Begitu kata-kata Anindya jatuh di udara, halaman sekolah yang tadi sudah sunyi menjadi semakin hening. Beberapa siswa menatapnya seolah baru saja melihat orang gila, bahkan Rafael yang biasanya penuh percaya diri terlihat membeku di tempat. “Mulai hari ini... tolong biasakan dirimu membelaku.” Kalimat itu terdengar terlalu intim untuk diucapkan kepada pria yang baru saja pindah sekolah dan bahkan belum saling mengenal. Terlebih lagi, pria itu adalah Arkana Pratama, putra tunggal keluarga Pratama Holdings. Siswa pindahan misterius yang datang dengan kursi roda, tatapan dingin, dan reputasi tak mudah didekati.Anindya di kehidupan pertama bahkan tak pernah menoleh padanya di hari ini. Kini ia justru berdiri sangat dekat dengan Arkana. Arkana menatapnya datar selama beberapa detik, tatapan yang tajam, tenang, dan seolah bisa membaca isi kepala orang lain. “Aku tidak punya kebiasaan membela orang asing,” katanya akhirnya, suaranya rendah dan dingin. Anindya tersenyum. “Kalau begitu
Last Updated : 2026-04-26 Read more