"Bodoh sekali kamu, Ren? Asal kamu tahu, anak yang Monik kandung itu adalah anak pria lain!" Suara bariton Angkasa memotong keheningan dengan begitu tajam, bagaikan belati yang langsung menusuk tepat di ulu hati Rendi. Tawa tipis sang CEO kembali terdengar, dingin dan penuh kemenangan, meremukkan sisa-sisa pembelaan diri yang baru saja diteriakkan adik tirinya. Angkasa melangkah maju dua kali, merogoh saku dalam jasnya, lalu melempar sebuah map cokelat tebal tepat ke atas pangkuan Rendi yang masih bersimpuh lemas di lantai marmer. "Buka map itu, Rendi. Lihat dengan mata kepalamu sendiri seberapa berharga pengorbanan 'cinta' yang kamu agung-agungkan itu," perintah Angkasa dingin. Dengan tangan yang gemetar hebat, Rendi membuka tali pengikat map tersebut. Ibu Rahayu dan Shinta ikut menjulurkan kepala, dilingkupi rasa penasaran sekaligus firasat buruk yang kian pekat mematikan. Begitu map terbuka, tumpukan foto beresolusi tinggi berhamburan di atas lantai. Di dalam foto-foto
Read more