Anindya menarik napas panjang sebelum akhirnya melangkah menuju Arkana. Setelah beberapa hari tidak bertemu, akhirnya kesempatan itu datang. Ia tidak ingin menyia-nyiakannya.Arkana sedang berdiri bersama beberapa orang dari kalangan bisnis keluarga Pratama. Wajahnya terlihat tenang seperti biasa. Dari luar, tidak ada yang akan menyangka bahwa beberapa hari sebelumnya mereka meninggalkan satu sama lain dalam keadaan marah.Anindya berhenti beberapa langkah darinya."Arkana."Arkana menoleh. Tatapan mereka bertemu. Untuk sesaat, Anindya merasa sedikit gugup.Namun Arkana hanya mengangguk. "Anindya."Tidak dingin. Tidak pula hangat. Hanya biasa. Sikap itu justru membuat Anindya semakin ingin segera berbicara dengannya."Aku ingin bicara," kata Anindya tanpa basa-basi. "Ada apa?"Anindya hendak menjawab ketika salah seorang pria di samping Arkana tiba-tiba menyapa."Arkana, lama tidak bertemu."Arkana mengalihkan perhatian kepada pria tersebut. "Oh, Pak Adrian."Keduanya kemudian berbic
Magbasa pa