Serangan ribuan bilah cahaya yang tersisa di reruntuhan gunung itu terus menghujam pertahanan Long Tian. Setiap benturan menciptakan getaran yang merambat ke meridiannya yang sudah retak, memicu rasa sakit yang menyiksa hingga ke sumsum tulang. Namun, Long Tian tetap berdiri kokoh, meski napasnya terputus-putus. Ia tidak lagi memedulikan badai energi di sekitarnya. Fokus utamanya kini terpaku pada pintu putih yang berdiri tanpa cacat di hadapannya.Ia menarik napas panjang, mengumpulkan sisa tekanan aura yang tersisa, lalu mengalirkan energi kehancuran langsung ke telapak tangannya. Dengan satu dorongan penuh perhitungan, ia menghantam permukaan pintu tersebut.BOOM!Ledakan energi yang dihasilkan cukup untuk meratakan bukit kecil, namun pintu itu tidak bergeming. Tidak ada getaran, tidak ada retakan, bahkan tidak ada debu yang jatuh dari permukaannya. Energi yang disalurkan Long Tian seolah ditel
Read more