“Pak.” Suara Belvara memecah keheningan di dalam mobil.“Iya?” Hagan sekilas menatap Belvara dari spion dalamnya dengan wajah datar, kemudian kembali fokus pada jalanan di hadapannya.“Kenapa Bapak bisa tahu kalau pelayan tadi yang mencoba sabotase, Aku?”“Banyak CCTV di rumah, yang Saya pasang secara sembunyi,” jawab Hagan santai.“Oh…” respon Belvara, tak ada pertanyaan lain setelahnya. ‘berarti benar kata Tina semalam.’Mobil itu pun belok perlahan, menuju jalan yang lebih kecil dan sedikit berbatu, pepohonan tinggi menjulang dan rindang sudah mulai terlihat.Tidak lama dari itu Hagan memarkirkan mobilnya, dan mematikan mesin, ia pun melepas seat beltnya, lalu menoleh ke belakang, pada kursi penumpang.“Kenapa Kamu diam saja? Sudah sampai, turun,” ujarnya.“Iya, Pak, sebentar, Aku geser dulu Non Ayas yang tidur, kalau di bangunkan kasihan.” perlahan, Belvara menarik tangannya yang tertindih Ayas, perjalanan yang terhadang ramainya kendaraan di sabtu siang, mengambil alih waktu tidu
더 보기