Zurich berubah ketika salju mencair. Lima kali musim dingin berlalu, lima kali pula Amara Salsabila mengubur nama lamanya dan lahir kembali sebagai A. CEO A Tech. Gedung kaca di tepi Limmat itu miliknya. Dibangun dari satu miliar uang talak Arka, ditumbuhkan dengan air mata, kode, dan dendam yang ia ubah jadi algoritma. Pagi ini, ruang rapat lantai 27 sunyi. Di layar besar, terpampang berita dari Jakarta: "Dirgantara Group Rugi 12 Triliun. Saham Terjun Bebas." Amara duduk di kursi kepala. Blazer putihnya rapi, rambutnya digelung tinggi. Tidak ada lagi Amara yang gemetar di ruang sidang. Yang ada hanya A, perempuan yang ditakuti bursa Eropa. "Bagaimana, Bu?" Kevin, CTO A Tech, menunjuk layar. "Apa kita masuk?" Amara menyesap kopi hitam. Pahitnya tidak seberapa dibanding pahit lima tahun lalu. "Belum." Amara meletakkan cangkir. "Tunggu dia lebih sekarat dulu." Dia. Satu kata itu cukup untuk membuat semua orang di ruangan paham siapa yang dimaksud. Pintu ruang rap
Read more