"Sah!"Kata itu menggema di seantero hall mewah yang sudah dipersiapkan, diikuti seruan syukur dari para saksi dan tamu undangan. Namun bagi Btari, kata itu terdengar seperti bunyi palu hakim yang menjatuhkan vonis penjara seumur hidup. Di bawah riasan pengantin Jawa yang sempurna, setetes air mata jatuh tanpa bisa ia bendung, membasahi pipinya yang dingin. Ia merasakan nyeri yang teramat sangat di ulu hatinya. Di hari yang seharusnya menjadi momen sakral ini, ia berdiri seorang diri. Tidak ada Ibu yang memeluknya, tidak ada adiknya yang menggoda—meskipun ia tahu Ibunya sering bertindak tak tahu diri dengan terus menuntut uang, dan adiknya yang kerap bertindak semaunya sendiri, namun kehadiran mereka tetaplah sebuah jangkar yang kini terputus. Ia merasa seperti yatim piatu di tengah kemegahan yang palsu ini."Angkat kepalamu, Btari," bisik Ararya dengan nada rendah yang tidak terbantahkan. Suaranya dingin, namun ada tekanan kuat saat ia menyentuh dagu Btari, memaksanya untuk menatap
Last Updated : 2026-05-10 Read more