Di dalam ruangan yang diterangi cahaya redup dari kristal keabadian, suasana berubah menjadi sangat menyesakkan. Su Yan, yang biasanya berdiri dengan keanggunan seorang dewi yang tak tersentuh, kini mencengkeram botol berisi tetesan darah Qin Rou dengan jemari yang memutih. Udara di sekitarnya bergetar, menciptakan riak-riak distorsi yang merobek kain tirai di sudut ruangan.Bai Lian, yang masih terhubung melalui proyeksi dimensi, merasa seluruh tubuhnya ditekan oleh kekuatan yang tak kasat mata. Ia tidak mengerti. Bukankah ia telah menjalankan tugasnya dengan sempurna? Ia telah berhasil mencuri esensi yang diinginkan oleh tuannya. Namun, alih-alih pujian, yang ia rasakan hanyalah amarah yang mematikan."Siapa yang memberimu izin untuk menyentuh garis darah ini?" suara Su Yan tidak meledak, namun setiap suku katanya terdengar seperti guntur yang membelah kesadaran.Bai Lian menelan ludah, suaranya tercekat. "N-Nyonya, bukankah Anda membutuhkan kunci ini un
Read more