LOGINDemi kehidupan bersama sang anak, Belvara rela menjadi pengasuh anak Hagan—pria tampan tapi bermulut pedas. Suatu hari, dunianya berbalik saat anak perempuan Hagan tiba-tiba meminta Belvara menjadi ibunya. Belvara bimbang, terlebih saat Hagan seolah menyentuhnya malam itu. Apakah itu berarti lamaran Hagan padanya?
View MoreBelvara memijat pelipisnya pelan, menatap pada buku catatan hutang yang harus segera ia lunasi secepatnya. 'Gimana cara lunasinnya ini?' Ia menghela nafas, berharap hembusan nafasnya sedikit melegakan dadanya yang terasa sesak karena himpitan keadaan.
Jika perempuan lain seusia Belvara sedang menikmati masa mudanya, memikirkan hari esok akan hangout di mana lagi, berbeda dengan Belvara, yang ia pikirkan justru besok harus kerja apa lagi agar sang buah hati tak kelaparan. Ketika kepalanya pening memeikirkan biaya hidup, ia di kagetkan dengan suara ketukan pintu yang syarat untuk segera di samabangi. Ia bergegas mendekat, dan membuka pintu. “Mana? Bayar sewa, udah kelewat bulan, santai-santai aja.” Bentak Tini, sang pemilik kontrakan, dengan tatapannya yang mengintimidasi. Belvara menunduk, ia tahu betul dirinya salah, selalu telat membayar sewa rumah yang ia tempati saat ini. “Iya, Bu, Aku tahu, tolong jangan kenceng-kenceng, ya ngomongnya,” ucap Belvara lirih, sambil menempelkan telunjuk di ujung bibirnya. “Gak peduli! Pokoknya cari uang kemana kek, buat bayar!” Tini menatap nyalang Belvara dengan ekor matanya. "didkira gue gak butuh duit." “Aku udah usahain, Bu. Namanya juga Aku hidup cuma sama anak, gak ada yang bisa Aku pintain tolong dan andelin lagi, sabar sebentar lagi, ya, Bu.” “Minta sana sama gadunnya, gak mungkin janda muda kaya elu beneran hidup sendiri,” ucapan Tini merendahkan Belvara. “Astagfirullah, Bu, hati-hati, ya kalau ngomong, kalau saya beneran punya gadun, udah saya suruh buat ratakan tempat ini, toh ini bangunan liar,” cetus Belvara cukup tegas, tak bisa tinggal diam ketika ia direndahkan. Tini mengerling, mendorong pelan bahu Belvara dengan buku yang selalu ia selipkan di ketiaknya. “Gue kasih waktu sampai minggu depan, awas aja, Lu. Harus dilunasin, sekalian utang-utang Lu di warung juga!” Sepeninggalnya Tini, Belvara kembali menutup pintu rumah kontrakannya perlahan, pintu kayunya yang sudah lapuk, membuatnya harus menutup dengan sangat hati-hati. Belvara duduk dan menyandarkan tubuhnya di lemari pakaian, kemudian meraih sebuah bingkai yang ia simpan di atas lemari tersebut, ia menatap foto dirinya kecil saat bersama kedua orang tuanya, ia usap lembut foto itu dengan mata yang berkaca-kaca. 'Ibu… Ayah… andai kalian masih hidup, mungkin nasibku tidak akan sepahit ini.' Ia dekap foto itu, tak ada lagi yang bisa ia ajak untuk sekedar melepas beban di hatinya ketika ia merasa butuh pelukan, kecuali si kecil Juna yang kini sudah terlelap tidur. 'Aku harus cari kerja apa lagi, yang kerja bisa sambil bawa Juna?' Ia kerap menyesali pernikahannya, ia relakan masa muda dan cita-citanya hanya karena mengharapkan dicintai, begitu sunyi dan kosong hatinya, hingga ia mudah luluh dengan rayuan pria yang sebenarnya tak mencintainya, pria yang hanya menginginkan tubuh dan kegadisannya saja. Belvara dinikahi saat ia berusia 20 tahun kala itu, baru dua tahun lulus SMA, dan hanya diberi mahar 250 ribu, tentu tak apa bagi Belvara. Toh, ia tidak mengerti seharusnya berapa mahar yang pantas ia terima, yang ia inginkan kala itu, hanya keluar dari rumah Bude dan Pakdenya selepas akad terucap. Setelah kedua orang tuanya tiada, Belvara di asuh oleh mereka tanpa perhatian dan kasih sayang. “Belvara!” Pekikan kembali terdengar dari luar, kali ini siapa lagi? Apa si pemilik kontrakan kembali? Mendengar itu, Belvara refleks bergegas membuka pintu rumah kontraknannya. “Iya?” "Cepetan ganti pakaianmu yang lebih rapi, di balai desa sedang ada santunan untuk para janda dan anak yatim, kau ke sana lah, lumayan kan buat Juna.” “Beneran?” tanya Belvara memastikan. “Bener. Ayo biar Saya ikut juga.” “Loh, Bu Heti kan bukan janda?” Heti menyunggingkan bibirnya yang sedikit bergetar karena menahan tawa. “Tapi Saya anak yatim kan, Bel. Saya udah gak punya orang tua." Belvara terkikih geli. “Anak yatim kadaluarsa.” Heti tetangganya, kerap menjadi orang pertama yang mengulurkan bantuan untuk Belvara. Saat orderan yang harus ia antarkan sedang ramai dan Belvara kewalahan, Juna sering kali terpaksa dititipkan padanya. Untungnya, Heti selalu menerima itu dengan senang hati. Di antara banyaknya tetangga, hanya perempuan itu yang tulus membantu Belvara tanpa perlu diminta. Sambil berjalan beriringan dengan Heti, menuju balai desa, mata Belvara terbelalak, ketika mendapati seorang pria berperawakan tinggi, rambut klimis dan pakaian yang terlihat mengkilap saat terkena cahaya, keluar dari mobil Jeep Wrangler Rubicon berwarna putih. Setiap yang menempel di tubuh pria itu menyiratkan kemewahan dan sangat berkelas, Saking terpesona pada kesempurnaan pahatan wajah pria itu, Belvara nyaris lupa caranya berkedip. 'Dia keluar dari mobil sendirian?' Pertanyaan itu menghinggapi pikirannya. 'ah, sepertinya… beruntung sekali istrinya, memiliki suami setampan dan semapan itu.' Belvara bergumam. “Bu Heti, itu siapa.” Belvara menunjuk pada pria yang membuatnya terpesona. “Itu Pak Hagan, pemilik Yayasan Kinantan, dia kan yang jadi donatur santunan ini.” Otaknya mulai memikirkan, andai ia hidup lebih beruntung mungkin ia bisa saja dinikahi pria tampan, mapan dan dermawan seperti Hagan. “Dia duda.” Cetus Heti, begitu saja. Belvara menoleh cepat, saat ia mendengar bahwa pria paripurna itu tak beristri. “Wajar sih, Bu. Pria tampan dan mapan Kayak gitu, ganti-ganti istri, bisa jadi istrinya banyak, loh. Bu.” Mata Belvara tak sedikit pun mengalihkan pandangan dari Hagan yang hendak duduk di kursi yang sudah panitia santunan sediakan. “Pria begitu, istri yang dipamerin ke publik, pasti istri berkelas yang punya pendidikan tinggi berwawasan luas, kalo istri-istrinya yang disembunyiin mah, paling yang modal menggatal karena cantik dan bohaynya. Ani-ani lah kalau zaman sekarang mah disebutnya.” Heti menimpali. Belvara dan Heti terkekeh bersamaan. Sejenak, ia bisa melupakan pahitnya hidup, dan getirnya keadaan yang harus ia jalani. 'Duda? kok bisa pria setampan dan semapan itu duda?' Belvara menghela nafas sejenak. 'pasti sudah banyak perempuan yang mengantri buat jadi pasangannya.' Dahi Belvara berkerut dalam karena memikirkannya. 'Loh, apa yang Aku pikirkan?' Belvara masih menatap ke arah Hagan tanpa berkedip, sampai pria itu tiba-tiba menoleh lurus ke arahnya. ***Masih dengan memegangi gagang pintu, Belvara berpikir untuk mencari alasan yang masuk akal agar Ayana percaya. “Maksud Non Ayas, tadi kita lagi main Mama-mamaan dan Saya Mama dari boneka yang lagi di mainin Non Ayas,” jelas Belvara berdusta.Dan Ayas pun menutup mulutnya, ia sadar sudah salah memanggil Belvara di depan Ayana.Di sana terlihat Miranti pun menghampiri Ayas, dan merangkul cucunya itu. “Ayas, Kamu boleh kok panggil tante Ayan ini Mama, karena sebentar lagi juga dia akan jadi Mama Kamu.”Ayas menatap Ayana lekat-lekat, dengan wajah datar tak menampilkan ekspresi apapun. “Aku udah punya Mama, Kok Oma.”Miranti tertawa sumbang. “Kamu memang belum mengerti, Sayang.”“Udah lah, Bu. tidak perlu memaksakan Ayas, nanti pun dia akan ngerti sendiri, timpal Ayana. “Tapi, Bu, setelah Aku resmi jadi istri Mas Hagan pengasuh itu biar diberhentikan saja.”“Loh, kenapa? Dia bisa bantu urus Ayas kalau Kamu repot sama kerjaan.”“Aku kurang nyaman sama dai, Bu. yang ada nanti Ayas akan mala
Pintu itu pun dibuka Ayas dan anak itu sedikit mematung di ambang pintu. “Loh, Papa gak ada?”“Mungkin Papa sudah berangkat,” jawab Belvara seraya menenangkan. “Ayo ganti baju dulu.”Pintu kamar Hagan kembali Ayas tutup perlahan, bibir anak itu sedikit meruncing. “Kok, Papa berangkatnya gak pamit dulu sama Ayas?”“Ada yang perlu segera di kejakan, mungkin.” Dalam hati Belvara pun penuh tanya, kemana sebenarnya Hagan? Apa polisi membawanya saat langit bahkan masih gelap? Seperti buronan saja. Atau sebenarnya kesalahan Hagan cukup banyak? Hingga polisi berjaga saat langit masih gelap?Setelah mengganti seragam sekolahnya yang sempat ia kenakan tadi, Ayas kembali mengenakan pakaian santai rumahan, bermain slime bersama Belvara.Meski ia sedang menemani Ayas Bermain namun pikirannya seolah terus bertanya kemana Hagan? Apa iya di kantor polisi atau ada di kantor yayasan? Hingga ia menatap kosong slime yang ia remas-remas, tak mendengarkan Ayas mengoceh.“Ma, ke kantor Papa yuk.” Ajakan A
Dua polisi duduk di ruang tamu dengan Hagan di hadapannya, polisi itu memperlihatkan bukti yang sudah menyeret nama baiknya. “Ini video seorang remaja yang mengaku pernah jadi korban Bapak.” polisi itu memutur layar ponselnya ke arah Hagan.Hagan menatap layar ponsel itu dengan tatapan tajam, terlihat rahangnya kaku, cengkeraman tangannya di ponsel semakin kuat.“Ini tidak benar, Pak. bahkn Saya tidak mengenal anak itu.” pekik Hagan dengan intonasi tinggi.”Belvara duduk di kursi belajar kamar Ayas bisa mendengar itu, dan tepat suara tinggi Hagan itu terdengar oleh Ayas yang baru saja keuar dari kamar mandi setelah membersihkan diri. “Papa kenapa itu, Ma?” “Bukan apa-apa, ayo sini pakai bajunya.” Belvara mengusap kepala Ayas yang masih basah dengan handuk lain yang tersampir di bahunya sejak tadi. Suara gaduh kembali terdengar, Ayas hampir saja membuka pintu kamarnya, namun Belvara lebi cepat meraih bahu anak itu, mengajak nya duduk di depan cermin untuk berdandan.“Belum nyisir,
Belvara dengan nafas yang masih tak beraturan, ia membersihkan diri, menggosok miliknya yang sedikit membengkak, permainan Hagan kali ini terlalu tergesa, membuat miliknya sedikit lecet, ia pun meringis saat air mulai mengguyurnya.‘Perih banget, jadi inget waktu main pertama kali di tempat camping, perihnya begini, aw…’ gumam Belvara.Di dalam kamar mandi ia menguping, meski tak terdengar jelas. Sampai kapan Miranti di sana? Ia harus segera kembali ke kamarnya, sebelum Tina bangun dan memberinya pertanyaan tidur dimana berulang kali, semakin sering kerabatnya bertanya seperti itu, tentu akan menimbulkan kecurigaan.Jantung Belvara seolah tak bisa dikoordinasikan, terus berdegup kencang, kedatangan Miranti yang tiba-tiba dan keadaan ia sedang bersama Hagan melakukan hubungan layaknya suami istri. Belvara pun mencari ponselnya, penasaran ingin tahu jam berapa sekarang?Tapi hawar-hawar terdengar Hagan dan Miranti masih berbicara, dan suara Miranti terdengar sedikit tinggi. Apa karena m
Hagan menginjak pedal remnya mendadak, seolah ia baru saja terhentak oleh pertanyaan Belvara. Ia pun menarik nafas dalam-dalam.Belvara membelalakan mata, menatap ke arah sang pengemudi. “Bapak kenapa?”Dengan wajah yang pucat pasi, ia menggeleng, tanpa menoleh ke belakang. “Gak apa-apa.”Belvara k
“Pak Hagan,” sapa Belvara ketika ia baru saja keluar dari lift dan berpapasan dengan Hagan di depan lift. Belvara sedikit menarik ujung jas Hagan.Hagan menoleh menatapnya nyalang. “Ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan Ayas?”Belvara menggeleng pelan, wajahnya pucat dan kaku, seperti baru saja menda
Setelah meletakan pakaian yang sudah ia pilih untuk Hagan, Belvara keluar dari kamar itu mengendap-ngendap, menyapu pandangan memastikan tidak ada yang memergoki. Dan syukurnya area rumah itu masih sepi. Namun di dapur, kehidupan sudah di mulai, beberapa pelayan sedang mempersiapkan bahan untuk sar
Lengan Hagan mencengkeram pinggang Belvara erat, begitu juga Belvara, lengannya ia kalungkan di leher sang suami, dan pria itu seolah tak mampu melepas pagutannya barang sesaat, mereka perlahan mundur menuju kamar mandi, dengan terus saling mencium satu sama lain, bertukar saliva dan saling menyesa






Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
reviews