"Siapa, Mas, yang menelepon?" tanya Bintang begitu melihat Angkasa melangkah kembali masuk ke dalam kamar dari arah balkon."Kakek, Sayang. Beliau menelepon hanya untuk memintaku agar benar-benar menjagamu dengan baik di sini," jawab Angkasa sembari tersenyum, meletakkan ponselnya di atas nakas. Pria itu berjalan mendekat lalu duduk di tepi ranjang. "Kakek sangat menyayangimu."Bintang tersenyum tipis, mengusap perutnya yang masih datar dengan pandangan sendu. "Kakek menyayangiku karena aku sedang mengandung cicitnya, Mas."Angkasa tidak membantah, namun kilat matanya memancarkan ketegasan yang berbeda. Dia ikut mengulurkan tangan besarnya, menangkup perut Bintang lalu menunduk untuk mengajak jabang bayinya mengobrol, sebuah ritual baru yang tidak pernah absen dia lakukan."Jagoannya Papa, jangan nakal di dalam sana, ya? Papa mau pergi kerja sebentar. Awas saja kalau sampai membuat Mama sakit atau mual lagi... nanti malam Papa sodok kamu," bisik Angkasa dengan nada mengancam yang
Terakhir Diperbarui : 2026-06-12 Baca selengkapnya