ANMELDENAngkasa telah mengatur segalanya dengan sangat rapi melalui Jerry. Asisten setianya itu mengirimkan salah satu anak buahnya untuk menjemput Monic secara langsung menggunakan mobil, menyusun skenario palsu seolah-olah Rendi yang memberikan perintah tersebut karena sangat merindukannya. Tujuan utama Angkasa melakukan ini sebenarnya sangat sederhana, namun krusial bagi hatinya: dia sama sekali tidak sudi dan tidak akan membiarkan Rendi tidur bersama Bintang malam ini. Angkasa ingin mengalihkan seluruh perhatian dan gairah Rendi kepada wanita lain agar istrinya aman dari sentuhan pria brengsek itu. Malam harinya, aroma daging panggang yang diselimuti bumbu gurih menyeruak ke udara halaman vila, bercampur dengan tawa renyah Kakek Pratama yang tampak sangat menikmati liburan keluarga tersebut. Namun, di tengah keceriaan itu, ponsel Rendi yang diletakkan di atas meja bergetar hebat. Sebuah pesan dari nomor Monic masuk, menyatakan bahwa dia sudah berada di depan gerbang utama vila. Jant
Kepanikan yang mendalam membuat kekuatan Bintang mendadak meningkat.Takut kalau Rendi akan bertindak lebih jauh, dengan sadar Bintang mendorong dada bidang Rendi hingga pria itu kehilangan keseimbangan dan terjungkal ke belakang di atas ranjang."Bintang apa yang kamu lakukan!" teriaknya. "Maaf Mas, aku tidak sengaja." Elaknya. Sebelum Rendi bangkit, Bintang berjalan ke arah pintu. "Aku mau keluar, Mas! Di dalam kamar agak pengap, aku butuh udara segar!" seru Bintang dengan napas yang memburu, lalu secepat kilat memutar knop pintu dan bergegas melangkah keluar sebelum Rendi memaksanya lagi. Bintang berjalan cepat dengan setengah berlari menuju ruang tengah, tempat di mana Angkasa dan Kakek Pratama sedang duduk berbincang.Begitu melihat sosok Bintang yang datang dengan wajah yang sedikit pucat dan raut panik yang kentara, rahang Angkasa seketika mengeras. Matanya berkilat tajam, langsung tahu ada yang tidak beres."Kamu kenapa, Sa—eh, Bintang?" tanya Angkasa, hampir saja kelep
Di dalam ruang kerja megahnya, Delon mengamuk sejadi-jadinya. Dengan nafas memburu dan mata merah padam, pria itu menyapu bersih seluruh benda di atas meja kerjanya hingga hancur berantakan di lantai. “Brengsek!” Teriaknya.Dokumen, laptop, hingga vas bunga mahal semuanya hancur, menggambarkan kemurkaan sang pemilik yang baru saja kehilangan aset miliaran rupiah akibat gagal totalnya produksi massal yang dia lakukan.Ditambah lagi, setelah dicek ke apartemennya, Bram sudah menghilang bak ditelan bumi tanpa meninggalkan jejak kaki sedikit pun."Kurang ajar si Bram! Beraninya dia menipuku!" teriak Delon murka, suaranya menggema memenuhi ruangan CEO. Selama ini, hubungan gelap antara Bram dan Ibu Rahayu berjalan dengan sangat rapi dan tertutup rapat. Akibatnya, Delon sama sekali tidak mengendus adanya benang merah di antara mereka. Dia benar-benar mengira Bram adalah orang dalam Pratama Group yang murni membelot demi uang, tanpa tahu bahwa pria paruh baya itu hanyalah bidak yang di
Tepat seminggu dari pers yang dilakukan Delon, ramalan Angkasa terbukti.Pagi-pagi sekali, seluruh stasiun televisi dan media sosial dihebohkan dengan berita kegagalan total produksi massal yang dilakukan oleh perusahaan milik Delon. Saham mereka anjlok parah ke titik terendah dalam sejarah, memicu kebangkrutan massal yang sangat tragis.Di saat jam sarapan sedang berlangsung di ruang makan mansion utama, Kakek Pratama tiba-tiba datang dengan langkah tegap. Pria tua itu tertawa terbahak-bahak, raut wajah senjanya dipenuhi kepuasan yang luar biasa. “Ayah.” Nyonya Rahayu terkejut.Tak menggubris ucapan Rahayu, Kakek Pratama langsung duduk di kursi utama sembari membawa tablet miliknya. "Angkasa, kamu benar-benar luar biasa! Lihat ini, Delon resmi bangkrut hari ini!" seru Kakek Pratama dengan suara penuh kebanggaan.Angkasa yang sedang duduk di sebelah Bintang hanya menyunggingkan sebuah tersenyum tipis yang sangat tenang, seolah semua kehancuran itu hanyalah hiburan pagi yang biasa
"Kamu kenapa begitu marah saat mereka menegur istriku, Kak?" tanya Rendi menuntut penjelasan, menekankan kata istriku untuk menegaskan posisinya.Suasana di meja makan semakin mencekam. Bintang menahan nafasnya, mencengkram ujung daster hamilnya di bawah meja dengan cemas, takut jika suaminya kelepasan membongkar rahasia pernikahan mereka malam ini juga sebelum waktu yang direncanakan.Angkasa mengalihkan pandangannya dari Ibu Rahayu, lalu menatap Rendi dengan senyuman miring yang meremehkan. Pria itu menyandarkan punggungnya ke kursi dengan sangat tenang."Aku tidak suka ada keributan tidak penting di meja makan saat aku sedang menikmati makan malamku, Rendi," jawab Angkasa dengan suara bariton yang datar namun penuh penekanan. "Dan sebagai kepala keluarga di mansion ini, aku berhak menegur siapa saja yang merusak ketenangan. Termasuk Mama dan Shinta yang tidak tahu sopan santun mencemooh wanita hamil."Rendi mengepalkan tangannya kuat-kuat di bawah meja. Dia tahu persis Angkasa
"Jadi, selingkuhan Mama sudah kabur?" gumam Angkasa dengan senyum sinis yang mengerikan."Iya, Tuan. Nyonya Besar terlihat sangat syok dan hancur setelah pulang dari apartemen mendiang papa anda tadi," lapor Jerry singkat.Angkasa menyesap kopinya dengan tenang. Sebenarnya, dia sudah lama mengetahui perselingkuhan Mama tirinya itu. Dia bahkan tahu bahwa Rendi bukanlah benih Papanya, melainkan anak haram hasil hubungan gelap dengan Bram. Namun, Angkasa memilih untuk diam, menunggu waktu yang paling tepat untuk meledakkan bom waktu yang sudah dia pasang. Bagi Angkasa, mengusir mereka sekarang terlalu ringan. Dia ingin membawa mereka terbang tinggi ke awan, lalu menghempaskan mereka ke dasar jurang yang paling dalam."Lalu apa rencana Anda selanjutnya, Tuan?" tanya Jerry."Biarkan saja dulu. Delon hanya tahu Bram, sementara Mama masih merasa aman. Biarkan dia bersembunyi dengan rasa takutnya," jawab Angkasa dingin.'Masih belum waktunya binasa, Ma. Nanti bila sudah tiba waktunya, han
Mendengar ancaman dingin Angkasa, Maya semakin cepat memungut pecahan kaca dengan tangan yang gemetar hebat sampai dia terluka karena pecahan gelas tersebut Awww..pekiknya pelan.Tanpa merasakan sakit di tangannya Maya terus memungut beling itu, darah segar terus mengalir tapi Maya terlalu takut b
"Oh Sayang, goyang lagi. Kamu pintar sekali memuaskan aku," bisik Rendi serak dengan mata terpejam, mendesah penuh nikmat ketika Monik yang berada di atasnya mengendalikan permainan malam itu.Rendi mencengkeram pinggang Monik, lalu dengan sedikit keras meremas pegunungan kembar wanita itu, membe
Setelah kalimat sindiran Angkasa meruntuhkan harga diri Maya, pria itu tidak membiarkan si pelayan bernapas lega. Angkasa mengalihkan pandangan dinginnya ke arah pintu. "Jerry, masuk," perintah Angkasa, suaranya terdengar dingin dan menakutkan membuat bulu kuduk Maya berdiri. Pintu ruang kerja
"Tidak bisa, Mas!" seru Rendi lantang, tidak memedulikan beberapa pasang mata pengunjung rumah sakit yang mulai menoleh ke arah mereka."Kamu sengaja, kan, memanfaatkan situasi ini agar Kakek melihatmu paling berjasa? Kamu mau menyandera istriku di paviliun pribadimu sampai melahirkan!"Ibu Rahayu







