共有

Siasat Licik

作者: CitraAurora
last update 公開日: 2026-06-16 10:13:40

Keesokan harinya, Ibu Rahayu langsung melancarkan siasat barunya. Tidak ingin tangannya kotor atau gerak-geriknya dicurigai, wanita paruh baya itu mencegat Maya di koridor sepi yang menghubungkan Paviliun utama dengan paviliun Angkasa. Dengan tatapan mata yang tajam dan dingin, Ibu Rahayu mencengkeram lengan Maya cukup kuat.

​"Maya, kalau kamu masih mau bekerja di mansion ini, kamu harus menebus kesalahanmu yang kemarin!" bisik Ibu Rahayu dengan nada mengancam.

"Iya Nyonya apa yang harus saya
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター
コメント (2)
goodnovel comment avatar
CitraAurora
eh angkasa aku ya kak
goodnovel comment avatar
Sari Aldia
sosweet banget kk angkasaku
すべてのコメントを表示

最新チャプター

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Bahagia

    Aww... Mas," keluh Bintang pelan, menatap Angkasa dengan tatapan cemberut.​Angkasa justru tertawa rendah, memeluk pinggang Bintang semakin erat. "Kenapa, Sayang? Pegal?"​"Kan sudah kubilang! Jangan berlebihan!" omel Bintang gemas, menepuk dada telanjang Angkasa. "Kamu benar-benar tidak meloloskan aku sedikit pun sampai subuh!"​"Aku hanya menepati janjiku, Nyonya Pratama," goda Angkasa, mengedipkan sebelah matanya. "Dan seperti yang kubilang, stamina suamimu ini tidak perlu diragukan."​"Dasar CEO tidak mau mengalah!" potong Bintang sambil tertawa kecil, melingkarkan tangannya di leher Angkasa dan menyandarkan dagunya di sana. "Tapi... terima kasih, Mas. Untuk segalanya."​Angkasa menatap mata Bintang yang kini bersih dari keraguan. "Aku yang harus berterima kasih, Bintang. Karena kamu sudah bertahan, karena kamu mau percaya padaku, dan karena kamu sudah melengkapi hidupku bersama Arka."​Oweee! Oweee!​Suara tangisan mungil dari arah pintu balkon luar memecah suasana romantis merek

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Janii Tiga Bungkus

    ​Aroma kehangatan kayu cendana dan deburan halus ombak Uluwatu yang menerpa tebing malam itu menjadi saksi bisu meleburnya sisa-sisa cemburu di kamar utama vila. Senyuman kemenangan terukir jelas di bibir tegap Angkasa saat merasakan kedua lengan halus Bintang mengunci lehernya.​"Pikirkan sendiri?" Angkasa berbisik rendah tepat di depan bibir Bintang, mengikis jarak hingga napas mereka menyatu. "Jawabanmu barusan sudah lebih dari cukup, Nyonya Pratama."​"Jangan percaya diri dulu, Mas," gumam Bintang dengan napas yang mulai tersengal. Sorot matanya berbinar jahil di bawah remang lampu kamar. "Itu cuma jaminan supaya kamu tidak macam-macam lagi."​"Lalu mana tebusannya?" Angkasa terkekeh pelan. Tanpa memberi Bintang kesempatan memprotes, tangan kekarnya langsung menyambar pinggang Bintang, mengangkat tubuh ramping istrinya itu dalam satu gerakan mudah menuju tempat tidur berukuran king size di tengah ruangan.​Bintang tertawa pelan saat tubuhnya mendarat di atas kasur empuk yang tertu

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Mengambil Hati

    ​"Bintang, tunggu! Sayang, dengarkan aku dulu!"​Suara bariton Angkasa yang biasa menggema tegas di ruang rapat kini terdengar panik setengah mati. Langkah kakinya yang lebar bergegas menyusul Bintang yang sudah melangkah keluar dari butik dengan kecepatan penuh. Beberapa pelayan dan pengawal yang berjaga di luar langsung menunduk, pura-pura tidak melihat wajah bos besar mereka yang tampak frustrasi.​Bintang tidak memedulikan panggilan itu. Ia langsung membuka pintu mobil luks yang menjemput mereka, masuk ke kursi tengah, dan melipat kedua tangannya di depan dada dengan wajah sedingin es. Suster bayi yang sedang memangku Arka di kursi belakang seketika membeku, merasakan udara mobil yang mendadak drop hingga minus nol derajat.​Brak!​Angkasa menyusul masuk ke dalam mobil, menutup pintu dengan cepat, dan langsung memberi isyarat kepada sopir. "Jalan. Langsung ke vila."​"Baik, Tuan."​Mobil pun bergerak membelah jalanan Seminyak menuju Uluwatu. Di dalam kabin mobil yang luas itu, keh

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Merajuk

    ​Melihat reaksi pasrah sekaligus ledekan manis dari istrinya, pertahanan sombong Angkasa runtuh seketika. Tawa renyah dan merdu pria itu pecah, menggema hangat memenuhi ruang makan mansion mereka yang megah. Bintang pun tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut tertawa lebar. Ia menyandarkan kepalanya di bahu bidang Angkasa dengan perasaan cinta.Badai kelam kemarin kini benar-benar telah digantikan oleh kehangatan yang luar biasa. ​"Jadi, tidak perlu ke atas untuk kemas-kemas lagi, kan?" bisik Angkasa geli, mengecup pelipis Bintang yang masih bersandar nyaman di bahunya.​Bintang mendongak, lalu mencubit dagu suaminya pelan. "Iya, Pak CEO. Terserah perintah Bos saja. Tapi awas ya kalau sesampainya di Bali aku tidak menemukan baju yang cocok!"​"Jangankan baju yang cocok, butiknya sekalian akan aku belikan untukmu kalau kamu mau," sahut Angkasa penuh percaya diri yang langsung dihadiahi tatapan malas namun penuh cinta dari Bintang.​Siang harinya, persiapan keberangkatan yang serba

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Liburan

    ​Suasana meja makan pagi itu terasa berkali-kali lipat lebih hidup. Aroma sup ayam ginseng buatan Angkasa memenuhi ruangan, bersanding dengan tawa kecil Bintang yang akhirnya kembali terdengar.​Tak lama kemudian, suster bayi datang menggendong Arka yang sudah mandi dan beraroma harum minyak telon. Begitu melihat sang anak, Bintang langsung mengambil alih Arka ke dalam pangkuannya. Bayi mungil berusia dua bulan itu tampak mengerjap-erjap lucu, menatap lumat ke arah Angkasa seolah tahu bahwa pria di depannya adalah pahlawan yang telah menjaga tidurnya tetap aman.​"Sini, biar aku yang gendong Arka. Kamu habiskan dulu supnya selagi hangat," ucap Angkasa lembut. Tanpa canggung, pria itu mengambil alih Arka dari dekapan Bintang, menimangnya dengan satu tangan yang kokoh sementara tangan lainnya bergerak mengelus pipi gembul putranya.​Bintang tersenyum haru menatap pemandangan di depannya. Ketakutan bahwa Angkasa akan berubah seperti Rendi benar-benar terkikis habis tak bersisa.​"Bagaima

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Penebusan Dosa

    ​Di tengah tangis Bintang yang tumpah di dadanya, Angkasa mempererat pelukan. Tubuh tegapnya bergetar, menyalurkan rasa takut yang teramat sangat—bukan takut pada ancaman musuh di luar sana, melainkan takut kehilangan kepercayaan wanita yang menjadi separuh jiwanya ini.​Angkasa menangkup wajah Bintang dengan kedua tangannya, menghapus sisa air mata di pipi istrinya dengan ibu jari secara lembut. Sorot matanya begitu mengiba, sarat akan luka ketika menyadari dirinya disamakan dengan pria masa lalu Bintang yang bajingan itu.​"Aku mohon, Bintang... Jangan pernah samakan aku dengan Rendi," bisik Angkasa, suaranya parau dan bergetar hebat di depan wajah Bintang. "Rendi adalah masa lalumu yang bodoh karena menyia-nyiakan wanita sepertimu. Tapi aku... aku Angkasa Pratama. Aku sangat mencintaimu, Bintang. Hidup dan matiku hanya untukmu dan Arka. Demi Tuhan, aku tidak akan pernah mengkhianatimu."​Bintang menatap kedalaman manik mata suaminya. Tidak ada lagi keraguan di sana. Yang ada hanyal

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Ikut Ke kamar

    Malam itu ketika semua orang sudah tidur, Bintang membuka lemari, mengambil sebuah jubah tidur berbahan tipis yang selama ini tak pernah dia pakai.Itu adalah hadiah pernikahannya dulu, tapi sudah setahun berlalu baju tipis itu tak pernah dia pakai dan malam ini dia akan memakainya, bukan untuk Ren

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Aku Akan Membayarnya

    ​Sore itu, begitu Bintang menyelesaikan pekerjaan rumahnya, dia dipanggil untuk menghadap Ibu mertuanya dan Rendi. Mereka duduk dengan tenang, bahkan Ibu mertuanya menyunggingkan senyum yang terlihat sangat dipaksakan.​"Duduklah, Bintang," suara Ibu mertuanya terdengar lembut, sebuah nada yang ju

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Perlindungan Kakak Ipar

    ​Siang itu, ruang makan mansion keluarga Pratama terasa begitu mencekam. Denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring porselen terdengar seperti detak lonceng kematian bagi Bintang. Di ujung meja, Angkasa duduk dengan ketenangan yang mengintimidasi, sementara Rendi duduk di hadapannya dengan

  • Obsesi Liar Kakak Ipar    Kenapa Se-emosional ini?

    Byur!​Suara air yang pecah dengan keras itu membelah keheningan sore di kediaman mewah keluarga Pratama.Di tengah riak air itu, sesosok tubuh berjuang dengan dramatis, tangan-tangannya menggapai udara seolah sedang ditarik ke dasar neraka.​"Tolong! Tolong aku! Kak Bintang, kenapa... uhuk... tolo

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status