Ketika penghuni kediaman itu masih terlelap tidur, langit di luar pun masih gelap, Belvara sudah bangun lebih dulu, ia sadar hadirnya disini pun tak diinginkan, dengan begitu ia harus sadar diri. Ia bereskan semua pekerjaan rumah, hingga tak ada lagi tumpukan cucian piring kotor di wastafel, dan semua pekerjaan rumah lainnya, sudah selesai Belvara kerjakan. “Loh, kamu ngapain?” tanya Ibu dengan alisnya yang sedikit bertaut. “Maaf, Ibu, bukan makaud lancang, Aku cuma—.” Kalimat belvara terjeda, ibu lebih dulu menyergahnya. “Jangan lakukan lagi! Kamu tamu disini, dan ini semua bukan tugasmu. Berperilakulah selayaknya tamu, ya.” ujar Amilah, dengan intonasi rendah dan ekspresi wajah yang datar, membuat Belvara sedikit bingung, apa sebenarnya Ibu Ibra benar-benar tak menyukainya? Belvara bukan ingin menarik perhatian, melainkan hanya sebagai balas budi karena sudah diperkenankan menginap di kediamannya walau semalam. “Kembali saja tidur, langit masih gelap, sebelum Kamu kembal
Read more