로그인Malam itu Angkasa mengendap-ngendap masuk ke dalam kamar Bintang. Klik Begitu pintu terkunci, pandangannya langsung menyapu kamar tidur yang hanya diterangi oleh lampu tidur temaram di sudut nakas. Di atas ranjang itu, berbaring sesosok wanita dengan memeluk bantal guling dengan posisi meringkuk. ‘Sialan! Mau memeluk istri sendiri saja aku harus sekreatif agen intelijen,’ Angkasa merutuk dalam hati, menyunggingkan senyuman miring yang satir. ‘Kalau si brengsek Rendi itu tahu kalau wanita yang dia klaim sebagai istri adalah istriku, mungkin dia bakal langsung kena serangan jantung.’ Angkasa melangkah tanpa suara, melepaskan jam tangan mahalnya lalu meletakkannya di atas meja. Di bawah temaram lampu, siluet Bintang begitu menggoda. Daster tipis yang dia kenakan mencetak lekuk pinggulnya yang semakin matang. "Benar-benar membuat gila." gumam Angkasa. Aroma minyak telon bayi bercampur parfum vanila alami yang menguar dari tubuh Bintang langsung menusuk indra penciuman Angkasa,
Angkasa telah mengatur segalanya dengan sangat rapi melalui Jerry. Asisten setianya itu mengirimkan salah satu anak buahnya untuk menjemput Monic secara langsung menggunakan mobil, menyusun skenario palsu seolah-olah Rendi yang memberikan perintah tersebut karena sangat merindukannya. Tujuan utama Angkasa melakukan ini sebenarnya sangat sederhana, namun krusial bagi hatinya: dia sama sekali tidak sudi dan tidak akan membiarkan Rendi tidur bersama Bintang malam ini. Angkasa ingin mengalihkan seluruh perhatian dan gairah Rendi kepada wanita lain agar istrinya aman dari sentuhan pria brengsek itu. Malam harinya, aroma daging panggang yang diselimuti bumbu gurih menyeruak ke udara halaman vila, bercampur dengan tawa renyah Kakek Pratama yang tampak sangat menikmati liburan keluarga tersebut. Namun, di tengah keceriaan itu, ponsel Rendi yang diletakkan di atas meja bergetar hebat. Sebuah pesan dari nomor Monic masuk, menyatakan bahwa dia sudah berada di depan gerbang utama vila. Jant
Kepanikan yang mendalam membuat kekuatan Bintang mendadak meningkat.Takut kalau Rendi akan bertindak lebih jauh, dengan sadar Bintang mendorong dada bidang Rendi hingga pria itu kehilangan keseimbangan dan terjungkal ke belakang di atas ranjang."Bintang apa yang kamu lakukan!" teriaknya. "Maaf Mas, aku tidak sengaja." Elaknya. Sebelum Rendi bangkit, Bintang berjalan ke arah pintu. "Aku mau keluar, Mas! Di dalam kamar agak pengap, aku butuh udara segar!" seru Bintang dengan napas yang memburu, lalu secepat kilat memutar knop pintu dan bergegas melangkah keluar sebelum Rendi memaksanya lagi. Bintang berjalan cepat dengan setengah berlari menuju ruang tengah, tempat di mana Angkasa dan Kakek Pratama sedang duduk berbincang.Begitu melihat sosok Bintang yang datang dengan wajah yang sedikit pucat dan raut panik yang kentara, rahang Angkasa seketika mengeras. Matanya berkilat tajam, langsung tahu ada yang tidak beres."Kamu kenapa, Sa—eh, Bintang?" tanya Angkasa, hampir saja kelep
Di dalam ruang kerja megahnya, Delon mengamuk sejadi-jadinya. Dengan nafas memburu dan mata merah padam, pria itu menyapu bersih seluruh benda di atas meja kerjanya hingga hancur berantakan di lantai. “Brengsek!” Teriaknya.Dokumen, laptop, hingga vas bunga mahal semuanya hancur, menggambarkan kemurkaan sang pemilik yang baru saja kehilangan aset miliaran rupiah akibat gagal totalnya produksi massal yang dia lakukan.Ditambah lagi, setelah dicek ke apartemennya, Bram sudah menghilang bak ditelan bumi tanpa meninggalkan jejak kaki sedikit pun."Kurang ajar si Bram! Beraninya dia menipuku!" teriak Delon murka, suaranya menggema memenuhi ruangan CEO. Selama ini, hubungan gelap antara Bram dan Ibu Rahayu berjalan dengan sangat rapi dan tertutup rapat. Akibatnya, Delon sama sekali tidak mengendus adanya benang merah di antara mereka. Dia benar-benar mengira Bram adalah orang dalam Pratama Group yang murni membelot demi uang, tanpa tahu bahwa pria paruh baya itu hanyalah bidak yang di
Tepat seminggu dari pers yang dilakukan Delon, ramalan Angkasa terbukti.Pagi-pagi sekali, seluruh stasiun televisi dan media sosial dihebohkan dengan berita kegagalan total produksi massal yang dilakukan oleh perusahaan milik Delon. Saham mereka anjlok parah ke titik terendah dalam sejarah, memicu kebangkrutan massal yang sangat tragis.Di saat jam sarapan sedang berlangsung di ruang makan mansion utama, Kakek Pratama tiba-tiba datang dengan langkah tegap. Pria tua itu tertawa terbahak-bahak, raut wajah senjanya dipenuhi kepuasan yang luar biasa. “Ayah.” Nyonya Rahayu terkejut.Tak menggubris ucapan Rahayu, Kakek Pratama langsung duduk di kursi utama sembari membawa tablet miliknya. "Angkasa, kamu benar-benar luar biasa! Lihat ini, Delon resmi bangkrut hari ini!" seru Kakek Pratama dengan suara penuh kebanggaan.Angkasa yang sedang duduk di sebelah Bintang hanya menyunggingkan sebuah tersenyum tipis yang sangat tenang, seolah semua kehancuran itu hanyalah hiburan pagi yang biasa
"Kamu kenapa begitu marah saat mereka menegur istriku, Kak?" tanya Rendi menuntut penjelasan, menekankan kata istriku untuk menegaskan posisinya.Suasana di meja makan semakin mencekam. Bintang menahan nafasnya, mencengkram ujung daster hamilnya di bawah meja dengan cemas, takut jika suaminya kelepasan membongkar rahasia pernikahan mereka malam ini juga sebelum waktu yang direncanakan.Angkasa mengalihkan pandangannya dari Ibu Rahayu, lalu menatap Rendi dengan senyuman miring yang meremehkan. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan sangat tenang."Aku tidak suka ada keributan tidak penting di meja makan saat aku sedang menikmati makan malamku, Rendi," jawab Angkasa dengan suara bariton yang datar namun penuh penekanan. "Dan sebagai kepala keluarga di mansion ini, aku berhak menegur siapa saja yang merusak ketenangan. Termasuk Mama dan Shinta yang tidak tahu sopan santun mencemooh wanita hamil."Rendi mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja. Dia tahu persis Angkasa
Rendi perlahan menggeliat, berpura-pura baru saja terbangun dari tidur nyenyaknya. Pria itu menoleh ke arah Bintang dengan senyuman yang sengaja dibuat selembut mungkin, meskipun binar matanya memancarkan kepuasan yang licik."Pagi, Sayang," suara Rendi terdengar serak yang dibuat-buat. Dia sengaj
Setelah beberapa waktu Angkasa dan Rendi berangkat, Sinta dan sang Mama menyusun rencana licik mereka.Saat lampu-lampu mulai padam, mereka berdua beraksi, berjalan pelan menuju dapur. “Nyonya ingin membuat apa? Biar kami buatkan.” Kata salah satu pelayan. “Kami akan buat sendiri kamu tidur saja.
Suasana ruang makan mansion Pratama malam itu terasa begitu berbeda.Rendi benar-benar menjalankan aktingnya dengan sangat luar biasa. Di depan Sang Mama, Shinta, dan terutama di bawah tatapan tajam Angkasa, pria itu bersikap teramat manis kepada Bintang."Ini, Bintang. Makan yang banyak ya. Kamu
Jantung Bintang serasa melompat keluar. Dia di kamar dengan Angkasa dan di depan pintu Rendi memanggilnya.Dengan sisa tenaga yang ia miliki, Bintang mendorong dada bidang Angkasa, mencoba menciptakan jarak."Mas... tolong aku, maksudku, sembunyi di kamar mandi," bisik Bintang teramat lirih, matan







