Empat puluh tiga peti memenuhi halaman depan kediaman Guo seperti barisan tentara bisu yang baru saja mendarat dari medan perang asing.Tidak ada yang menyentuhnya.Tidak ada yang berani membuka.Para pelayan berdiri dalam formasi kaku, mata mereka mencuri-curi pandang pada benda-benda asing itu. Udara pagi yang semula segar kini terasa berat, dipenuhi aroma kayu tua, kulit hewan, dan sesuatu yang lebih tajam: ambisi.Peti-peti itu beragam, masing-masing menceritakan asal-usulnya sendiri. Ada yang terbuat dari kayu eboni hitam mengilap, menyerap cahaya matahari alih-alih memantulkannya. Ada yang dilapisi kulit buaya kasar, dan beberapa lainnya dihiasi ukiran emas di sudut-sudutnya yang berkilau menantang.Di tengah-tengah kekacauan visual itu, satu peti paling besar diletakkan sebagai pusat gravitasi. Segel lilin merah di atasnya dicap dengan lambang naga emas—simbol kekuasaan yang tidak bisa disalahartikan.Krek.Salah seorang penjaga, didorong oleh rasa ingin tahu yang mengalahka
Baca selengkapnya