Belvara memijat pelipisnya pelan, menatap pada buku catatan hutang yang harus segera ia lunasi secepatnya. 'Gimana cara lunasinnya ini?' Ia menghela nafas, berharap hembusan nafasnya sedikit melegakan dadanya yang terasa sesak karena himpitan keadaan. Jika perempuan lain seusia Belvara sedang menikmati masa mudanya, memikirkan hari esok akan hangout di mana lagi, berbeda dengan Belvara, yang ia pikirkan justru besok harus kerja apa lagi agar sang buah hati tak kelaparan. Ketika kepalanya pening memeikirkan biaya hidup, ia di kagetkan dengan suara ketukan pintu yang syarat untuk harus segera di samabangi. Ia bergegas mendekat, dan membuka pintu. “Mana? Bayar sewa, udah kelewat bulan, santai-santai aja.” Bentak Tini, sang pemilik kontrakan. Belvara menunduk, ia tahu betul dirinya salah karena selalu telat membayar sewa rumah yang ia tempati saat ini. “Iya, Bu, Aku tahu, tolong jangan kenceng-kenceng, ya ngomongnya,” ucap Belvara lirih, sambil menempelkan telunjuk di ujung bi
Last Updated : 2026-05-01 Read more