"Selamat datang, Tuan Arka. Semoga hari ini tidak terlalu menyakitkan," ujar Pak Mahesa sambil tersenyum tipis saat Arka memasuki ruang rapat. Pagi itu, gedung pusat Dirgantara terasa berbeda. Banyak tatapan mengikuti setiap langkah Arka. Beberapa karyawan yang dulu menyapanya kini memilih menunduk atau berpura-pura sibuk. Kabar tentang rapat evaluasi jabatan sudah menyebar ke seluruh perusahaan. "Aku masih hidup, jadi kurasa belum terlalu menyakitkan," kata Arka sambil menarik kursi. "Rapat belum dimulai," ujar Pak Bastian sambil tersenyum kecil. "Itu terdengar seperti ancaman," kata Arka sambil mengangkat alis. "Itu terdengar seperti fakta," balas Pak Mahesa sambil melipat kedua tangan. Arka duduk tanpa membalas lagi. Wajahnya tenang, tetapi dadanya terasa sesak. Ia tahu rapat hari ini bukan rapat biasa. "Semua peserta sudah hadir?" tanya Pak Mahesa sambil melihat sekeliling ruangan. "Sudah," jawab sekretaris sambil mengangguk. "Kalau begitu, kita mulai," kata Pak Mahesa sa
اقرأ المزيد