Dinginnya pendingin ruangan tidak mampu meredakan peluh dingin di tengkuk Senja Ayunda. Ia meremas ujung kain gamis peach yang dikenakannya, menunduk dalam di kursi meja makan berlapis marmer itu.Ruang makan keluarganya malam ini terasa bagai ruang persidangan. Di ujung meja, Narendra Adhitama duduk bersandar nyaman. Pria pewaris kerajaan properti itu mengenakan kemeja sutra hitam yang lengannya dilipat rapi, memamerkan jam tangan Rolex ratusan juta. Tawanya yang berat dan arogan menggema, berbaur dengan tawa Darmawan—ayah Senja."Jadi, proyek reklamasi teluk itu sudah pasti jatuh ke tangan perusahaanmu, Naren?" tanya Darmawan, matanya berbinar penuh kekaguman."Tinggal tanda tangan kontrak, Om. Nilainya tidak seberapa, hanya lima ratus miliar. Proyek kecil untuk pemanasan tahun ini," jawab Narendra merendah, meski senyum sombong di bibirnya jelas terpampang nyata.Ranti, kakak kandung Senja, memekik kegirangan. "Astaga, Naren! Kamu benar-benar luar biasa. Coba saja Senja dulu me
Read more