“Nah, begitu cara nulisnya, jadi nanti Ibu guru di sekolah mudah baca tulisan, Non Ayas, kalau setiap katanya ada jarak,” ucap Belvara ketika menemani Ayas mengerjakan PR.Ayas tersenyum. “Udah, ya, Tante belajarnya, Ayas capek…” anak itu merengek, menempelkan dagu di meja belajarnya.Belvara menghela nafas. “Ya sudah, kita istirahat dulu, ya. Nanti lanjut lagi, oke?”Ayas menggeleng. “Udah aja, Tante.”“Non Ayas harus buktiin sama Papap dan Omah kalau Tante bisa nemenin Non Ayas, kalau Non-nya males ngerjain PR begini, gimana kalau Papa gantiin posisi, Tante? Jadi, Non harus semangat.”“Jangan , Aku gak mau pengasuh baru, sebelum Tante peli jadi Mama Aku.”“Itu gak mungkin, Non, Tante gak setara sama keluarga, Non.”“Setara itu apa, Tante?”Belvara mencoba berpikir, mengerutkan alisnya—-mencari kata yang bisa dipahami anak lima tahun ini.“Setara itu sama, Papa Non Ayas kan pemimpin, jadi Mama Non nanti harus yang bisa memimpin juga, sedangkan Tante, cuma pengasuh. Jadi gak bisa,” je
더 보기