LOGIN"Kalian bisa merampas semua hartaku, tapi kalian tidak akan pernah bisa memaksa aku meninggalkan suamiku!" Bagi keluarga besarnya, Senja Ayunda adalah putri bodoh yang membuang masa depan demi menikahi Bumi, seorang kurir berjaket lusuh. Meski setiap hari dihina, diusir tanpa uang sepeser pun, hingga dipaksa menerima pinangan CEO arogan demi melunasi hutang keluarga, Senja tetap memilih bertahan hidup kelaparan bersama suaminya. Namun, di tengah semua air mata dan pengorbanannya, Senja tidak pernah menyadari satu hal: pria pendiam yang rela makan sisa kuah sayur bersamanya itu, menyembunyikan identitas kelam yang sanggup melenyapkan semua orang yang telah menghina mereka dalam satu malam. Siapa Bumi sebenarnya?
View MoreAngin laut yang kotor dan berdebu menampar wajah pucat Senja. Langkah kakinya tertatih, seluruh berat tubuhnya nyaris bersandar penuh pada lengan Bumi. Demam yang memanggang tubuhnya membuat pandangannya sesekali mengabur. Mereka baru saja berbelok dari gerbang pelabuhan, memasuki sebuah gang tikus yang diapit dinding gudang kontainer berkarat."Mas, gang ini sepi sekali," bisik Senja dengan napas putus-putus. Keringat dingin sebesar biji jagung membasahi keningnya."Ini jalan pintas tercepat ke klinik depan, Nja," jawab Bumi lembut. Tangan pria itu merengkuh pinggang Senja semakin erat. "Bertahanlah sebentar lagi."Langkah Bumi mendadak terhenti.Senja mendongak dengan susah payah. Di ujung gang yang sempit itu, tiga pria bertubuh kekar menghalangi jalan. Mereka mengenakan jaket kulit kusam, lengan baju yang digulung memamerkan tato kasar, dan salah satunya memegang sebatang balok kayu. Asap rokok mengepul dari mulut pria yang wajahnya dihiasi codet melintang."Mau ke mana, Kuli
Sinar matahari pagi menembus celah atap seng kontrakan, menusuk tepat di kelopak mata Senja. Wanita itu melenguh pelan. Kepalanya berdenyut hebat, seolah ada godam yang menghantam tengkoraknya berulang kali. Demamnya sama sekali belum turun. Seluruh persendiannya terasa ngilu, namun hawa dingin di sekitarnya memaksa Senja untuk meraba sisi kasur di sebelahnya.Kosong.Tidak ada kehangatan suaminya di sana. Hanya ada selimut tipis yang dilipat rapi.Kepanikan seketika menyengat dada Senja, mengalahkan rasa sakit di tubuhnya. Ia memaksakan diri untuk duduk, menahan pusing yang membuat seisi ruangan berputar. Tepat saat itu, pintu kontrakan diketuk pelan. Bu Darmi, tetangga sebelah kamarnya, melongok ke dalam membawa segelas teh hangat."Nja? Sudah bangun? Minum dulu ini," ucap Bu Darmi dengan wajah prihatin."Bu Darmi... Mas Bumi ke mana?" suara Senja parau, tangannya bergetar menerima gelas itu."Tadi subuh suamimu titip pesan. Dia pergi ke Pelabuhan Tanjung Priok," jawab Bu Darm
Ubin garasi yang sedingin es membakar separuh wajah Senja. Rasa beku itu menyengat kulitnya, memaksa kelopak matanya yang seberat timah untuk kembali terbuka. Ia tidak sepenuhnya pingsan. Demam tinggi mengunci saraf motoriknya, menjebaknya dalam kelumpuhan sementara, namun telinga dan matanya masih menangkap kengerian di depan sana dengan sangat jelas. Dari balik bayangan pilar, napas Senja tersengal. Pandangannya kabur oleh keringat dan sisa air mata, namun siluet suaminya terlihat memilukan. Bumi masih berlutut di atas marmer teras yang basah. Hujan gerimis terus menghujam punggung kokoh pria itu, sementara Sisca berdiri angkuh, melambai-lambaikan lembaran uang seratus ribu di udara. "Kamu benar-benar menginginkan uang ini untuk istrimu yang penyakitan itu?" Sisca merendahkan suaranya, memancarkan kepuasan iblis yang baru saja memenangkan pertaruhan. Senja menggigit bibir bawahnya hingga mengecap rasa amis darah. Mas, bangun. Aku mohon, bangun! batinnya menjerit meronta, namun
Udara malam berembus lewat celah dinding anyaman bambu yang lapuk, menusuk kulit Senja seperti ribuan jarum es. Di atas kasur busa tipis yang diletakkan langsung di lantai semen, wanita itu menggigil hebat.Senja membuka matanya dengan susah payah. Pandangannya berbayang, kepalanya berdenyut seolah dihantam godam berkali-kali. Napasnya pendek dan terasa membakar tenggorokannya sendiri. Demamnya tidak juga turun, justru semakin menggila seiring malam yang merangkak menuju dini hari."Mas... Mas Bumi?" panggil Senja dengan suara parau yang nyaris tak terdengar.Ia meraba sisi kasur di sebelahnya. Kosong. Hanya ada selimut tipis dan jaket seragam biru pudar milik suaminya yang sengaja ditumpuk menutupi tubuh Senja agar tetap hangat.Kepanikan perlahan merayap di dada Senja. Ke mana suaminya pergi di tengah malam buta dalam keadaan hujan gerimis seperti ini? Ingatan terakhirnya sebelum jatuh tertidur adalah wajah pucat Bumi yang menggenggam uang dua puluh ribu rupiah—sisa terakhir har
Taksi perlahan berhenti di depan pilar-pilar marmer raksasa Restoran Grand Pelita. Hawa dingin dari lobi restoran mewah itu berhembus keluar saat pintu kaca otomatis bergeser. Namun, hawa dingin itu tak sebanding dengan rasa beku yang menjalar di dada Senja Ayunda.Senja turun dengan langkah ragu.
Matahari Jakarta bersinar terik, memanggang aspal jalanan hingga hawa panasnya terasa menusuk kulit. Namun, peluh yang menetes di dahi Senja siang itu tidak sebanding dengan rasa gundah yang meremas dadanya sejak semalam.Senja mempercepat langkahnya menyusuri jalanan kawasan pergudangan. Di tanga
Denting garpu perak yang beradu dengan porselen mahal menggema di ruang makan bergaya Mediterania itu. Namun, bagi Senja Ayunda, suara itu terdengar seperti lonceng kematian bagi akal sehatnya.Napas Senja tertahan di tenggorokan. Matanya yang bulat dan bening menatap nanar semangkuk kecil kuah sa
Dinginnya pendingin ruangan tidak mampu meredakan peluh dingin di tengkuk Senja Ayunda. Ia meremas ujung kain gamis peach yang dikenakannya, menunduk dalam di kursi meja makan berlapis marmer itu.Ruang makan keluarganya malam ini terasa bagai ruang persidangan. Di ujung meja, Narendra Adhitama du
Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.