Cahaya matahari pagi yang pucat menembus tirai sutra Paviliun Mawar, menyinari debu-debu yang menari di udara bagaikan partikel emas yang terombang-ambing tanpa arah. Namun, kehangatan fajar yang mulai menyelimuti ibu kota kekaisaran itu sama sekali tidak mampu menembus dingin yang mengendap jauh di dalam tulangku. Dingin ini bukan berasal dari embun pagi, melainkan sisa-sisa energi kutukan yang membeku, menunggu pemicu untuk kembali berkobar. Aku duduk diam di depan meja rias dari kayu mahoni berukir, menatap bayanganku sendiri pada permukaan cermin perak yang jernih. Sosok di dalam cermin itu terasa asing. Mataku yang biasanya memancarkan ketenangan palsu seorang bangsawan, kini tampak lebih tajam, berkilat dengan insting bertahan hidup yang liar. Namun, aku tidak bisa membohongi diriku sendiri jika ada gurat kelelahan yang samar namun mendalam di bawah kelopak mataku, sebuah tanda nyata tubuh Lavinia ini sedang digerogoti dari dalam. Di bahu kiriku, tersembunyi di
Read more