bahwa mimpinya bisa terhenti di sini. Jadi hari ini dia sengaja datang untuk mendapatkan penjelasan. Emma menarik napas panjang. Perlahan, dia mulai melangkah masuk. Belum jauh berjalan, beberapa tatapan langsung tertuju padanya. Ada yang melirik sekilas, ada yang berbisik-bisik, ada juga yang terang-terangan memperhatikannya dari ujung kaki sampai ujung kepalanya. “Dia siapa?” “Kayaknya bukan anak sini.” “Apa mahasiswi baru?” “Seriusan, tampilannya begitu?” “Siapa yang kasih akses dia masuk ke sini?” Emma pura-pura tidak mendengar saja walaupun kata-kata yang ia dengar cukup membuat kupingnya panas dingin. Namun, wajahnya tetap tenang, dan semua itu tidak menghentikan langkahnya. Ayunana kakinya terhenti di depan gedung administrasi. Dinding kaca di depannya memantulkan bayangannya. Sederhana. Biasa saja. Tidak ada menonjol dari dirinya. Jauh berbeda dari orang-orang yang barusan dia lewati. Tiba-tiba, ada rasa kecil yang menusuk. Dia merasa tidak pantas berada di lingkungan elit itu. Setelah termenung beberapa saat, Emma memutuskan untuk masuk ke dalam. Udara dingin langsung menyambutnya, membuat suasana terasa kaku. Lantai mengkilap, meja resepsionis rapi, dan staf yang terlihat sempurna. Emma mendekat. “Permisi, Kak. Saya mau tanya soal beasiswa atas nama Emma Salsabila.” Wanita di balik meja menatapnya sekilas. Tatapan singkat, tapi seperti kakak resepsionis itu sedang menilainya. “Sudah ada janji?” “Belum. Tapi ini sangat penting.” “Oke. Tunggu sebentar.” Wanita itu kemudian mengetik sesuatu. “Ruang 203. Bagian evaluasi.” “Terima kasih.” Tak lama kemudian, Emma tiba di ruangan 203. Tangannya bergerak ke depan dan mengetuk pintu dengan lembut. “Masuk.” Pintu itu terasa berat seberat persoalan yang bercokol di pikirannya saat dia mendorongnya. Perlahan, Emma melangkah masuk. Seorang pria duduk di balik meja besar, berkas-berkas tertata rapi di depannya. Tatapannya langsung terarah pada Emma, ekspresinya sama seperti kakak di meja Resepsionis tadi. “Nama?” “Emma Salsabila, Pak.” “Keperluan?” Emma maju satu langkah. “Saya ingin menanyakan soal pencabutan beasiswa saya, Pak. Saya tidak menerima penjelasan yang jelas.” Pria itu membuka berkas. Semua data memang sudah ada di sana. “Keputusannya memang sudah final.” Pria itu menjawab langsung tanpa basa-basi. Emma menahan napas. “Maaf, Pak. Tapi saya lolos seleksi resmi. Nilai saya memenuhi syarat. Saya—” “Kami tidak mempertanyakan hal itu,” potong pria itu. Emma terdiam beberapa detik, “Lalu, kenapa dicabut?” Pria itu menatapnya. Lalu berkata dengan tenang, “Karena Anda tidak memenuhi standar karakter institusi.” Kata-kata itu rapi dan formal. Tapi bagi Emma, seperti tamparan di wajahnya. Dia mengernyit. “Karakter institusi? Maksudnya apa, Pak?” “Universitas ini memiliki citra tertentu. Dan kami menilai Anda tidak sesuai.” Tidak sesuai? Dua kata sederhana, tapi cukup untuk membuat Emma mengerti maksudnya. “Karena saya bukan dari keluarga kaya, ya?” Sunyi. Pria itu tidak menjawab langsung. Tapi itu sudah cukup menjadi jawaban. Emma tersenyum pahit. “Saya hanya kurang mengerti, Pak. Universitas ini, kalau sejak awal memang hanya menerima orang kaya, kenapa membuka jalur beasiswa? Bukankah itu diperuntukkan untuk orang-orang seperti saya?” “Jaga ucapan Anda,” balas pria itu dingin. “Tidak, Pak. Saya hanya kurang mengerti.” Suara Emma mulai bergetar, “apa gunanya kerja keras kalau hasilnya tetap sama? Padahal, saya benar-benar berharap.” Pria itu terdiam. Sepertinya dia sengaja tidak ingin menjelaskan lebih lanjut. Bagaimanapun juga, ini keputusan Rektor. Dia hanya bertugas menyampaikan. Tangan Emma mengepal pelan di samping. Ada rasa tidak terima. Namun, dia juga tahu, dia tidak punya posisi untuk menuntut lebih jauh. Perlahan dia menunduk. Bukan karena dia pasrah, tapi dia memang tidak bisa melakukan apa-apa di sini. Akhirnya dia berkata dengan nada kecewa, “Kalau memang begitu, baiklah, Pak. Saya tidak akan bertanya lebih lanjut. Saya permisi. Terima kasih.” Dia berbalik, lalu berjalan keluar. Pikirannya kosong. Hatinya seperti diremas. Bahkan dia hampir menangis. Apa yang harus dia katakan pada ayahnya? Ayahnya pasti akan sangat sedih dan kecewa. Semua yang dia perjuangkan selama ini, benarkah akan berakhir sia-sia? “Karakter institusi?” Kalau ukuran karakter adalah kekayaan, sejak awal, dia memang tidak pernah punya kesempatan. Untuk makan saja, Emma dan ayahnya harus berjuang mengais rejeki dari setiap kesempatan yang ada. Diterima di sini lewat jalur beasiswa adalah satu-satunya harapan Emma untuk keluar dari garis kemiskinan yang selama ini mengikatnya. Namun, masalahnya, Universitas ini telah menutup mimpinya untuk mendapat kehidupan yang lebih layak.Arsen sudah duduk manis di kantin. Setelah melewatkan kelas demi kelas dengan kesabaran setipis tisu toilet.Di jam mata kuliah terakhir, dia sengaja keluar duluan dari kelas agar bisa mengambil spot terbaik di kantin. Dua porsi makanan—ayam bakar madu kesukaan Emma dan steak kesukaannya sendiri—sudah terhidang rapi, masih mengepulkan uap tipis.Arsen melirik jam Tag Heuer di pergelangan tangannya. "Mungkin sebentar lagi," gumamnya, mencoba mengusir kecemasan.Lima menit berlalu. Kursi di hadapannya masih kosong. Arsen mulai menggerakkan kakinya dengan gusar di bawah meja.Ayam bakar dan steak di depannya yang tadi terlihat begitu menggoda, kini tampak membosankan."Kamu ke mana sih, Emma?" bisiknya, menatap layar ponsel yang masih gelap.Beberapa mahasiswa yang lewat berbisik-bisik, menatap Arsen heran. Pasalnya, pangeran kampus playboy cap buaya darat yang biasanya rakus itu kini hanya memandangi makanannya dengan tatapan kosong."Nggak usah lihat-lihat! Mau mata lo gue colok?" be
Pintu kayu itu tertutup dengan debuman pelan, menyisakan kesunyian yang mencekik. Emma bersandar pada daun pintu, merosot perlahan hingga terduduk di lantai yang dingin. Surat pengusiran di tangannya diremas kuat-kuat hingga membentuk gumpalan tak beraturan. Air mata yang sejak tadi ditahannya kini luruh, menganak sungai di pipi yang pias. Dunia seolah sedang berkonspirasi untuk meruntuhkan seluruh fondasi hidupnya dalam satu malam. "Ayah, Emma kangen." Dia merangkak pelan, terlalu lelah untuk melangkah. Begitu tiba di depan kamar Ayahnya, dia menatap ke arah kolong ranjang, tempat kotak kayu itu kembali bersembunyi di balik kegelapan. Ada magnet yang kuat dari sana, berbisik meminta pertanggungjawaban atas rahasia yang dipikulnya. Namun, raga Emma terlalu ringkih malam ini. Jiwanya telanjur lebam dihantam badai yang bertubi-tubi. “Besok,” bisiknya pada keheningan yang mencekam. “Besok aku akan siap.” Dengan sisa tenaga yang meredup, Emma merangkak naik ke atas ranjang tu
Terdengar suara helaan napas panjang dari seberang sana. Lalu beberapa detik kemudian— ‘Gue cuma nggak suka ada yang diam-diam ambil foto lo, terus berfantasi macam-macam saat lihat senyum lo.’ Kalimat itu keluar pelan. Nyaris seperti bisikan. Namun, cukup jelas untuk membuat Emma terdiam. ‘Aku nggak suka lihat orang lain dekat sama lo.’ Emma memejamkan mata. Lagi-lagi. Kalimat seperti itu. Posesif. Kekanak-kanakan. Membingungkan.Dan entah kenapa membuat hati Emma berbunga-bunga dan hangat. ‘Raka, kita baru kenal, terus ciuman sekali.’ ‘Gue nggak peduli.’ Emma langsung kehilangan kata-kata. Raka memang selalu seperti itu. Kalau sudah bicara, logika sering kali ditinggalkan di belakang. ‘Aku bukan milik siapa-siapa.’ ‘Berani lo bilang gitu setelah first kiss kita?’ Suara Raka kembali meninggi. ‘Dengar dulu …’ ‘Nggak! Lo yang dengarin gue.’ ‘Ok-ok,’ ucap Emma mengalah. ‘Emma, gue pengen lo jadi milik gue. Hanya gue seorang. Dari ujung kaki sampai ujung rambut, semua
Malam sudah larut ketika Emma akhirnya tiba di rumah kontrakan kecil yang selama ini menjadi tempatnya berteduh dari kerasnya dunia. Gang sempit itu nyaris kosong. Bahkan suara kendaraan lewat pun hampir tak terdengar. Hanya lampu jalan yang berkedip malas dan suara jangkrik yang bersahutan dari balik semak liar. Emma berdiri beberapa saat di depan pintu. Tangannya masih menggenggam kunci. Namun, entah kenapa, kakinya terasa berat untuk melangkah masuk. Rumah kontrakan itu sama seperti biasanya. Tidak ada yang berubah. Dinding kusam. Pagar yang sedikit berkarat. Dan pot bunga pecah yang sengaja ia susun rapi agar tetap terlihat cantik. Semuanya masih seperti dulu. Hanya dirinya yang berbeda. Emma melepas sepatunya pelan. Percakapan dengan ayahnya di rumah sakit terus berputar dalam kepala. ‘Emma ...’ Suara Ayah terdengar lemah sehingga membuat dada Emma sesak. ‘Ayah jangan banyak bicara dulu." Namun, ayahnya justru menggenggam jemarinya lebih erat. ‘Kamu
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviewsMore